Tampilkan postingan dengan label wishes list. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wishes list. Tampilkan semua postingan

Mengawang-Awang....

Gak banyak yang bisa saya lakukan di kantor saat seperti ini. Biasanya saya hanya duduk di depan laptop sembari browsing apa saja yang menarik di mata. Saat-saat seperti ini selalu datang di tiap awal bulan. Saat-saat seperti ini sungguh membuat saya bosan. Ada kerja saat ada uang sebaiknya saya patenkan sebagai pantun baru untuk buruh kontrak seperti saya ini.

Saya menguap. Bukan sekali. Bukan dua kali. Kadang saya malu, ke kantor hanya membuat saya ngantuk, bukannya bersemangat. Mencari-cari dalam tumpukan pikiran, apa kiranya yang bisa saya kerjakan walaupun itu hanya sekedar mengukur dan menggunting.

Lalu saya teringat sesuatu.

Saya bisa menulis kali ini. Untuk membuang penat sejenak, melalaikan pikiran sehingga mata dapat bertahan. Betapa sungguh saya tersadar bahwa tuts di kibor ini sudah lama tidak terjamah selain untuk mengetik laporan. Mungkin saya juga telah berubah menjadi mesin pekerja yang nyawanya hanya ada pada saat deadline. Mesin pekerja yang diburu waktu lalu duduk melongo saat semua tugas telah selesai.

Idealisme yang dulu dipegang erat sepertinya sudah tergerus sedikit demi sedikit oleh beberapa lembar rupiah yang jika dikalikan oleh waktu dan usaha untuk meraihnya serta dikuadratkan dengan biaya hidup yang harus ditanggung saat ini sama dengan minus sekian.

Saya mengerucutkan bibir. Berusaha tidak terusik oleh musik daerah yang sedang bersenandung dari laptop seorang Bapak di hadapan saya. Mencoba menikmati tawa cekikikan Ibu-Ibu di kantor. Berisik, namun saya masih saja mengantuk.

Mungkin saya butuh secangkir kopi. Juga sebuah suasana.



Fly....Fly...Away...

Aku ingin terbang. Mungkin ke Nigeria, atau langit Segitiga Bermuda. Kemana saja. Satu hal yang kutahu, tidak ada kepastian sebelum sebuah keraguan. Kita tidak mungkin bisa melihat pelangi, sebelum hujan pergi. Ada atau tidak adanya luka setelah pertengkaran, itu semua tergantung dari caramu menyikapinya. Pilih disayat dengan belati atau berpura-pura tergores pisau mainan. Jangan katakan padaku tentang harga diri, atau ceritamu soal dikhianati. Tidak akan lebih mengerikan dari air mata Ibumu. Ibumu. Tapi mungkin kamu tidak tahu, atau sengaja menolak tahu. Atau bisa saja cinta yang sekarang memutar kepalamu kemana ia mengarahkannya.

Aku terkesiap. Tatkala jarimu menunjuk-nunjuk jumawa ke seluruh penjuru. Siapa yang sebenarnya coba kau ajari? Aku duduk di sudut ruangan menggigil ngilu. Siapa yang sebenarnya coba kau congkaki?

Mungkin aku.Mungkin Ibumu. Tidak mungkin perempuan itu.

Segala yang telah terjadi. Semua air mata yang terbias selama ini. Aku tidak mengutuk, tidak juga menyumpahi.

Hanya saja…

Aku ingin terbang. Mungkin ke Nigeria. Atau langit Segitiga Bermuda.





Mereka Gak Peduli



Di suatu sore di sepetak warung kopi, saya dan sahabat saya, Rudi, tengah menyesap segelas minuman berperisa kopi sembari mengobrol. Saya baru saja tiba, bersepeda dari rumah dan rasanya cukup ngos-ngosan juga ketika tiba disana. Sudah cukup lama ternyata saya tidak bersepeda.

Di sela obrolan kami yang tentang apa saja, Rudi tiba-tiba berujar.

