Saya dan Kopi


Dulu saya pernah punya keinginan mau nyobain satu-satu kede kopi yang ada di Banda Aceh ini. Tapi sekarang asa tinggal asa. Bukannya waktu yang gak punya, waktu sih banyak tersedia, tapi uang yang gak mencukupi lagi. Sebagai pengangguran newbie, jatah reman saya otomatis dipotong sama orang tua. Alasannya sih cukup logis, pengangguran, kemana-mana udah nggak, buat apa uang jajan banyak-banyak? Bukannya nggak cukup sih buat bayar segelas sanger dingin. Tapi saya udah mesti hemat-hemat. Ibu saya adalah tipe ibu yang udah ngasih duit jajan ke anaknya, suka dipinjem lagi. Saat dipinjem, saya mesti punya duit. Lah wong saya pengangguran, butuh apa? Ibu saya gak kenal kata “hang out”. Yang dia kenal kata “jajan” yang artinya gak boleh sering-sering.

Sekali-dua kali masih lah saya main ke kede kopi, biasanya jumpain temen. Tapi udah nggak kayak dulu yang hobi nyoba-nyoba tempat baru. Sekarang dimana biasanya kita ketemu aja. Bukannya ngikut slogan salah satu iklan minyak kayu putih, “Buat anak kok coba-coba?”. Tapi lebih ke tempat yang udah bikin cozy juga rasa kopi yang udah pasti enak.

Saya bukan maniak kopi, apalagi celana dalam. Saya termasuk orang yang buta rasa akan kopi. Menurut saya, kopi yang enak itu ya yang pahit legit, gulanya juga jangan banyak. Itu aja. Sanger yang enak itu ya yang rasa kopinya lebih dominan ketimbang susunya. Teh tarik yang nikmat itu ya yang komposisi antara rasa teh dan susu seimbang, bukan susunya sekaleng. Sesederhana itu.

Maka, saya sebenernya udah males nyoba-nyoba tempat baru. Sudah nyaman dengan tempat-tempat yang biasa saya datangi. Ini sama seperti bersandar di pundak seseorang. Saya sudah kadung nyaman bergelayut padanya. Sudah tidak ingin cari yang lain. Yang ini saja. Cukup.  



Mimpi Paling Nyata


Mimpi buruk paling nyata ada ketika kamu terbangun di tengah malam dan mendapati ketakutan yang sebenarnya tidak ada, ia hanya di anganmu, ketakutan yang tidak seharusnya. Namun mencekam. Mendegupkan jantungmu lebih cepat, menyesakkan nafasmu.

Kamu melihat jam, membuang setiap detiknya yang terasa lama dengan ketakutan tak berujung, semakin lama ketakutan itu semakin menjadi, anganmu semakin liar, logikamu lenyap tak menyapa.

Ini adalah hantu paling menyeramkan bagiku. Lebih menyeramkan dari sleep paralysis. Aku bangun. Tidak setengah tidur seperti biasanya. Tidak sedang menghadapi batas absurd antara sadar dan tenggelam. Tidak sedang berjuang untuk terbangun seperti yang sudah-sudah. Ketakutan ini nyata, terasa, berdesir di relung, menguasai otak, melumpuhkan segala naluri. Semua hipotesa yang ada seakan tidak berguna. Kebenaran tertutupi. Mata tak sudi kompromi.

Dan saat pagi mulai menjelang, aku akan bernafas sedikit tenang. Ketakutan itu perlahan memudar, seiring degup jantung yang melemah. Lalu aku akan terkulai dibuai mimpi.

Jangan tanya seperti apa.

Selamat tidur untuk semuanya.



Siapa Bilang Makan Gratis?


Sering pergi ke kondangan bersama orang tua, bisa bikin kalap dan gak tau diri. Kenapa?

Karena itu yang baru terjadi sama saya beberapa hari lalu.

Dapet undangan resepsinya temen SMU dulu. Udah rapih-rapih, dandan, pede ngelangkah ke tekape bareng temen. Gitu mau masuk, ngeliat sebuah kotak ngejogrok di meja penunggu tamu. Buset. Kagak bawa amplop! Maksudnya, duit yang dimasukin dalem amplop.

Nyikut temen, “Ssstt…kita gak ngasih amplop?”

Si temen juga ikutan melongo. “Trus gimana? Gak punya amplop…”

“Duit punya?”

“Berape?”

