Ini Cemburu


Untuk seluruh rasa yang masih saja coba kamu perjuangkan padaku. Untuk seluruh perhatian yang masih saja coba kamu berikan agar kupercaya. Untuk seluruh ketulusan yang masih saja coba kamu yakinkan untukku. Untuk waktu yang kamu bagi bersama denganku di dalam hidupmu. Kamu ingin aku mengerti.

Bahwa ini cinta.

Dan ia milikmu.

Namun, untuk segala hal yang kamu dan dia bahas bersama. Untuk segala canda yang tidak juga dapat kumengerti dimana letak kelucuannya. Untuk segala obrolan yang masih di luar jangkauanku. Untuk segala hal asing itu yang tidak juga mampu kumengerti. Untuk chemistry yang kamu dan dia pertontonkan di hadapku.  Aku ingin kamu mengerti.

Bahwa ini cemburu.

Dan ia milikku.




Aktor



Kapan kamu merasa akan cukup dewasa?

"Kenapa kamu terus mempertanyakan kedewasaanku? Toh selama ini aku rasa aku sudah cukup mampu memuaskanmu"

“Bukan itu. Nyata hidupmu tidak pernah baik-baik saja. Hal-hal kecil ini....hal-hal sepele ini selalu mengganggu pikiranmu. Menguras emosimu. Menghancurkan kita.”

"Kamu mau rokok? Sebaiknya kamu ambil sebatang"

“Aku sudah berhenti. Jauh sebelum watakmu berubah menjadi semakin keras. Dan semakin tidak bisa ditebak. Terima kasih. Tapi sepertinya kamu sudah tidak lagi bisa membedakan mana yang masa lalu, mana yang sekarang”

"Hahahahahaaha... Kamu berubah? Oh iyaaa.. kamu berubah, sayang. Kamu kini telah semakin tua. Kamu tau, saat kita bertemu umurmu sudah 40. Dan wajar kini kamu sudah semakin tua. Aku selalu mampu membedakan, sayang. Masa lalu, kamu lebih hebat dari sekarang"

"Ini bukan masalah tua. Aku berhenti karena aku menyayangimu. Ingin hidup lebih lama bersamamu. Tidak ingin kamu sendirian terlalu cepat. Aku sangat ingin berhenti karena begitu mencintaimu."

"Baiklah. Sebenarnya apa sih yang kamu permasalahkan? Kartu kreditku yang selalu overlimit? Hobiku belanja yang semakin tak waras? itu? Kini kamu mulai hitung menghitung? Ah.. atau? aku yang tak ingin punya anak darimuDengar. Aku tak ingin menjadi sukarelawan yang mengandung anakmu dalam rahimku"

"Bukan itu."

"Lantas?"

"Hobi barumu.", setengah berbisik Andra menekan setiap katanya

"Yang mana? Bukankah hobiku selalu berganti setiap saat katamu. Hobi yang mana yang kau maksud?"         

"Main berondong." Ditatapnya lekat wajah wanita yang sudah 5 tahun dinikahinya. Dingin. Penuh amarah.

"Hahahahahaaha" Suara tawa Lisa parau. Akibat rokok yang terlalu sering dicumbunya.

"Sayang, aku hanya bermain. Tak pernah bersungguh-sungguh. Ah, kenapa itu jadi masalah sih buat kamu?"

"Apa aku pernah mempermasalahkan saat kamu bermain bersama duda-duda itu? Atau bule itu, siapa dia? Ah, iya, Wilson. Apa pernah?”

"Kamu selalu terlihat menggemaskan saat sedang marah, sayang. Ah sudahlah aku letih. Ayo kita istirahat saja, atau kau ingin bermain-main dulu denganku sebelum dengkuranmu terdengar?" Lisa mengerling nakal dan jemarinya mulai menjalari tubuh Andra.

"Menggemaskan?", dicengkramnya kedua pundak Lisa.

"Aku marah, Lisa! Demi Tuhan! Jauhkan tanganmu!" Ditepisnya tangan Lisa dan didorongnya tubuh istrinya itu ke tempat tidur.

"Pa. Cukup deh main sinetronnya. Apa iya setiap malam kita harus beradegan konyol seperti ini setiap menjelang tidur?" Sudahlah. Relakan masa-masa keemasan kita pudar. Sekarang kita tak lagi laku." Lisa mulai kehilangan kesabaran.

"Relakan?", Andra mendengus.

"Relakan, kamu bilang?" Kini ia mulai tertawa.

"Baik." Tiba2 tatapannya kembali tajam.

"Relakan ini semua. Pergi....pergi kau, perempuan jalang!"