“Len, kamu tahu apa? Laki-laki jika bertemu laki-laki lain yang bajunya sama, mereka jadi temen. Tapi gak dengan perempuan. Jika bertemu dengan perempuan lain yang bajunya sama, mereka menjadi musuh.”

Saya terkekeh. Dia benar. Saya juga seperti itu. Tapi gak sampai jadi musuh juga, minimal malu karena bajunya samaan. Besoknya baju itu akan enggan dipakai, perlu berpikir 100 kali untuk kembali mengenakannya. Berlebihan? Yup. But that’s woman.

Saya lalu menggodanya.

“You know what?”, saya mengeluarkan kaki saya dari sepatu. “Kuku-kuku kakiku aku cat warna-warni.”, sambil memamerkan kuku kakiku yang dikuteks beragam warna.

“Shit!”, dia mengernyit. “Do you remember my post about nails?”, tanyanya.

Ingatan saya melayang ke beberapa hari lalu.

Iya. Beberapa hari lalu Rudi mem-post sesuatu di facebook. Sebuah gambar, dari 9GAG.
















Saya tertawa geli.

“Aku tahu kamu nyindir aku. But you know what, Rud? I don’t care!”, ucapku mentah-mentah, sembari terus terkekeh.

“I really don’t care, Rud.”

Iya. Saya benar-benar gak peduli. Saya pakai kuteks karena saya suka. Dan bisanya juga cuma seminggu di dalam sebulan.

Nothing felt the best than do what we love to do.

Obrolan berlanjut. Masih tentang perbedaan gender. Kali ini saya benar-benar merasa di kubu berbeda dengan Rudi.

“You want to know the next truth?”

“Yep!”

“Perempuan itu bersolek bukan untuk laki-laki. Tapi untuk sesama perempuan.”, ujarnya kalem.

How come? Saya mengernyit. Tidak mengerti.

“Gini, perempuan itu cenderung berpakaian untuk membuat perempuan lain merasa iri. Laki-laki sebenernya gak peduli, Len. Mau jilbab kalian dililit-lilit, baju kalian berumbai-rumbai, kuku kalian warna-warni. Men really don’t care. All they care is it’s you, their girl. That’s it.”

Ya. Saya pikir Rudi bener. Cobalah pergi ke pasar, gak usah maksain belanja kalo gak punya uang. Jalan-jalan santai aja sambil memperhatikan para pembeli yang didominasi oleh kaum hawa. Perhatikan obrolan mereka. Pasti ada yang dua-tiga seperti ini.

“Ih, ini lucu kan yak? Iya kan?”

“Yang ini cantik kan?”

“Jilbab yang ini matching gak sama baju aku yang kemarin itu kita beli di ET?”

Dan bla…bla…bla… lainnya yang sudah sering saya dengar.

Gak heran di pasar Aceh toko didominasi oleh baju-baju perempuan dan modelnya cepat sekali berganti.

Do we really do that for men? I mean, all that stuff –panas-panasan, pengorbanan uang jajan, capek-capekan- hanya untuk impress men? Nope.

The main reason why we  do that with all our heart and soul is we want that jelousy. From other women.

Dan jarang sekali laki-laki akan memuji perempuan cantik dengan jilbab yang dililit-lilit, rok yang melambai-lambai seperti rumput laut, dan high heels. Kecuali di hari wisuda kamu atau hari pernikahan kalian. Itu juga terpaksa karena mereka tahu pengorbanan ke salon itu mahal.

Selamat menikmati Senin!

Dan hey! Kuku saya hari ini pink loh...


Syarat: Gak Merokok



Saya tidak tahu kalimat pembuka yang pantas untuk tulisan ini. Tapi yang jelas ini tentang perbedaan persepsi karena perbedaan gender.
*ecek-eceknya serius*
cool onion head

Lelaki dan perempuan. Selalu melihat sesuatu dari sudut berbeda namun pada akhirnya akan selalu mencari simpang persamaan dimana mereka dapat berdiri di keyakinan masing-masing. Mungkin memasabodohi perbedaan. Atau mungkin mengutukinya? Apapun bisa.