“Sepuluh ribu juga boleh. Berapa aja deh…”

Kita ngomong udah bisik-bisik.

Beruntung di dompet saya ada sisa amplop punya kemarin itu. Tapi malangnya, duit yang gak punya. Pengangguran. No comment.

Jadilah si temen sembunyi-sembunyi masukin duit dua puluh ribu ke dalam amplop. Eh, sumbangan gak boleh disebutin jumlahnya yak?

Terlanjur.

Setelah berhasil masukin duit ke amplop, kita jalan dengan anggun, nyolokin tuh amplop ke dalem kotak terus langsung menuju meja makanan. Dan makan sepuasnya.

Makan di kondangan itu gak gratis, mamen. Ada duit yang mesti disiapin dalem amplop. Kadang, kalo yang nikahan temen deket, kudu ngasih kado. Bukannya apa-apa, bentuk penghormatan lebih aja, mungkin juga nunjukin kalo dia punya arti lebih buat kita.


Kondangan yang Makan di Rumah


Suasana di kondangan jarang bisa bikin saya nyaman. Palingan ngerasa terbayar kalo makanannya enak-enak.  Itu biasanya kalo yang punya hajat orang-orang besar, bukan ukuran orangnya besar, you know what I mean, yeah?

Kayak tadi, dapet undangan resepsi. Yang punya hajatan termasuk orang besar. Bersiaplah saya, make baju juga yang nggak kayak biasanya. Ditawarin naik motor, saya nolak, mintanya naik mobil. Belagu saya. Padahal tempat acara sama rumah, jalan kaki sambil goyang karawang 5 menit nyampe. Tapi kudu kece gitu nyampe tekape.

Nyampe, turun, masuk. Tujuan pertama pasti nyari dimana letak meja makanan. Nemu, gak jauh dari pintu masuk. Udah semangat, perut juga udah merongrong minta diisi. Gitu cek isi meja, nyaris kosong. Ini apaan coba? Liat-liat lagi, dari arah pintu belakang, orang-orang pada lalu-lalang. Ngapain coba? Pada ngambil piring sendiri. Ini acara apaan sih?

Opsi kedua, ke meja camilan. Yak. Kaki ber-heels ini jalannya juga udah terseret-seret. Tapi ini urusan perut, saya samperin itu meja camilan. Dan tahu apa? Kosong.

Baiklah. Nyamperin manten, salaman, pulang, makan di rumah.

 Gaun yang tersia-siakan...

Sabtu

Siang yang tidak begitu panas. Lain halnya bagi orang yang baru putus. Dimana-mana aja pasti panas *nyesek*.

Yah, ketemu wiken lagi. Wiken yang masih saja terasa sama dengan hari-hari lain. Pengangguran gak punya sistem penanggalan yang jelas, akurat, juga reliable.  Seringnya salah nyebut hari, keliru nginget tanggal, paling berabe kalo narik duit di bank, salah nulis tanggal di slip penarikan, mesti tanda tangan lagi.

Ada segelas es teh manis yang nemenin siang yang agak sejuk di kamar, sebatang coklat, juga lagu-lagu asing yang mulai akrab di telinga. Wiken yang biasa aja, namun entah mengapa ada damai terselip. Setelah kejadian indah kemarin, senyum ini mampu bertahan lebih lama dari yang saya kira. Ini bukan curcol loh. Cuma pengen sharing aja. (bedanya?)

Udah begitu lama rasanya saya gak nulis dengan gaya gini. Kangen? Ya. Saya kangen bisa banyak bacot gak genah gini. Nulisin isi hidup saya yang gak kunjung jelas arahnya kemana.
Intinya sih, saya kangen nulis dan ngisi blog ini dengan begitu banyak tulisan. Jangan cari makna, saya sedang ingin berbagi aja. Hidup saya yang nggak seberapa ini bisalah untuk dituangin ke dalam 3 atau 4 paragraf aja. Walaupun meaningless.

Aih, wiken yang sama. Tapi gak tau kenapa ada yang beda aja. Apa coba? Entahlah. Saya hanya sedang bahagia. Bukan berarti kemarin-kemarin nggak bahagia. Tapi dapetin balik sesuatu yang salah dibuang itu bikin saya ngerti seberapa berharganya itu.

Mari nikmati Sabtu yang biasa aja ini dengan senyum mengembang sepanjang masa.

Gotta go!

Perempuan Tak Berhati. Aku.


