Tampilkan postingan dengan label Sketsa 30 Hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sketsa 30 Hari. Tampilkan semua postingan

Bukan Soal Nikahan

Kamu ketipu.

Menikah itu simple, prosesi adatnya yang njelimet. Dan saya sebenarnya ogah-ogahan untuk menikah dengan selebrasi menurut adatnya. Lalu teman saya malah bertanya, “Memang keluarga kamu punya satu adat yang dipegang?”

Pertanyaan yang sopan untuk dibelai pelan pipinya dengan kaki…

Saya sudah berumur 25 tahun. Umur di saat teman-teman sudah banyak yang menikah dan kantong sering tipis karena banyaknya kado pernikahan yang harus dibeli. Ini sungguh bikin nasib saya miris. Tapi yang membuat ngeri bukannya gaun yang akan dipakai ke acara resepsi, ataupun korset yang terpaksa dipakai untuk meratakan perut guna mempercantik bentuk tubuh dan gaun yang dipakai, tapi tidak lain dan tidak bukan adalah melihat mempelai wanita dengan baju adat lengkap dan make-up yang aduhai-aduhai-moleknya-wajahnya-kini. Kira-kira seperti itu.

Sekarang ini, kalau saya liat-liat sebatas mata saya memandang, gundukan di atas kepala pengantin wanita semakin tinggi saja. Yang paling hebat yang pernah saya liat ada 8 gundukan. Kenapa gundukan? Mari kita ganti dengan undakan. Jadi, 8 undakan. Lalu pengantin wanitanya belum sampai jam 12 sudah mimisan kemudian pingsan dengan sempurna.

Ahh…sungguh saya teramat-sangat ketakutan membayangkan gundukan eh undakan itu nangkring manis di atas kepala saya. Maka, saya sangat berharap di saat saya menikah nanti, akan ada orang kaya dermawan yang mengadakan acara nikah massal. Sungguh, saya adalah orang yang pertama akan mendaftar. Setelah ijab qabul, bisa langsung pulang dan tidur-tidur di rumah. Tidak harus mimisan, tidak harus pingsan. Dan yang paling utama, leher saya tidak akan patah.

Sekian isi kepala saya setelah melihat foto-foto resepsi pernikahan teman-teman saya yang sengaja diunggah di media sosial. Bukannya ngiri, saya malah ngeri.




P.S: Itu bukan foto temen saya. Kamu ketipu.

Menjemput Bahagia



Bahagia itu butuh egois. Memang harus ada orang yang merasa menderita di bawah kebahagiaan kita. Terlepas itu nyata atau tidak. Masalahnya sekarang adalah, untuk apa menjadi Lala di dalam sinetron Bidadari jika kebahagian yang dimaksudkan adalah menekan perasaan mengandalkan air mata?

Bahagia itu butuh perjuangan. Kadang memang caranya menyakitkan. Tapi ingatlah ada waktu sebagai penawarnya. Bahagia itu tidak dengan pengorbanan menusuk hati lalu menyayat sembilu, meringis pedih lalu menyudutkan diri. Jangan buang energi untuk ke semua sakit yang kamu tahu asalnya dari siapa.

Bahagia itu bukan menghamba-pasrahkan diri pada sosok yang dihormati. Bahagia itu ketika hati mampu menggerakkan senyum di bibir lalu berucap syukur ikhlas pada Ilahi. Jangan terlalu terpaku pada restu ataupun pengabdian diri. Jangan biarkan hantu masa lalu menekanmu hidup-hidup. Terus-menerus.

Ada saatnya kamu bangkit dari semua lumpur yang sengaja dibalutkan ke kulitmu oleh orang yang kamu hormati.  Kamu harus tahu saatnya memilih –di antara yang memberikanmu kebahagian sejati atau hanya semu. Jangan lagi mengintimidasi diri sendiri dengan segala kicau buruknya tentangmu. Kamu harus tahu, Ka, kamu cukup berharga untuk bahagia.

Iya, kamu, Ka. Sudah saatnya menjemput bahagiamu.


cukup_


Untuk satu titik berpendar ungu mengelabui hati. Ada banyak yang ingin tercerita padamu. Tercerita. Bukan mencerita. Atau bercerita. Aku ingin bersamamu menjadi segala ketidaksengajaan. Ketidaksengajaan yang disengajakan Tuhan untuk terjadi di antara kita. Aku ingin semuanya mengalir begitu, apa adanya, tidak perlu direkayasa. Tidak butuh disengaja.

Aku menginginkanmu untuk hadir di setiap lini hidupku. Tidak berbatas. Dan tidak terbatas. Apalagi membatas. Aku ingin segalanya serba kamu. Dimana aku bisa merasakan adanyamu di setiap lekuk jemari aku menyentuh sesuatu atau di setiap tarikan nafas meski kamu sedang tidak bersisian denganku.

