Senjamu yang Bukan Milikku


Untukmu yang senjanya selalu menjadi milik orang lain. Tidak ada satupun alasan yang bisa kujadikan senjata untuk tetap menahanmu disini saat sore berganti menjadi senja. Walau sejuta rindu kugumamkan, tetap saja senjamu tidak pernah menjadi milikku.  Kesepian ini membuncah. Senjaku tanpa kamu, hampa.

Untukmu yang senjanya selalu kamu habiskan bersama orang lain. Tidak tahukan kamu, bahwa aku meminta matahari menghapus senja dari sistem hariku? Untuk apa senja jika kamu tidak ada untuk kulewatkan bersama? Untuk apa kuperlukan senja jika yang tertawa bersamamu adalah dirinya? Senjaku tanpa kamu, absurd.

Untukmu yang senjanya belum juga bisa kumiliki. Aku selalu berharap, di suatu saat nanti, bukan hanya pagimu yang kamu berikan untukku. Bukan hanya kecupan selamat pagi setelah terlelap yang kuimpikan akan menjadi milikku, namun juga kecupan selamat malam, menghantarkanku ke alam mimpi. Senjaku dengan kamu, berwarna.

Untukmu yang senjanya telah kamu gantung di pundaknya. Tidak mengapa jika senjamu itu tidak akan pernah menjadi milikku. Masih ada pagimu yang bekunya akan kamu hangatkan. Juga siangmu yang teriknya akan kamu ademkan. Dan soremu yang senjanya telah kuhapus dengan sengaja.

Untukmu yang mencintaiku setelah kamu mencintainya. Terima kasih. Meski senja itu tidak akan pernah ada di hariku.

Menunggu

Aku hanya ingin menunggumu. Tanpa pernah sekalipun memberitahumu bahwa aku menunggumu. Aku hanya ingin tahu, seberapa sering kamu mengingatku. Seberapa hebat aku di ingatanmu. Dan seberapa menganggunya aku di pikiranmu. Hanya itu.

Maka, aku hanya ingin menunggumu. Sembari berharap, kamu akan mengingatku. Lalu sebuah pesan masuk ke ponselku. Darimu, menanyakan aku :)


Midnight-Suicide-Message

15/10/2011
03:31:32 AM
Mau bikin ini lebih buruk?

<No Reply>

15/10/2011
03:49:40 AM
Udah 3 kali aku mencoba bunuh diri.
Makasih, aku nggak tau untuk kali ini.
I Love You...

<No Reply>

Bunuhlah dirimu jika kamu merasa itu perlu. Aku tidak akan menahanmu. Kamu tahu kenapa? Bukan. Bukan karena aku tidak peduli padamu atau rasa ini sudah berkurang separuhnya. Tapi lebih karena aku tidak membutuhkan sosok sepertimu, yang selalu berdalih bunuh diri adalah jalan atas segalanya.

Bunuhlah dirimu dan tinggalkan aku disini dengan sejuta penyesalan. Tidak mengapa. Aku akan menelan mentah-mentah semua penyesalan itu. Tidak mengapa. Muntah pun jauh lebih baik. Lebih baik seperti itu. Karena kepengecutanmu memuakkanku. Merangkak mengais tanah untuk bisa keluar dari mimpi buruk itu pun aku rela. Lebih baik seperti itu.

Jika mengatakan rasa itu nyata untukku. Jika menyatakan kamu mencintaiku. Jadilah seorang pria. Bukan seorang ababil yang selalu menyalahkan keadaan.

Ini Cemburu

Well, inilah cemburu.

Mungkin kamu percaya hatinya milikmu. Mungkin sudah berjuta kali dia ungkapkan bahwa kamu adalah satu-satunya. Namun, ragu itu masih saja ada. Khawatir itu masih saja tersemat. Di balik semua rasa yang kamu pertaruhkan. Inilah cemburu. Untuk setiap cerita mengenai ia dan orang lain. Untuk setiap tawa renyah yang ia perdengarkan padamu karena orang lain. Sekali lagi, inilah cemburu.