Semasa SMU dulu, pasti ada satu-dua perempuan yang mensyaratkan calon pacarnya adalah laki-laki non-perokok. Percaya saya, tapi jangan mengimani, dulu syarat seperti itu akan sangat dianggap keren oleh teman perempuan yang lain dan akan dianggap unik sebagai seorang perempuan di mata kaum adam. Lagipula, memacari seorang lelaki non-perokok sudah terjamin kehalalannya. Karena merokok itu makruh.
crazy monkey 020*garing 



Saya. Saya adalah dari berjibun perempuan yang mensyarati demikian. Dari dulu.

Sampai sekarang. Sayangnya…

Lalu ada yang berujar seperti ini,

“Perempuan yang mensyarati calon pacarnya non-perokok atau bahkan menyuruh pacarnya untuk berhenti merokok adalah sebenar-sebenarnya alasan yang dibuat-buat.”

Lalu saya berpikir, lama sekali. Seperti tersentil. Karena saya termasuk ke dalam golongan perempuan tersebut.

Saya memang terlahir di keluarga yang sedari saya ada memang bebas dari asap rokok. Bapak saya –dulunya- seorang perokok, semasa lajang. Namun setelah berkeluarga dan punya seorang anak, beliau berhenti.

“Syarat jangan merokok? Bisa sebenernya. Bisa aja kami berpura-pura gak ngerokok. Hanya di depan kalian. Soal bau? Itu bisa diilangin dengan menyikat gigi. Itu bisa.”, lanjutnya menambah kekuatan argumennya.

Saya gak mau kalah dong.

“Berenti ngerokok itu nunjukin komitmen kalo kalian serius mau ke arah pernikahan.”, gitu saya ngomong, sedikit nyolot memang. Karena saya sudah tersentil di awal argumennya.

Dia terkekeh.

“Kalo kayak gitu jalan ceritanya, oke. Kami akan berenti ngerokok setelah kami menikah. Bisa kan?”

Gampang. Sangat gampang dia memuntahkan argumen saya. Sial.

Dan saya kembali terhenyak.

Apa yang ia katakan benar. Jangan-jangan saya juga cuma buat-buat alasan supaya dianggap unik?
Lalu, secuil dari harga diri saya terlepas dari bingkainya. Jatuh, membentur lantai. Berserakan. Tidak lagi saya pungut. Karena apa? Saya merasa tertampar dengan semua argumennya.

Lama saya mikirin hal ini. Sampe di satu titik saya tersadar.

Iya. Saya kemudian nyadar, alasan saya mensyarati pacar adalah non-perokok tidak lain dan tidak bukan berasal dari keluarga sendiri.

Iya lagi. Keluarga saya gak menginginkan saya bersuamikan seorang perokok.

Ya. Tiba-tiba saya merasa keren lagi. Harga diri yang secuil udah berserakan dan ogah saya pungut itu tiba-tiba menyatu kembali ke bingkainya.

Ini jelas bukan soal keren-kerenan atau unik-unikan.

Ini soal kebiasaan.

How your behaviour will show the truly you.

Gimane? Pade ngarti kagak?

Intinya sih gini. Saya mending nyari aman dengan macarin seorang non-perokok karena kalo-kalo salah seorang anggota keluarga saya ngeliat pacar saya entah dimana dengan sebatang rokok di tangan padahal di depan keluarga saya dia ngakunya bukan perokok malah bakal kacau jadinya. 

No, Baby. I won’t take that risk.

Jadi, kesimpulan dari tulisan ini adalah:

Don’t give a damn to this shit and you just waste your time to read this. crazy monkey 039

Adios!
crazy monkey 105



Backpacker Abal-Abal yang Gagal

Tetiba, saya mengangeni 2 sahabat saya, Intan dan Rudi. Dan tentang banyak hal-hal konyol namun menarik yang kami lakukan bersama. Hal-hal sederhana yang tidak pernah dipikirkan orang sebelumnya.