Ditariknya tangan Lisa. Lalu, tanpa belas kasihan sedikitpun, diseretnya tubuh mungil Lisa.
Seperti tidak ada cinta di hatinya sebelumnya, Andra menghempaskan tubuh Lisa ke luar kamar.

"Pergi!"

Lisa mengaduh kesakitan karena tubuhnya diseret dengan biadab dengan suaminya sendiri. Lenguhan terdengar dari mulutnya. Lisa bangkit dan berdiri. Pergi dari apartemen ini. Kali ini keputusannya telah bulat untuk meninggalkan Pria gila yang terobsesi akan ketenaran masa lalunya. Lisa capek harus berakting tiap malam. Berakting tanpa kamera. Tanpa sutradara.

"Thomas. Malam ini aku ke rumahmu, ya. Aku tak tahan lagi dengan Andra" Lisa melangkahkan kaki menjauhi apartemen Andra. Ah.. setidaknya ia akan memulai hidup baru dengan seorang produser hebat.

Masih di kamar itu, di ujung tempat tidur, Andra menatap kosong ke arah jendela apartemennya yang ada di lantai 32. Kerlap-kerlip lampu kota menemani. Andra menghela nafas. Ditengadahkannya tangannya, mengusap wajah.Di sela-sela pikiran dan emosinya yang hancur berantakan, Andra meraih ponselnya. Terdengar nada sambung setelah ia memencet beberapa digit nomor.

"Halo." Samar, suara di seberang sana menjawab.

"Thomas, aku butuh kamu malam ini."



Tulisan kolaborasi Intan Khuratul Aini dan Desrian Harleni

Cukuplah


Pun sekuat tenaga kucoba lupa, tetap saja sakit rasanya. Nyelekit. Jika saja kamu tahu, maksudku, benar-benar tahu, untuk setiap perih itu, yang kucoba tahan sempurna. Aku tidak menyalahkanmu untuk itu. Kamu hanya manusia. Juga kesepian. Mungkin aku tidaklah cukup, untuk menahanmu. Mungkin. Aku sebenarnya tidak pernah benar-benar tahu, tidak cukup tahu, apa aku cukup berarti. Setidaknya di setiap pertengkaran kita, apakah cukup hanya aku. Walaupun sepi itu datang. Apakah cukup hanya aku.

Katakanlah aku memang menyakitimu. Ya. Kita memang lebih sering saling menyakiti, tapi tidak bisakah cukup sampai disitu? Jangan kamu tambahkanlah lagi dengan sabitan lain yang tidak kalah perih. Saat kukatakan jangan, dengarkanlah. Aku hanya seorang manusia yang sedang mencoba untuk berhati. Jadi, maklumi untuk setiap amarah yang membuncah. Aku sungguh baru saja merasakan, sulitnya berhati.

Jika matahari saja bisa jengah, apalagi kamu? Ya. Aku sangat memahami sulitnya kamu. Hanya saja, mungkin ini masalah hati yang tidak kunjung kuyakini, bahwa aku bisa. Mungkin saja aku mampu. Untuk mengerti, apa yang kamu perjuangkan adalah nyata. Dan pasti. Masih terlalu absurd untuk kubisa. Katakanlah aku hanya harus menerima. Tidak, itu katamu. Cukuplah aku menerima. Semua yang kamu beri. Cukuplah aku memasung kaki. Bersamamu. Agar aku tidak bisa melangkah. Kemanapun. Selain di sampingmu.

Tapi apa sekarang itu cukup? Jika perihnya begini nyelekit.

Apa cukup jika hanya ada aku?



Kelapa Muda Si Okto Nomor 10


Kamis lalu, setelah selesai dengan urusan tetek-bengek wisuda yang datangnya baru minggu depan, di saat saya merasa sangat lelah juga bau –harus mengantri tepat di bawah terik matahari yang menyebabkan badan saya keringetan juga hari yang sudah kesiangan dimana berarti wewangian yang saya pakai pasti sudah berkurang aromanya-, saya memutuskan menginginkan sebuah kelapa yang masih muda yang airnya bisa saya seruput untuk melegakan dahaga dan dagingnya yang masih lunak bisa saya ciduk untuk meredakan secuil rasa lapar saya yang membahana seantero perut.

Saat pantat saya sudah nemplok di kursi plastik berwarna hijau, seorang pria paruh baya menghampiri saya, menanyakan pesanan saya. Maklum, dia tidak hanya menjual kelapa muda, namun juga es campur, es dawet, es rumput laut, juga minuman menyegarkan lainnya.