Rasanya seperti sakit gigi. Dicabut sakit, nggak dicabut cenat-cenut sendiri. Ingin mengatakannya, kau hanya takut semua berakhir runyam. Tidak dikatakan, perih ini nyelekit sampai ke rongga terkecil. 

Well, inilah cemburu.


Hujan Dan Senja

"Akan selalu ada aku di senjamu. Walaupun kamu tidak akan pernah bisa ada di hujanku."

Ketika hujan reda. Hanya tersisa sepotong cerita. Ya, sepotong cerita sebelum hari menjelang senja. Hujan reda saat senja menyapa. Selalu seperti itu adanya. Tidak pernah bersama. Hujan tidak pernah sempat mengenal senja. Dan senja tidak pernah sudi datang lebih awal untuk sekedar tahu, bahwa hujan kesepian.

Di dalam rintiknya dimana senja belum tiba, aku selalu menerka seperti apa dirimu. Hanya ada aksara mengisi imaji kadang terasa semu. Dan sepenggal suara untuk meyakinkan segalanya. Bahwa kau nyata. Bukan hanya sederet huruf berbaris rapi terangkai sempurna. Kau ada. Bukan hanya beragam intonasi suara menjelma di seberang sana. Terdengar menyenangkan, namun tetap saja…..secuil hampa selalu terselip di antaranya.

Sepotong cerita untuk dua cangkir teh berjarak seperti tak nyata. Akhirnya hujan reda dan kini senja telah tiba. Mengisi hari dimana semuanya akan berbeda. Obrolan kita mungkin tidak lagi hanya sepotong cerita. Sudah beda. Menjelma menjadi sepotong cerita baru, yang di dalamnya hanya ada aku. Dan kamu.

Kita.  

Ketika hujan reda dan akhirnya ada senja, aku tahu kamu menunggu. Untuk jeda yang terlalu lama hari ini, kamu menunggu. Masih disitu. Tanpa dua cangkir teh berjarak tak nyata. Karena ini bukanlah hujan. Namun senja. Senjamu menungguku untuk ada. 


Hening

Untukmu yang baru seperlima waktu menemaniku. Ada kala dimana aku hanya menginginkan hening di antara kita. Memang masih begitu banyak penggalan cerita tersisa. Masih begitu banyak tawa yang belum terurai sempurna. Dan juga luapan emosi yang mungkin berwarna jingga.  Namun, kali ini, aku hanya menginginkan hening. Ada, menelusup di antara kamu. Juga aku. Mengisi jarak sepersekian senti di antara kita.

Dunia sudah terlalu bingar. Manusia semakin banyak berujar. Maka, mari kita diam dan biarkan hening berkuasa. Bukan. Bukan karena aku sedang marah. Hanya saja hening menghadirkan rasa ketika pertama kalinya kamu ada. Juga cerita-cerita itu, dimana kamu ikut mewarnainya. Dan di dalam hening ini senyumku mengembang. Mengingatnya.

Untukmu yang baru seperlima waktu menemaniku.  Ada hening yang coba kuhadirkan. Mungkin akan terasa sedikit datar. Untukmu. Memang tidak akan semenyenangkan saat kita mengobrol soal rasa, juga cita-cita. Namun, kumohon biarkan hening ini menyapa. Sekejap. Merayap perlahan mengisi cerita-cerita kita yang tertahan. Membiarkan kita berdialog dalam diam.

Hening bukan berarti kita telah kehabisan cerita. Bukan berarti ada bosan yang melanda. Atau jenuh karena kebersamaan kita yang semakin lama. Namun, hening ini sengaja kubiarkan ada. Untuk kunikmati berdua saja. Denganmu.

Lima menit saja...



Membunuhmu

“Semoga nanti kamu bisa bunuh aku langsung.”

Melukakan hati, memapah perih. Itulah yang sedang kau lakukan. Jika bersamaku bisa sesakit ini, kenapa masih juga bertahan? Berkilah bahwa nyaman itu tidak tergantikan. Jika hanya perkara nyaman, logislah, haruskah berkorban sampai sejauh ini?