Pikiran saya melaju mundur ke satu kenangan khas yang hanya pernah saya lakukan bersama mereka, yaitu menggembel.

Ya, kami 3 backpacker gagal yang mencoba puas dengan segala keterbatarsan izin dan finansial mengelilingi kota Banda Aceh tercinta ini dan terus berangan-angan suatu saat nanti kami bias menjelajahi kota-kota lainnya, bahkan di negara lainnya. Amin.


 Saya, Intan, dan Rudi

Mungkin 2 tahun silam, saya, Intan, dan Rudi –di antara penatnya pikiran akibat tuntutan usia dan orang sekitar- memutuskan untuk berjelajah sebentar di kota kelahiran kami, Banda Aceh. Berbekal uang seadanya dan motor yang sengaja diparkir, penjelajahan kami di mulai di Mesjid Raya Baiturrahman.


Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh

Lahir, tinggal, dan tumbuh di kota ini tidak menjamin setiap warganya pasti, pernah, bahkan sering menjejakkan kaki di bangunan agung ini. Termasuk saya. Dan 2 orang sahabat saya. Bisa dihitung dengan jari berapa kali kaki saya pernah menapak di tanah ini dan kening saya pernah bersentuhan dengan lantainya. Ada alas an mengapa kami memilih memulai pernjelajahan di titik ini. Selain karena letaknya yang tepat di tengah-tengah kota –sehingga memudahkan kami untuk berkeliling dengan berjalan kaki- juga karena sudah masuk waktu Dzuhur.



Menara Mesjid Raya Baiturrahman


Jangan ragukan keindahan bangunan ini. Saya sungguh masih berdecak kagum setiap kali masuk dan melihat interior keseluruhan ruangan. Elok. Ditambah dengan hawa sejuk yang sangat kontras dengan teriknya matahari di luar sana, membuat saya betah berlama-lama di dalamnya.


Interior Mesjid Raya Baiturrahman

Setelah puas menjelajahi setiap sudut Mesjid Raya, kami –backpacker gagal- melanjutkan perjalanan ke sebuah pemakaman Belanda, Kerkhof. Namun, di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak di Blang Padang untuk menikmati sepiring batagor terlezat di kota Banda Aceh yang hanya seharga Rp. 5.000 per porsi.


Sepiring Batagor Terlezat di Banda Aceh


Blang Padang merupakan sebuah lapangan tempat kegiatan-kegiatan umum, seperti upacara 17 Agustus atau pameran. Disini terletak sebuah pesawat yang menjadi monumen kebanggaan karena merupakan pesawat pertama yang dimiliki Indonesia yang dananya berasal dari Aceh.



Ecek-ecek backpacker


Meloncat sedikit ke seberang, akhirnya kami tiba di Kerkhof.

Kerkhof adalah pekuburan bagi prajurit Belanda yang gugur di dalam perang Aceh. Pada pintu masuknya, ada semacam gapura yang di dindingnya dipahat nama-nama tentara Belanda yang tewas lengkap dengan lokasinya.Tentara yang berperang bersama Belanda tidak hanya berasal dari negara kincir angin itu saja, namun ada juga tentara pribumi yang berasal dari Ambon, Batak, dan Jawa yang ikut berperang membela Belanda. Maka, tidak heran ada banyak nama-nama lokcal yang terukir di dinding pintu masuk pemakaman ini.


Pintu masuk Kerkhof yang mirip gapura


Ada dua hal yang paling saya sukai dari pekuburan ini, yang pertama adalah langitnya yang selalu tampak indah. Saya begitu mengagumi bagaimana perpaduan rumput, batu-batu nisan dan langit yang biru bisa sangat epic di mata saya. Yang kedua adalah suasana yang begitu tenang disini. Lupakan soal angker, saya sama sekali tidak merasakannya. Kecuali kalau datangnya di malam hari. Mungkin saja.