Aku ingin sesederhananyamu dalam kerumitan hidupku. Di antara semua yang terjadi, aku ingin selalu merasai hadirmu ada disini. Meski tak nyata. Meski tak kasat mata. Dan meski sebatas mengangani saja. Meski apapun itu. Aku tidak akan mencelanya.

Merasa, dirasa. Terasa. Kadangnya tidak mampu, seringnya memang begitu. Aku. Kamu. Bukan jarak terbentang yang membenteng. Bukan pula rindu mencandu yang mulai meracuni darah yang menderu. Bukan. Tapi rasa. Rasaku yang tidak lagi bisa merasai, tangan ini milikmu, bibir ini untukmu, dan desahan nafas ini mensyarati namamu agar dapat terbuang.

Segala yang dulunya cukup. Segala yang sekarang tidak lagi cukup. Segala tentang kamu. Atau hanya tentang aku?

Aku tidak tahu…


Tolonglah Mengerti...


Seperti bekunya udara yang dihembuskan dari mulut saat shubuh menyambut. Seperti itulah perasaanku saat ini. Tidakkah kamu dapat merasa lagi? Semua memang telah kuanggap selesai. Tapi mimpi buruk itu belum juga berhenti. Aku butuh kamu. Butuh kamu untuk berjuang bersamaku. Melawan mimpi itu. Aku butuh lupa. Tapi tidak bisa serta-merta. Aku butuh waktu. Aku butuh proses. Dan aku butuh kamu ada.

Tolonglah untuk mengerti. Mengapa aku masih menatapmu curiga. Tolonglah untuk mengerti. Aku sangat ingin semua kembali. Dan tolonglah untuk mengerti, saat pagiku tidak baik-baik saja, jangan membungkamku dengan diammu. Khawatirlah sedikit. Atau aku harus terus mengiba betapa aku butuh perhatianmu? 


Kesunyian


Aku merasa ramai di tengah sunyi ini. Kala kayu-kayu yang menjadi pijakan kaki berderit-derit, di kala itu pikiranku semakin carut-marut. Hey, pernahkah merasa begitu bahagia di tengah sepinya manusia? Aku pernah. Dan baru sekali ini begitu terasa. Sakral. Saat yang ada hanya jeritan angin menggetarkan dedaunan mangrove, riak air yang tampak takut bergejolak lembut membiarkan sinar matahari menelanjanginya hingga ke dasar tanah.

Aku tahu, kesendirian haruslah dinikmati sendiri. Bukan berdua, seperti sepasang kekasih yang menjajarkan botol minuman dan berbungkus-bungkus makanan ringan di pinggir jembatan, duduk menghadap hutan mangrove sambil sesekali cekikikan dan sebatang rokok tak henti disesap oleh lelakinya. Aku tahu, mereka tidak mampu menikmati.

Aku menggeleng. Menghela. Mereka sungguh tidak tahu harta apa yang tersimpan disini tatkala hanya senyap saja bisa begitu berarti. Kubalikkan langkah, melewati lagi sepasang kekasih yang ternyata masih juga bertengger di pinggir jembatan rendah berdinding dedaunan mangrove bergerak-gerak riuh-rendah. Mereka masih terkekeh geli seperti menikmati sebuah candaan yang entah siapa yang melontarkan dan lelakinya masih menyesap rokok –mengepulkan asap yang segera hilang di antara sela-sela hutan.

Mereka kesini untuk melepas rindu.

Sedangkan aku? Menikmati sisa ketenangan sebelum akhirnya harus kembali ke kenyataan. Bahwa selembar foto dapat menceritakan berjuta cerita. Juga rahasia.


Sejenak





Mari sejenak berhenti menulis prosa. Karena saya sedang muak dengan kata-kata. Sedang muak dengan segala ungkapan cinta.

Maka, biarkan saya beristirahat sebentar sembari menarik nafas. Juga berharap, semua yang terjadi kemarin tidaklah nyata.

Untuk kalian yang terbiasa membaca setiap kata yang saya rangkai seolah sempurna, maaf. Tidak ada prosa kali ini. Saya butuh berhenti.

Berhenti


Maka, disinilah persimpangan kita. Sudah waktunya untuk berpisah –menjaraki mesra. Karena semua telah berbeda. Kamu tidak lagi sama. Bukan tidak lagi, namun ternyata. Asa yang terpecah berserak di hamparan kecewa. Tahu seperti apa rasanya? Saat tanyamu meragukan suasana. Hei, siapa kamu sebenarnya? Masihkah orang yang sama yang kucekoki cerita-cerita? Masihkah ia hafal bagaimana aku meraung menangisi segala masalah yang ada? Kenapa tanya konyol itu yang kamu lempar ke muka? Kenapa? Adakah pikiranmu menguasai logika? Atau memang selama ini kamu hanya berpura-pura?