Saya memesan kelapa muda tanpa tambahan sirup atau gula, hanya sedikit perasan jeruk nipis. Juga es batu terpisah agar bisa saya taruh sendiri sesuai selera. Setelah menunggu tidak lebih lama dari mengantri di KFC saat sedang jam makan siang, pesanan saya datang. Sebuah kelapa muda yang masih bulat, hanya bagian atasnya yang dipotong agar bisa diseruput airnya dan diciduk daging lunaknya, datang. Namun, bukan si Bapak yang mengantar pesanan saya, melainkan seorang bocah lelaki.  Seorang bocah lelaki memakai jersey merah tim sepakbola Indonesia. Di punggungnya tertera nama pemain asal Jayapura –Okto- dengan nomor punggung 10.

Mari saya ceritakan sedikit perawakan bocah lelaki ini.

Bocah ini berjenis kelamin laki-laki. Dari mana saya tahu? Jangan asal nuduh, saya nggak sampai menodongkan pisau dan memaksanya buka celana. Usianya mungkin 10 tahun, berkulit gelap, berkepala plontos, tinggi badannya kira-kira satu meter. Dia datang dengan berjinjit karena takut kepala yang dipegang dengan kedua tangannya itu tumpah. Mungkin sebuah kelapa untuk bocah berumur 10 tahun masih terbilang berat. Begitu dia sampai di meja saya, dengan hati-hati dia meletakkan kelapa muda itu. Perlahan. Lalu, setelah kelapa muda itu sukses didaratkannya di atas meja saya, tanpa melirik, dia langsung pergi.

Lagi, dia datang menghampiri meja saya, meletakkan piring tersebut, namun kali ini, sebelum dia pergi, dia melirik saya sekilas. Saya mengucapkan terima kasih, namun dia tidak membalas. Bahkan segaris senyum saja tidak saya dapatkan sebagai balasan.

Di sela-sela saya menikmati kelapa muda yang sudah saya perasi dengan jeruk nipis dan saya tambahkan sedikit es batu, saya memerhatikan bocah lelaki itu. Dia masih sibuk mengantar pesanan-pesanan pelanggan lainnya, masih tanpa senyum tersungging. Entahlah, mungkin ia hanya terlalu lelah harus membantu bapaknya berjualan. Saya masih terus mengedarkan pandangan mengikuti kemana bocah lelaki itu melangkah. Ada rasa yang beragam memenuhi rongga hati saya. Kagum, terenyuh, menyesal, mengutuk, memuji.

Kagum, untuk semangatnya mengantar berpuluh-puluh pesanan dengan sangat hati-hati ke setiap meja yang terisi.

Terenyuh, untuk anak seusianya dapat merelakan waktu bermainnya berkurang demi membantu sang ayah berjualan.

Menyesal, untuk saya yang sudah begitu manja selama ini.

Mengutuk, untuk saya yang selalu merutuk setiap Ibu meminta saya melakukan sesuatu. Bahkan, hanya untuk sekedar merapikan tempat tidur saya sendiri.

Dan memuji, untuk setiap keikhlasan tanpa senyum yang ia tunjukkan pada saya. Mungkin juga pada pengunjung lain.

Hari beranjak sore. Badan sudah sangat bau. Saya tahu saya harus pulang. Maka, saya bangkit dari kursi yang saya duduki, berjalan menghampiri si Bapak yang tengah membelah kelapa muda, menanyakan total yang harus saya bayar. Si Bapak kemudian meminta anaknya mengambil uang kembalian di laci gerobaknya. Saat saya menyerahkan selembar dua puluh ribu, lalu bocah lelaki itu menyerahkan selembar sepuluh ribu sebagai kembalian, saya mengucapkan lagi, “Makasih ya, Dek.”, dengan sejumput senyum, memasukkan uang kembalian ke dalam dompet. Tidak berharap.

Tanpa aba-aba, tanpa saya duga, segurat senyum tergambar di wajahnya. Lalu, dengan tatapan malu-malu dia berujar, “Iya.”

Ah, ntah kenapa, adem hati saya rasanya.


Dulu 28. Sekarang 30.


Well, sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis ngalur-ngidul kesana-kemari naik-turun gunung Kidul dengan kepala gundul dan perasaan amburadul.

Hari ini, saya niatnya mau ke rumah sahabat saya jam 9. Teng. Namun, apa daya kupu-kupu tak mampu kutangkap, saya ngaret setengah jam. Begitu nongol di rumah sahabat saya itu, dengan tampang sangar dia langsung berujar, “Heh, bilang jam 9!”, sambil tangan kanannya memegang gelas berisi ekstrajos. Dia sungguh terlihat seperti kuli-kuli di iklan itu yang menghiasi televisi di sela-sela sinetron Kupinang Kau Dengan Bismillah yang ditonton ibu saya di kala malam merajai hari dan remote tv dikuasai beliau.