 Entah apa maksudnya





Nama tentara Belanda beserta lokasi mereka gugur, semua diukir di sepanjang dinding pintu masuk
Keheningan, rumput yang hijau, dan langit yang biru

Puas menjelajahi Kerkhoff, perjalanan dilanjutkan ke taman sari. Mau ngapain kesana? Main ayunan dong.

Nggak. Saya bercanda. Ini dikarenakan usia dan pola hidup tidak sehat, kami yang baru sekali ini berjalan kaki sudah kecapekan juga kehausan. Uang di kantong hanya tinggal 6 ribu sedangkan kami butuh minum. Akhirnya kami membeli 2 botol air mineral dan dibagi 3. Miris.

Dengan peluh yang membanjiri, nafas yang terengah-engah, ketek yang baunya sudah tidak tertahankan, uang yang terkuras habis, kami memutuskan untuk mengakhiri penjelajahan ala-ala backpacker ini. Dengan langkah terseok, kami kembali ke parkiran Mesjid Raya untuk mengambil motor masing-masing dan berpisah menuju rumah masing-masing.

Saya benar-benar merindukan kenangan itu. Semoga nantinya kita bisa berjalan kaki lagi mengelilingi kota –di lain negara. Doakan saja.

Jika Saya Liburan



Jika ada yang bertanya saya ingin berlibur kemana, akan saya jawab dengan tegas, Antartika. Pembagian hari dan malam disana menarik. Enam bulan siang dan enam bulan malam. Ini dikarenakan letak Antartika yang di kutub bumi sehingga sinar matahari menyapu daratan itu selama enam bulan secara terus-menerus. Begitu juga dengan malam. Pretty cool, huh? Mungkin saja saya bisa belajar dari beruang kutub bagaimana caranya berhibernasi selama enam bulan 6. Lalu beraktivitas selama enam bulan siang. Setidaknya saya hanya harus merasakan hidup selama 6 bulan di satu tahun kalender Masehi. Atau saya buat saja kalender sendiri yang setahunnya hanya terdiri dari 6 bulan? Saya pasti lebih cepat tua dari penduduk bumi lainnya. Dalam setahun kalender Masehi, saya berulang tahun 2 kali di kalender made in saya sendiri.

Saya mungkin dapat memelihar serigala sebagai pengganti kucing. Mengingat kucing pasti tidak tahan hidup disana. It will be so cool, I guess. Ketika ada teman saya dari Aceh bertanya peliharaan saya apa, saya akan menjawab dengan ke-cool-an yang tidak bisa dibayangkan, “Serigala putih.”, dengan sedikit menaikkan alis kanan dan segaris tipis sunggingan senyum. Lalu memajang foto-foto saya bersama perliharaan di akun jejaring sosial. 100% cool!  Atau beruang saja? Beruang putih juga bagus. Ukurannya yang besar cocok dijadikan selimut di saat saya harus berhibernasi selama enam bulan. Menjaga saya tetap hangat.

Lalu saya membayangkan akan seperti apa rasanya lebaran disana. Ya, disini kan lebarannya 2 kali setahun, Idul Fitri dan Idul Adha. Dan penganan yang khas di saat lebaran itu pasti lontong atau ketupat. Direbus, pastinya. Bagaimana kalo nanti saya disana, saya buat lontong beku? Caranya cukup dicelup-celup ke dalam air es. Saya ambil sebongkas es untuk alas duduk, saya lubangi lantai dapur rumah saya lalu saya celup-celup saja lontongnya.

Oke. Absurd.
 crazy monkey 191

Tapi, yang jadi permasalahannya adalah, dimana saya bisa mendapatkan daun pisang disana jika spesies sejenis pisang-pisangan hanya tumbuh di daerah tropis? Mungkin bisa saya ganti dengan daun-daun lain yang tumbuh disana. Lalu dengan kuah lontongnya? Dimana saya bisa dapatkan kelapa? Apa pohon kelapa tumbuh disana? Oh, pastilah mereka punya santan kemasan yang dijual di supermarket. Akan keren sekali pastinya pergi ke supermarket naik kereta salju dengan jaket-jaket tebal itu juga sepatu bot. Woohoo! I can feel the awesomeness!