Berpura-pura mengerti.

Berpura-pura memahami.

Berpura-pura berempati.

Ini sudah entah kali ke berapa kamu sukses memainkan lakon dungu mengejutkanku. Tiba-tiba aku dibuatmu tersentak seperti mati suri untuk beberapa waktu. Kamu begitu lihai mendalami peranmu, yang kadang membuat aku begitu mengagumi segala milikmu, yang kadang membuat aku meyakini kita ini semu.

Kita.

Aku merasa tidak ingin lagi menghabiskan kopi bersama. Di satu meja. Kepulan asapnya sudah tidak menyatu sempurna. Saat ia meluruh di udara. Sudah tak sama. Sudah tidak bisa. Sekian kali aku memaksa, tidak ada yang tertangkap di buku-buku jemari selain hampa yang senyata-nyatanya.

Aku benar-benar meyakini kini. Kita harus berhenti. Berhenti memaksa ini terus dijalani. Berhenti mendoktrin diri. Berhenti.

Maaf…tundukkan kepalaku mungkin tidak pantas mewakili. Tetapi hanya ini yang berani kuberi. Untuk terakhir kali.


Hey, Kamu


Hey, kamu…

Hari ini aku tidak meneriakkan rindu. Tidak memengakkan telingamu. Tidak mencampuri segala urusanmu. Hari ini aku…hanya menunggu. Sambil sedikit panik saat pesanku tidak mampu terkirim, kukira yang salah ponselku. Tapi ternyata memang sedang begitulah jaringan tadi waktu.

Hey, kamu…

Apa hari ini melelahkan bagimu? Kukira iya, mengingat begitu banyaknya yang harus kamu lakukan mengejar waktu. Pastilah peluh membanjiri tubuh. Pastilah lelah menyergap ragamu. Sembari aku terus meragu, apa kamu makan tepat waktu, apa tidak kecolongan shalatmu. Tapi biarlah kamu begitu dulu.

Hey kamu…

Iya, kamu. Merinduiku? Kurasa begitu. Karena sebentuk pesanmu masuk ke ponselku di kala sibukmu. Sebentuk pesan yang membuatku tahu, kamu mengingatku. Cukuplah seperti itu. Cukup membuatku tersenyum malu-malu menatap layar ponsel tepat di jam satu. Cukup membuatku bersemangat melewati waktu, mengerjakan ini-itu. Sembari berharap Tuhan menjagamu. Selalu.

Hey kamu…

Terima kasih dariku. Untuk cintamu.


Menikmati Waktu


“Hanya tersisa beberapa hari. Aku ingin menikmati waktu.”, katamu kemarin itu.

Pikiranku mendadak kosong. Besok hari apa? Aku bahkan tidak mampu mengingatnya. Besok apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak bisa mereka-reka. Tapi yang jelas, kamu disana ingin menikmati waktu yang tersisa sebelum akhirnya kembali ke ibu kota.

Ya. Menikmati waktu yang tersisa.

Aku juga. Dengan sebuah palu. Kupecahkan saja seluruh jam di dunia. Dengan korek api. Kubakar saja semua kalender di dinding rumah. Dengan pura-pura tidak mengingatmu. Kubenturkan saja kepala agar amnesia.


H-25


Ini Kamis? Kita tidak banyak berbicara hari ini. Namun merinduimu itu sudah menjadi hal yang gampang untukku. Mengingat bayangmu dalam jelas alam sadarku saja sudah bisa meluluhlantakkan  konsentrasi. Belum lagi jika harus merindui harum tubuhmu. Sudahlah, jangan membahas hal-hal itu. Perintilan-perintilan kecil itu…sepele namun memabukkan. Mabuk? Anggap saja itu pemilihan kata yang tepat.

Bagaimana kabarmu hari ini? Lelahku menghadapi segala hal baru di kota baru? Rindukah padaku dan kebiasaan kita? Tersenyumkan kamu saat mengingat kenangan kita? Tertawa kecilkah kamu saat mengingat hal-hal lucu yang pernah terjadi?

Saat aku menuliskan ini, kamu belum juga membalas pesan singkatku. Kantukku hilang. Dan menunggumu seperti menjadi sebuah keharusan bagiku.

Sudah terlelapkah kamu di malam selarut ini?


H-26


Tetap semangat, Lelakiku…

Aku yakin apapun yang terjadi padamu disana, tidak akan menyurutkan sedikit pun semangatmu untuk menyelesaikan semuanya. Aku yakin kamu bisa. Aku yakin kamu mampu. Karena apa? Karena kamu adalah lelaki pilihanku, the one and only. Aku memilihmu bukan tanpa alasan atau pertimbangan logis. Aku memilihmu dengan begitu banyak checklist. Aku menghitungnya secara kalkulatif, objektif, dan transparan. Aku mencoba realistis pada semua harapan.