Dan inilah aku. Perempuan tak berhati yang sedang mencoba bergantung pada hati seseorang yang sudi.

“Dengan apa kamu hidup? Hati atau logika?”

Kala itu kamu bertanya, ingat? Saat amarahmu memuncak, memunculkan sebuah tanya lalu memuntahkan sebuah persepsi.

“Kamu berlogika.”

Entah sebuah kebanggaan atau sebuah ejekan yang kudapat. Yang jelas, aku tidak mengelak pun mencoba berkelit.

Dan inilah aku. Perempuan yang sudah begitu lama mematikan hati, kamu tau aku apakan dia? Kubakar saat darahnya masih segar. Bau gosong itu…aku sungguh menikmatinya, saat ia tertikam panas membara, meronta, lalu terkulai tidak berdaya. Mati.

Tidak lagi ada hati di setiap langkah yang kusemai dalam hidup.  Tidak ada lagi hati di setiap senyum yang menghias demi rupa seseorang. Aku ini perempuan. Dan hati bukan lagi milikku.

Satu per satu terjadi, aku diam membalut luka, membebatnya dengan kasa pasrah bercampur alkohol kekalahan. Perih? Jangan tanya seperti apa rupaku saat itu. Diam menangis dianggap tertawa bahagia. Sendu mengisak dianggap derai gelak canda.

Ini bukan soal cinta. Mematikan hati tidak melulu soal patah hati. Ini adalah seperti apa kamu membunuh semua yang mungkin, asa, harapan, cita-cita, apa saja. Bahkan kesempatan. Cinta itu baru sekali kubuai, walaupun berakhir dengan luka sambit karena kepalsuan, bukan karena itu aku, perempuan, memutuskan membakarnya hidup-hidup.

Maka, inilah aku, perempuan tak berhati yang sedang memasang pengait harapan di hati seseorang. Agar langkahku tidak lagi pincang. Agar mimpiku tidak lagi kesepian. Juga mengumpulkan kepingan kepercayaan.

Menyedihkan? Aku tahu, tak perlu kamu mengangguk.


Menunggu Lelakiku


“Mungkin, kamu juga harus mengingat ini.”

Saat itu senja sedang pekat. Bukan jingga. Bukan juga kemerah-merahan setelah seminggu hujan tidak turun seperti bulan lalu. Ini senja. Dan ia gelap.

Aku sedang bersamanya. Wajahnya samar, tertutup kabut serta merta ketiadaan cahaya. Suaranya asing, tidak berat, tidak juga ringan. Namun berbaur antara keterserahan dan keterpasrahan, dengan sedikit keangkuhan. Aku mengenalnya hanya dari tutur kata serta tatap mata tak saling berbalas.

“Tidak semua ikan dapat ditangkap dengan cara yang sama.”, sayup kudengar lirih bicaranya. Lirih, namun emosi sedikit menekan lidahnya. Jarak kami tidak begitu jauh, namun entah mengapa tidak dapat kudekap keakraban nyata bersamanya.

Aku sedikit tercenung.

Pernah sekali waktu kudengar kalimat itu. Keluar dari mulut Lelakiku. Di saat itu badai bergemuruh dan tangan kami hampir terlepas. Di saat itu, Lelakiku berkata, “Karena tidak semua ikan dapat ditangkap dengan cara yang sama.”

Lalu badai menghening.

Kusungging senyum namun dengan helaan nafas yang tentu saja tidak terlihat dan tersamar. Pekat senja semakin meraja, bahkan sekarang desahan nafasnya tidak lagi bisa kuraih dalam angin yang bergelung panas.

“Maaf, dengan segala hormat yang kupunya, aku tidak bisa menerima kalimat itu.”
Memang badai terhenti setelah Lelakiku membisikkan kalimat itu pada gemuruh angin. Dan seharusnya aku bersyukur. Kalimat itu menyambung genggaman tangan kami.

Tapi, pantaskah aku bersyukur jika kalimat itu terpatri untuk keyakinanmu?

“Mengapa?”, sebuah tanya mencuat serta-merta diamku memaku. Tidak seberapa lama.

Gegap-gempita dunia menghantarkan kami kesini, bersedia dipeluk senja bertajuk pekat. Ada kedamaian dalam hening panjang sebelum hari menuju malam. Ada lelah terhapus dalam selimut hampa ruang tak bersekat. Dalam senja. Pekat. Gelap. Namun menenangkan.