Tunggu, di Antartika ada pohon gak sih?
 crazy monkey 100

The OLD Time





Seperti gulungan benang pancing. Jika hidup bisa ditarik dan diulur sesuka pemancingnya, pastilah tidak akan ada yang namanya penyesalan. Pepatah "sesal selalu datang terlambat" sudah tidak asing ditelinga siapapun. Terlebih yang sudah acap kali menyesal. Mengecap sesal bukan perkara gampang. Imaji tentangnya memperburuk kenyataan yang akan terjadi. Juga harapan yang masih tersisa melukis sketsa-sketsa semu, biasanya berselimut fatamorgana.

Saya pernah bangun di suatu pagi –pagi menjelang siang sebenarnya- dan mendapati diri saya merindukan masa lalu. Ya. Masa lalu yang sangat ingin saya singkirkan, tiba-tiba saya ingin menyuruh sesiapapun penyihir untuk mengirim saya kesana.

Saya rindu kets, fanatisme pada Linkin Park, juga pulpen dan kertas bekas yang dijepit ke papan ujian. Tahu kan papan ujian? Papan persegi panjang yang dipakai menggantikan kursi yang tidak memiliki meja untuk mengisi kertas jawaban.

Tetiba saya rindu pada dunia sederhana saya itu. Di kala hidup hanya ada lagu Linkin Park yang mengalir dari earphone masuk ke gendang telinga dan kertas bekas print-an yang dibalik sehingga bagian kosongnya bisa saya isi dengan coretan.

Saya rindu duduk di bawah pohon di belakang aula, bermain imajinasi hanya dengan 3 warna –merah, hijau, hitam. Tenggelam dalam dunia dimana hanya saya yang mengerti, juga mengalami. Menarik garis demi garis tak lurus yang saya paksakan membentuk sesuatu yang bisa diterima otak menyerupai salah satu benda di kehidupan nyata.

Saya ingin mengulang hal-hal itu, menjerumuskan diri lebih dalam agar chaos di permukaan teredam ketidakpedulian.  Lalu hingar perlahan mengendap di pijakan-pijakan kets saya. Bingar pun meresap di antara udara yang saya sesap dan saya hempas seketika.

Saya melihat ke sekeliling kamar. Jelas banyak yang berubah. Saya yang sengaja mengubah atau memang sudah saatnya saya berubah. Yang jelas tidak ada lagi ransel yang dipakai kesana-kemari, berganti dengan bermacam tas dengan warna-warni yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Lalu kets…sudah dengan rapi masuk kembali ke kotak-kotaknya yang sengaja saya simpan. Saya tahu suatu saat saya hanya akan bisa melihatnya dengan kenangan. Kemeja-kemeja juga berganti dengan yang lebih bisa diterima Ibu saya sebagai ibu seorang anak perempuan.

Well, that’s life, I guess.

Bukan indah sekali masa lalu saya sehingga saya ingin kembali kesana. Banyak yang saya sesali. Tapi prosesnya telah saya lewati hingga sesaknya seperti apa sudah tidak saya rasakan lagi. Sekarang yang ada hanya nafas lega dan hal-hal baik di masa lalu tiba-tiba menjadi sangat berharga untuk diingat.

We will truly know what we had until it’s gone.

Saya rasa pepatah itu benar adanya.




Rindu Buah-Buahan Masa Kecil

Let's talk about childhood...

Masa kecil saya terbilang cukup indah. Lingkungan saya pada saat itu masih hijau dan mempunyai banyak tanah kosong untuk bermain, termasuk halaman rumah saya sendiri. Saya termasuk ke dalam golongan anak-anak kecil yang masih bisa menikmati indahnya kartun di pagi Minggu dan bermain permainan tradisional di tiap sore hari, seperti engklek, lompat tali karet, kelereng, patok lele, krim, sembunyian, main godok, bongkar pasang, dan masih banyak lainnya –yang sekarang tergantikan oleh bermacam alat canggih dan kadang menurut saya sebenernya…useless untuk anak-anak.