Ya. Saya adalah korban tak kasat mata dari sinetron-sinetron yang dicekoki oleh Ibu saya lewat mata saya.

Lupakan itu.

Lalu, saya dan dua sahabat saya berangkat menuju kampus, RKU* 1, tepatnya. Untuk apa? Biasa, kuliah. Itu kan kerjaan mahasiswi baru angkatan 2011?

#dilemparin bata

Saya mau daftar untuk wisuda tanggal 24 besok. See? Akhirnya saya lulus juga! Hurrraaaay….!!!!

Maafkan, ini hanya euphoria sementara sebelum menghadapi realita setelahnya bahwa saya adalah pengangguran terbaru di tahun ini. Cih. Miris sekali.

Tapi ternyata, saya belum bisa mendaftar. Alasannya? Yah, itu cukup menjadi rahasia saya dan petugas itu. Cukup.

Jangan tanya lagi! Yang jelas saya punya uang. Juga selembar pas foto ukuran 4x6 yang menjadi syarat untuk mendaftar.

Akhirnya, karena ke-geje-an itu, saya dan dua sahabat saya memutuskan untuk duduk sejenak di kantin kampus. Sekedar menghilangkan penat sembari mengobrol. Sudah lama sekali rasanya ketika terakhir kali kami duduk bersama dan mengobrol soal ini-itu.

Ya. Mereka adalah sahabat saya semenjak di bangku SMU. Tepatnya sejak 2003. It’s been a long time that we’ve been together. Yup. I love them so.

Umur sudah 20-an. Sudah selesai kuliah. Pembahasan tidak akan jauh-jauh dari pernikahan, mahar, dan pekerjaan. Ah, pembahasan yang dulunya, tepatnya setaun lalu masih sangat-amat saya hindari, kini harus saya hadapi. Gimanapun, suka atau enggak. Waktu terus bergulir dan kita akan menua. Itu pasti. Maka, saya pun mulai mencoba menikmati pembahasan ini yang sudah sedari bertahun-tahun lalu selalu menjadi topik terhangat di antara sahabat-sahabat saya itu. Antuasisme yang luar biasa dari mereka di kala SMU, seingat saya, ketika membahas mengenai pernikahan.

“Aku di umur 23 pengennya.”, saya lupa siapa yang mengungkapkan itu, mungkin Fannia.

“Sama, aku juga pengennya di umur segitu.”, timpal Eva, mungkin.

“Aku 24 dong!”, celetuk Ika semangat.

Fannia udah. Eva udah. Ika udah. Dan jam istirahat masih lama selesai.

“Kamu, Len?”

“28”, santai saya jawabnya.

“Apa-apaan? 28 itu udah ketuaan.”

Lalu satu persatu mulai menasehati saya. Tepatnya menyadarkan saya karena mereka menganggap saya sudah tidak waras.

Lalu, waktu bergulir. Membawa kami ke babak hidup yang berbeda. Ke fakultas yang berbeda. Ke teman-teman yang berbeda. Hidup sudah tidak lagi sama. Tidak ada lagi PR yang bisa saya salin atau jawaban ulangan yang bisa saya contek.

Tiba-tiba, kami sudah duduk disini, saya lupa dimana tepatnya. Mungkin di dalam mobil Fannia saat itu. Yang jelas kami membahas ulang topik itu. Pernikahan dan umur.

“Ah, aku kayaknya nggak mau kalo 24. Kecepetan. Ini aja baru selesai kuliah. Kan pengennya kerja dulu, nikmatin duit sendiri dulu. Kalo udah puas, baru mikirin married. Kayaknya 26 atau 27 deh.”, sahut Eva  di kala itu.

“Iya, Va, aku juga deh kayaknya. 26 pas itu. Ini kan masih 23 dan baru tamat, abis ini cari kerja. 3 taun dirasa cukuplah untuk nikmatin waktu sendiri.”, Ika menimpali.

“Fannia juga. Tapiii…masih pengen sih nikah muda.”

Lampu lalu-lintas berganti merah. Fannia menginjak pedal rem. Mobil berhenti. Fokus mereka terpusat, ke arah saya. Dunia terasa akan kiamat.

“Kamu…Len?”, saya lupa siapa yang bertanya, namun ada penekanan di setiap katanya.