“Dalam imajimu, mana yang kamu pilih, menjadi penangkap atau ikan yang ditangkap?”

“Ikan. Aku menunggu penangkap.”

Aku tahu, serta-merta, mengapa aku tidak dapat menerima kalimat itu kali ini. Karena kamu ingin menjadi ikan yang berenang terbatas di kolam, menunggu hingga seorang penangkap yang tepat tiba. Melepaskanmu dari keruh air, membawamu ke lautan luas, lalu kamu dapat berenang bebas, mengarungi samudera.

“Pesimis”, aku mematut menatap bayangannya. “Bahkan ia sendiri sebenarnya tidak begitu yakin dapat berhasil melakukannya.”

Lalu bayangnya semakin jelas terlihat di antara permadani dedaunan gugur. Aku tahu, senja sudah menghilang, seiring nyanyian malam mulai menyendu di balik pepohonan.

Kini, mulai dapat kutatap gurat-gurat keraguan terselip di antara keyakinan yang sengaja ia bangun menipu diri. Agar langkahnya lebih gagah, agar tegap badannya terbusung sempurna, agar tahu, hidup ini masih menyisakan sedikit kesempatan untuk digenggamnya.

Sekali lagi kucoba menatapnya dengan jelas.

“Penangkap ke berapa yang akan kamu izinkan untuk menangkapmu? Penangkap yang seperti apa?”

“Seperti Lelakimu.” Dan aku terpatung.

“Aku menunggumu Lelakimu datang, menyelamatkanku.”

Lalu bayangnya di antara permadani dedaunan gugur memerah, nyanyian malam memekik. Ia terkulai. Aku terengah. Lalu bulan menghilang. Setelah ia melihat sebilah pisau terhujam.

“Dia Lelakiku. Dan kamu tidak lagi harus menunggunya.”

Aku meludah.


Selalu Ada Kesempatan Kedua


Tidak ada yang salah dengan dunia maya. Berbagai anggapan mungkin dirasa. Kadang bisa dibarengin keseriusan, kadang murni hanya tersirat candaan.  Manusia sekarang lebih bebas memilih, ingin menjalin hubungan di dunia nyata, atau malah merasa lebih nyaman di dunia maya. Tapi, pada akhirnya, semua harus dibawa lari ke nyata. Karena apa? Karena kita manusia, punya wujud dan bisa merasa, juga meraba. Butuh pengakuan secara fisik dan kasat mata. Butuh keyakinan dari lisan juga tatapan. Bukan hanya membaca dari berderet huruf apik terangkai sempurna. Bukan. Kita manusia, gestur tubuh pun sarat makna.

Masa lalu yang menyeramkan, wajah yang kurang mendukung, bahkan sifat kurang percaya diri. Banyak hal mengapa dunia maya menarik begitu banyak minat orang-orang untuk berkutat, berinteraksi, berkomitmen, bahkan meraih rezeki. Tidak ada yang salah. Sungguh.

Saya bertemu beragam sifat manusia, strata sosial, kondisi keluarga, bahkan latar belakang hidup di dunia maya. Media-media sosial menjadi wadahnya. Dan saya mendapati, tidak ada yang salah dengan diri mereka. Hanya saja, terkadang, penilaian yang sudah terlampau buruk melekat akibat pekatnya masa lalu menjadi penghalang. Lalu merasa rendah diri, tidak pantas.

Itulah gunanya Tuhan mengajarkan kita ikhlas dan rendah hati. Tidak ada yang sempurna di dunia. Bahkan, ketika masa lalu yang kelam dijadikan alasan utama untuk mencemooh diri sendiri, manusia sudah terlalu jauh melampaui kasih sayang Tuhan. Ada kesempatan kedua, Tuhan menjanjikan, untuk memperbaiki diri. Tidak ada yang terlambat, bahkan bertobat sebelum ajal menjemput masih diterima oleh-Nya. Jadi, kenapa harus merasa terlalu nista di hadapan para manusia?

Ketika niat untuk menjadi lebih baik ada, percayalah, selalu ada jalan yang dibuka oleh Tuhan.


Gabuk Manok, Gabuk Itek


Itu adalah ungkapan dalam bahasa Aceh yang artinya kurang lebih, ‘jangan ikut-ikutan’.