But, time has changed brutally.

Anak-anak sekarang dicekoki dengan segala keinstanan yang bisa dengan mudah mereka dapatkan. Dari mulai bubur sampai kedewasaan.

Di antara sederetan masa kecil saya yang indah, ada yang paling saya rindukan, yaitu buah-buahan yang dulu mudah saya dapatkan di sekeliling saya. Tinggal manjat. Paling lecet-lecet dikit.

Apa saja? Here they are....

Jambu Mawar
Saya gak tau apa bener namanya. Dulunya ada dua pohon jambu mawar di halaman rumah saya. Batangnya tinggi sehingga asik untuk dipanjat dan berbuah sangat lebat. Jambu ini berwarna merah muda (pink) dan rasanya sedikit asam, namun akan sangat manis jika ada yang berwarna merah hati –tapi ini jarang dan biasanya yang berwarna seperti itu adanya di pucuk pohon.


Jambu Air
Rasa buahnya manis dan agak kelat. Akan sangat manis bila buahnya sudah berwarna merah tua kecoklatan. Sesuai dengan namanya, jambu ini kandungan airnya banyak. Sehingga bisa menyebabkan perut kembung kalo makan kebanyakan.


Jambu Air Putih
Pohonnya masih ada di belakang rumah. Tapi sayang udah jarang berbuah karena usianya yang sudah tua. Pohon jambu ini sudah ada sejak zaman Bapak saya masih kecil. 



Jambu Bol
Buahnya sangat asam namun jika sudah berwarna merah hati akan berubah menjadi sangat manis. Letak pohon jambu ini di dekat pagar depan rumah. Saya paling suka bunganya, warnanya meriah.



Jambu Botol
Letak pohonnya di sebelah jambu bol. Buahnya putih dan asam, kadang-kadang jika sudah sangat tua, bisa sangat manis.


Jambu Biji (Guava)
Pohonnya tepat di depan teras rumah saya. Buahnya besar-besar dan daging buahnya berwarna putih. Rasanya manis. Tapi sayang tiba-tiba saja mati.


Jambu Monyet
Adanya di halaman tetangga depan rumah saya :)) Pohonnya besar namun landai jadi enak buat dipanjatin sambil gelantungan duduk-duduk sama temen. Saya kurang suka buahnya karena rasanya kelat.


Rambutan Hutan
Saya rasa anak yang lahir di era 90-an gak mengenal buah ini. Dulu, buah ini gampang saya temui pada semak-semak di lahan kosong ataupun di pagar rumah. Gak jelas kenapa dinamai rambutan hutan ketika isi dalamnya lebih mirip markisah. Saat muda warnanya hijau dan akan berubah kuning/oranye saat tua. Rasa buahnya manis.


Kersen
Dulu saya menyebutnya ceri. Iya, ceri. Saya kira ini ceri yang sering dijadiin hiasan di kue-kue ulang taun itu. Lalu saya bertanya dalam hati, menerka-nerka, kalaulah memang ini ceri yang di kue-kue ulang taun itu, kenapa ukurannya kecil dan kenapa ceri yang di kue-kue ulang taun itu harganya mahal? Kenapa gak petik aja di pohon? Kenapa harus beli? Dan kenapa-kenapa yang masih banyak lagi. *iye, absurd emang anak kecil udah mikirin begituan*

Tapi ketika dewasa saya harus menghadapi kenyataannya, bahwa nama asli buah ini adalah kersen. Rasanya manis dan terasa seperti berpasir di lidah karena bijinya yang banyak dan berukuran sangat kecil.


Mangga
Seinget saya ada 5 jenis pohon mangga dulunya di halaman rumah saya -golek, cengkeh, gadung, dan dua lagi yang saya gak tau namanya. Yang buahnya akan dijual ke pedagang mangga. Pohonnya besar-besar dan tinggi-tinggi. Yang kalo malem terlihat sangat menakutkan.