“30”

“Naik lagi?”, Fannia histeris.

“Len, 28 aja, kenapa?”, Ika membujuk.

Eva geleng-geleng pasrah.

Saya? tersenyum simpul sambil memandang ke luar jendela mobil.

Lalu satu persatu dari mereka mulai menasehati saya lagi. Tepatnya MEMAKSA saya untuk sadar dari ketidakwarasaan yang menurut mereka semakin parah saya alami.

Matahari begitu terik dan banyak kendaraan lain berseliweran.


Inti dari tulisan ngalur-ngidul ini adalah:
“Marilah telat menikah.


*Ruang Kuliah Umum



Hujan Kali Ini


Hujan. Masih teringat jelas di benak saya, kala kecil dulu. Hujan adalah euphoria untuk dinikmati bersama kedua abang saya. Ya. Apalagi kalau tidak berlari-lari di bawah guyuran hujan –mandi hujan, begitu disebutnya, berguling-guling di kubangan air hujan –main becek, begitu istilahnya. Hujan dapat menjelma menjadi rasa suka cita dan senyum selebar lapangan bola karena ternyata hari ini tidak perlu ke sekolah.

Namun, pernahkah hujan dianggap berkah yang disambut dengan rasa syukur dan kegembiraan yang tiada tara di usia seperti ini? Di saat beban pikiran semakin menumpuk, masalah yang datang tidak lagi sekedar bisa diselesaikan dengan sebuah kata “maaf” atau dilupakan begitu saja. Hujan bukan lagi sebuah euphoria yang diiringi teriakan kegirangan.

Hujan dapat menjadi alasan untuk sesal yang tiba-tiba mencuat karena janji yang tidak bisa dipenuhi.

Hujan dapat menjadi emosi mengupat-merutuk-memaki karena planning yang sudah diatur sedemikian rupa berantakan jadinya.

Hujan dapat menjadi cemas-resah-gelisah karena tidak dapat berjumpa dengan kekasih.

Bahkan belakangan, hujan dicurigai menjadi penyebab utama tingkat kegalauan seseorang. Baru gerimis saja sudah galau. Mengapa harus mengaitkan hujan dengan sebuah perasaan yang tidak jelas seperti itu? Ah, saya tidak ahli dalam menjabarkan hal itu.

Well, ini hujan. Saya sedang tidak memiliki janji dengan sesiapapun, sedang tidak emosi karena planning saya hancur berantakan, sedang tidak cemas karena tidak dapat berjumpa dengan kekasih. Bahkan, yang paling penting, saya sedang tidak galau.

Walaupun dari balik jendela, saya akan menikmati hujan kali ini, mengenang masa kecil saya. 

Tapi, somewhen, saya akan mengulanginya. Somewhen. With someone. :)



Sepiring Lontong Dan Sepotong Rindu

Aku merindukanmu. Tidak tahukah kamu? Ya. Kamu memang tidak tahu. Karena rinduku masih saja biasa. Sederet pesan saling berbalas. Sudah cukuplah. Tapi tahukah kamu, ini kali pertama aku merindukan seseorang seperti ini? Ah, aku rasa kamu juga tidak tahu. Karena lagi-lagi aku tidak berani mengungkapkannya. Rindu ini terbilang biasa. Sederet pesan saling berbalas. Sudah cukuplah.

Kadang, kuharap kamu tahu, tidak banyak yang kuminta saat aku merindu. Tidak perlulah sampai bertemu muka, rinduku belum sedahsyat itu. Tidak sehebat itu. Masih terbilang biasa saja. Aku hanya perlu kamu temani sekejap. Lewat sederet pesan saling berbalas. Juga kata sayang yang sering kamu lantunan. Cukup sederhana kan?

Namun, rindu yang biasa ini entah kenapa tiba-tiba berubah menjadi hambar. Ya. Aku tahu. Kamu tidak tahu. Karena tidak pernah terucap dari bibirku, menggema namamu, mengatakan aku merindukanmu. Wajar kamu meninggalkanku. Bukan salahmu.

Rindu yang hambar. Sepiring lontong yang berantakan. Aku sesenggukan. Bukan menggalau. Hanya merutuk, bahkan merindukanmu saja bisa sebegininya. Aku yang begitu sulit, atau rindu ini yang tidak pernah cocok denganku? Entahlah.

Hambar sudah. Hilang selera.

Maka, aku pun menyudahinya. Rinduku untukmu. Yang biasa saja ini. Terasa semakin biasa.

Dan aku semakin malu untuk mengakuinya.

Juga lontong yang mendadak ikut terasa hambar.