Jika shalatmu rajin, doa-doamu tulus, Allah pasti menjanjikan yang terbaik untuk semua masalahmu. Percayalah. Kamu tahu mengapa aku begitu yakin? Karena aku selalu berdoa diberikan cinta yang tulus dari seorang lelaki yang penyayang dan sabar. Ia haruslah lelaki yang dapat menghormatiku sebagai perempuannya, yang dapat memberikanku rasa aman, juga nyaman, yang memberikanku keyakinan bahwa aku layak diperjuangkan, yang mati-matian berusaha dan membuktikan cintanya. Dan Allah mengirimmu dalam bentuk nyata –yang dapat kusentuh tidak hanya diangankan.

Tetap semangat, Lelakiku…


H-27


Aku pernah mengimajikan memiliki sebuah keluarga kecil, tinggal di pedesaan, mengurusi kebun kecil di pekarangan rumah yang ditanami berbagai macam kebutuhan dapur, menikmati sejuknya udara dan ketenangan, tidak banyak yang perlu dikhawatirkan. Anak-anakku akan tumbuh dalam kebebasan berteman dengan alam, pasti akan lebih cerdas dari anak-anak di kota. Mereka juga akan lebih sadar, bahwa alamlah yang menjaga kita tetap hidup dan sudah seharusnya kita balik menjaga keutuhannya.

Di saat anak-anak kita sekolah, kamu akan menemaniku memanen tomat, cabai, bawang, juga sayur-sayuran. Aku akan mulai memasak kemudian, kamu akan duduk di meja sembari memperhatikanku yang tengah sibuk meracik bumbu. Sesekali kamu tersenyum, menyadari betapa bahagianya keluarga ini. Sesekali aku akan menoleh padamu, karena dalam detik pun aku tidak bisa menghalangi rindu yang memaksaku untuk tidak menuntaskannya. 

Kita akan menua bersama, melihat anak-anak kita tumbuh besar, dewasa, memiliki cucu. Tidakkah imajiku sangat indah?

Di hari ketiga kamu pergi, aku cemburu. Cemburu karena kamu sedang disana, menikmati sejuknya hawa pedesaan. Tanpa aku. Juga lingkar tanganku memeluk manja pinggangmu. Ini bukan soal keterpaksaan yang memaksamu kini tiba disana, atau tuduhanmu aku tidak mampu mengerti. Ini hanya cerita, imajiku yang kucoba bagikan denganmu, juga perasaanku. Bukan untuk memaksamu kembali ke kota ini dan meninggalkan tugasmu. Bukan untuk menuntutmu mengiyakan yang kamu sangka mauku. Ini hanya cerita, imajiku yang coba kusampaikan padamu.

Hey, bukankah di awal kenal dulu yang kita lakukan hanya bercerita? Mengapa sekarang sudah jarang kita lakukan? Aku hanya ingin membagi apa yang kupunya denganmu.

Aku cemburu. Bukan soal rindu atau perempuan. Ini tentang…
 
J a r a k.

Masih 27 hari lagi. Haruskah aku mulai menyegel mulutku?


H-28


Ada sesuatu yang kurasa nyata menjelma. Apa itu, belum bisa kudeskripsikan. Tapi ia semakin kuat saja.

2 hari telah berlalu. Tidak banyak yang dapat kutulis hari ini di saat emosi masih bermain pelan namun menyisa. Aku hanya berharap......

–kamu cepat kembali.


H-29

Masih 29 hari lagi hingga kepulanganmu. Hari ini berhasil kulalui dengan memalingkan pikiran tentangmu, aku memikirkan apa saja yang bisa meniadakanmu dalam ingatku. Kamu tau hal lucu apa yang terjadi? Ternyata jam dinding begitu pongah hari ini untuk bergerak memutar ke arah kanan. Aku memelototinya, sedikit mengancam agar ia mengayuh jarumnya sedikit agak cepat mengarungi detik demi detik. Hah, tapi ia begitu tau diri di kala seperti ini. Sengaja dilambatkan ayunan tangannya. Malah aku mendengar ia terkekeh geli menyaksikanku yang terdiam tidak bergeming terus-terusan menatapnya. Berharap hari segera malam, berharap kantuk cepat datang, berharap memimpikanmu dalam senyap yang menghantarkanku menuju esok pagi.

Besok mungkin aku akan berjalan-jalan sebentar, bisa saja bersama mereka. Atau mungkin hanya seorang diri. Apapun, apapun akan kulakukan untuk tetap dapat merasa ringan bernafas seperti saat kamu ada.

Jangan tanyakan itu. Aku merinduimu dalam gila. Bahkan ini baru sehari.