Ara
Ini bukan kakak Agil di lakon Keluarga Cemara yang sontreknya “Selamat pagi, Emak. Selamat pagi, Abah.” itu. Tapi nama buah. Iya, buah ara ini ternyata bisa dimakan, tapi sayangnya saya telat nyadar dan pohonnya udah keburu dipotong. Dulunya tumbuh di halaman belakang. Pohonnya besar dan berbuah sepanjang musim.


Sekian dulu postingan rindu buah masa kecil -yang lebih mirip artikel majalah Trubus. Kalo saya pengen buah-buahan itu sekarang, saya terpaksa mendapatkannya dengan uang –iya, beli di pasar tradisional. Nyak-nyak disana kadang ada yang menjualnya dengan jumlah terbatas. Maksudnya jumlah terbatas, kadang hanya ada sekantong kecil, itu juga dari kebun sendiri.

Ada yang juga rindu buah di masa kecil? Boleh di-share :)

Menjemput Bahagia



Bahagia itu butuh egois. Memang harus ada orang yang merasa menderita di bawah kebahagiaan kita. Terlepas itu nyata atau tidak. Masalahnya sekarang adalah, untuk apa menjadi Lala di dalam sinetron Bidadari jika kebahagian yang dimaksudkan adalah menekan perasaan mengandalkan air mata?

Bahagia itu butuh perjuangan. Kadang memang caranya menyakitkan. Tapi ingatlah ada waktu sebagai penawarnya. Bahagia itu tidak dengan pengorbanan menusuk hati lalu menyayat sembilu, meringis pedih lalu menyudutkan diri. Jangan buang energi untuk ke semua sakit yang kamu tahu asalnya dari siapa.

Bahagia itu bukan menghamba-pasrahkan diri pada sosok yang dihormati. Bahagia itu ketika hati mampu menggerakkan senyum di bibir lalu berucap syukur ikhlas pada Ilahi. Jangan terlalu terpaku pada restu ataupun pengabdian diri. Jangan biarkan hantu masa lalu menekanmu hidup-hidup. Terus-menerus.

Ada saatnya kamu bangkit dari semua lumpur yang sengaja dibalutkan ke kulitmu oleh orang yang kamu hormati.  Kamu harus tahu saatnya memilih –di antara yang memberikanmu kebahagian sejati atau hanya semu. Jangan lagi mengintimidasi diri sendiri dengan segala kicau buruknya tentangmu. Kamu harus tahu, Ka, kamu cukup berharga untuk bahagia.

Iya, kamu, Ka. Sudah saatnya menjemput bahagiamu.


C.H.E.E.R.U.P :)




Aku sudah harus berjalan lagi, setelah sebelumnya terhenti.

Hidup.

Bagaimana aku memprediksinya? Jika ketetapan hanya milik Sang Pencipta. Aku mungkin punya rencana walaupun tidak semua tersusun rapi seperti buku-buku di dalam rak lemari. Tetapi tidak ada yang bisa memberitahuku, akan seperti apa rencana-rencanaku itu. Selain waktu.

Ya. Menunggu.

Aku percaya di balik semua rencana yang tidak Ia setujui menjadi nyata, Ia punya rencana yang jauh lebih pantas untukku. Hanya saja semuanya butuh proses kan? Dan proses adalah berlalunya waktu. Aku butuh merasakan kegagalan demi kegagalan ini, aku butuh diingatkan, aku butuh merasa membutuhkan-Nya. Dan pada akhir proses segala, semua akan berpulang pada-Nya.

Aku menyerahkan semua mimpi-mimpiku pada-Nya.

Bukan pasrah. Bukan. Malah harus lebih berani berharap jauh lebih tinggi lagi. Jika sketsa mimpiku yang segini saja enggan Ia lukis di dalam nyata, pasti aku pantas untuk di tempatkan di sketsa yang lebih indah.

Bersemangat :)