Aku sudah tidak lagi tahu untuk setiap luka yang kusematkan padamu. Sudah tidak kuat lagi menghitung karena kau yang selalu bersimpuh. Nerimo. Begitu sifatmu. Dan aku yang selalu berteriak. Memaki.

Memanggil duka, menyeringai tangis. Di setiap amarahmu yang tertahan, aku bernyanyi. Bukan lagu sendu. Hanya rintihan sesal untuk berkali-kali tusukan itu kuhujam ke tempat yang sama. Kenapa harus menggerogoti luka sendiri? Jika perihnya sama saja terasa. Biarkan saja aku yang melakukannya, menabur garam memercik cuka.

Aku tidak ingin menikammu dengan belati lalu kau mati seketika. Jika aku harus membunuhmu, biarkan aku melakukannya dengan perlahan namun terasa sangat menyakitkan. Aku ingin sangat begitu menikmatinya. Hingga akhir, saat kau sekarat, aku tahu semua sudah sangat terlambat. Aku membunuhmu. Kau mati.

Lalu yang tersisa hanya lukamu. Dan aku. Menanti belati ini menancap sendiri tepat ke jantung. Dengan dua tanganku menggenggamnya.  


Teruntuk Mantan



Tulisan ini ada atas permintaan seorang mantan saya yang sekarang hanya berstatuskan teman namun kadang-kadang kita mesra. Dia menge-wall saya di facebook beberapa waktu lalu, menanyakan kenapa blog saya kosong-melompong alias nggak ada tulisan terbaru satu biji pun. Dia kangen sama tulisan saya, katanya.

Well, here it is, Mantan…

Saya khusus membuatnya untukmu.

Ya. Mungkin aku sudah tidak lagi sama saat dulu aku masih bersamamu. Dulu, kamu dapat memonopoli waktuku hanya untukmu. Tapi sekarang semua berbeda. Tempatmu telah tergantikan, aku tidak mengatakan ia lebih pantas menduduki posisi itu sekarang, hanya saja dia yang memang ada sekarang. Apa hendak dikata?

Aku tahu kamu cemburu. Untuk semua perih yang terbersit di hatimu saat ini, aku tahu pasti kamu cemburu. Juga khawatir, bahwa nantinya aku benar-benar tidak bisa lagi ada untukmu. Tenangkan pikiranmu, Mantan. Itu hanyalah ketakutan semata. Kamu masih mantan terindahku yang kubuang di tempat yang tepat. Setengah hatiku masihlah untukmu. Tidak perlu kamu ragu. Bahwa dia ada sekarang. Bahwa dia adalah sekarang. Tidak akan mengubah apapun. Kecuali status kita.

Soreku masihlah milikmu dan cerita-ceritamu masihlah milikku. Kamu dan aku. Walaupun bermantanan, namun tetap satu. Yakinlah. Aku tidak akan begitu saja meninggalkanmu tanpa pertengkaran hebat. Ya. Hanya pertengkaran hebat yang dapat memisahkan kita. Jadi, buanglah rasa cemburumu itu. Sama sekali tidak beralasan.

Jika waktu itu kita berpisah dan menyebabkan kita bermantanan, yakinlah itu yang terbaik untuk kita berdua. Mimpi kita masihlah menjadi prioritas utama. Kamu ingat? Belanda. Ya, kesana kita akan hidup bersama. Lalu apa yang harus kamu takutkan? Dia yang bersamaku sekarang? Ah, sudahlah. Tidak mungkin juga kugandeng dia sampai ke negeri kincir angin itu. Tidak. Mimpi itu masih digenggamanmu, Mantan. Bersabarlah.

Jika kuberikan sesuatu milikku yang paling berharga untuknya, percaya saja. Bukan berarti aku telah berubah atau dia lebih indah darimu. Bukan. Seandainya saat kita masih bersama dulu kamu juga memintanya, sudah barang tentu akan kuberikan untukmu terlebih dulu. Jangan salahkan aku karena dulu kamu tidak memintanya dan sekarang dia yang mendapatkannya. Ah, Mantan. Ini hanyalah masalah keberuntungan. Itu saja. Jangan dipusingkan ya? Tidak perlulah pisau belati itu kamu bawa sampai ke kamar mandi. Dan tidak perlulah shower itu kamu biarkan airnya mengalir berjam-jam. Walaupun sekarang milikku yang paling berharga ada di genggamannya, tetap saja kamu mantan terindahku. Dan tetaplah Belanda itu destinasi akhirku. Bersamamu, pastinya.

Mantan, jangan pesimis, jangan apatis, jangan juga menjadi autis hanya karena saat ini aku bersamanya. Bagaimanapun, aku hanyalah manusia biasa yang ingin dipandang normal walaupun sebenarnya aku tidak, kamu mengetahuinya kan? Jadi, beri aku kesempatan untuk memperbaiki hidupku dan menormalkan kembali pandangan orang-orang terhadapku. Agar, saat kita ke Belanda kelak untuk melegalkan segalanya, tidak ada penyesalan lagi di hatiku.

Tunggu aku…

Salam sayang,
Mantanmu


Sistem Kerja Cinta Untuk Saya



"Love is easy. But…I’M NOT EASY."

Saya percaya cinta itu ada. Cinta bisa hadir di berbagai kesempatan dan kesempitan. Di kesusahan dan kebahagian. Di kesengajaan dan kecelakaan. Cinta bisa ada dengan cara yang masuk akal sampai di luar logika. Sederhana sampai njelimet.

Asal tidak ada saya di dalamnya.

Cinta itu gampang saja. Bisa hadir dari pandangan yang saling bertemu secara tidak sengaja, dari rentangan waktu yang panjang sebagai seorang sahabat, dari perkenalan tidak sengaja di jejaring sosial, dari perjodohan dua keluarga, dari antrian panjang di sebuah bank, bahkan dari sebuah permusuhan berdendam kesumat.

Cinta itu gampang saja.

Saya bisa saja jatuh cinta. Dari berbagi kursi di Damri, pulsa yang nyasar masuk lalu diminta kembali, perkenalan dari teman ke teman, bahkan dari sebuah tulisan di blog lalu saling bertukar info. Cinta itu seharusnya gampang saja. Tapi nyatanya tidak seperti itu.

Hal yang saya tuliskan di atas hanyalah sebagai awal untuk cinta itu ada. Masih ada tahap-tahap selanjutnya untuk memastikan cinta itu benar ada. Proses, sebut saja begitu. Setelah berbagi kursi di Damri, bertukar info diri termasuk nomor yang dapat dihubungi, lalu mulai menjalin komunikasi, mempelajari sifat satu sama lain -percikan yang ada saat awal dulu dapat hilang atau berganti menjadi sesuatu yang lebih besar. Lalu di akhir, konklusi tentang cinta itu baru bisa disimpulkan.

Cinta itu gampang. Prosesnya yang nggak gampang. Setidaknya buat saya.

Saya tidak suka proses untuk bisa mengkonklusikan saya cinta atau tidak. Sesimpel apapun itu.
Lalu seperti apa?

Sistem kerja cinta untuk saya itu seharusnya hanya ada satu, yaitu seperti ini: terbiasa.
Jika cinta, katakan saja di awal. Lalu buatlah saya terbiasa. Tidak perlu melalui begitu banyak proses hanya untuk bisa mengkonklusikan cinta. Tidak perlu tarik-ulur. Tidak perlu menerka-nerka. Tidak perlu trik-trik khusus. Tidak perlu tetek-bengek rayuan. Tidak perlu menjadi most-mysterious-man in the universe sehingga saya penasaran. Biasakan saya. Cukup seperti itu.

Sistem kerja cinta untuk saya. Seharusnya seperti itu. Seharusnya.

But who knows?


Read This

Saya minta maaf atas keenggaknyamanan kalian saat berkunjung ke blog ini. Dan saya akan hiatus untuk beberapa saat.
Soon, I'll fix this.
Salam Cekat-Cekot!
^^