Baru-baru ini saya baru saja membeli sebuah ponsel ber-OS Android. Lagi tren kan? Ya. Masalahnya saya benar-benar buta sama OS ini. Sudah 5 tahun saya nggak ganti ponsel. Jadi maklum saja.

Seorang teman yang duduk di samping saya nyeletuk, setelah saya dibombardir bertubi-tubi pertanyaan oleh teman yang duduk di depan saya mengenai Android ini. Entah memang takdir yang mengkhianati saya, ponsel si teman ini sama persis dengan punya saya. Jadilah dengan lihainya dia mempermainkan saya dengan pertanyaan yang tidak henti-hentinya.

“Makanya, kalo mau punya barang itu dicari tau dulu. Minimal pemahaman dasarnya aja.”, kira-kira gini teman saya itu ngomong. Entah yang di sebelah, entah yang di depan.

“Gabuk manok, gabuk itek. Orang pake ini, dia juga pake.”, kalo yang ini jelas-jelas teman yang di sebelah yang pake. 

Saya sih nyengir, dalem hati nyess juga.

Bener sih temen saya itu, seharusnya saya nyari tau dulu sebelum beli. Abang saya juga memakai ponsel berbasis Android, tapi beda merk dan nggak punya masalah yang berarti, seperti dicecar teman saya yang duduk di depan  itu.

Tapi saya gak ikut-ikutaaaaaan!

Saya loyal sama satu merk. Kalo udah enak, besok-besoknya beli lagi dengan merk yang sama. Ini juga berlaku untuk pembalut dan deodoran, bahkan underwear.

“Kamu bisa beli yang versi lain. Nggak harus Android kan?”

Bener sih, kata si temen di samping. Tappppiiiii……saya suka yang ini, gimana doooong?

Men and women are look alike, but nope, they’re totally different.

Dua temen saya itu adalah laki-laki, yang satu lagi LDR-an, yang satu baru aja merit. Sedangkan saya? Perempuan. Ngikutin hati lebih condong kemana.

“Ah, nanti-nanti juga saya ngerti. Udah punya, baru nyari tau.”, saya membatin.




Dan Jika...


Dan jikalah memang aku yang merampas paksa kebahagiaan kalian berdua, maka mengapa menghujat di belakangku? Cukuplah katakan, bahwa akulah peran jahat disini, di lakon bertema cinta ini yang di dalamnya ada kamu, dia, dan aku, juga para figuran yang tidak tahu-menahu apa yang sebenarnya tengah terjadi, tapi merasa punya peran penting di dalamnya. Aku akan pergi, dengan keikhlasan yang tidak mampu kalian bayangkan.

Dan jikalah aku begitu licik di mata kalian, maka mengapa begitu tunduk di bawah kejahatanku? Cukuplah berontak, menegaskan, bahwa aku telah berbuat dosa, menghalangi-halangi dua anak manusia yang tengah di mabuk asmara untuk bisa menggenggam tangan bersama di depan khalayak ramai. Aku berani bersumpah, jika saja…jika saja kamu meminta, aku akan mengizinkan. Dengan sepenuh hati yang tidak bisa kalian lakukan.

Dan jikalah namaku begitu hina untuk disebut, maka mengapa masih saja begitu nyaring memanggilku di keramaian dengan senyum palsu itu? Cukuplah untuk memberitahuku, bahwa kalian sudah enggan melafalkan namaku dan berhentilah menyebutku “si itu”. Sungguh perih mendera, saat tahu, bahwa kalian yang selama ini kuhormati ternyata begitu memandangku busuk.

Dan jikalah ini semua aku penyebabnya, maka mengapa kamu diam saja dan begitu menikmati tragedi? Tidakkah ada secuil saja rasa kasihanmu untukku? Aku disini, sedang berusaha, memperbaiki apa yang telah pincang. Sedangkan kamu disana? Mulai membuat matahari baru. Bukan aku yang tidak sudi melepaskanmu. Tapi kamu yang terlalu serakah untuk dicintai. 

Ah, aku rasa tidak ada guna untuk berharap kamu akan mengakui segalanya. Segala yang sebenarnya terjadi. Di lakon ini. Antara kita, kamu, aku, dan dia. Yang para figuran itu tidak tahu. Yang para figuran itu menyangka akulah si Buruk Rupa. Karena kuping mereka hanya sebelah. Yang diisi dengan cerita-ceritamu. Dan curhat-curhatnya. Tanpa pernah tahu, akulah, yang mengiris hati, mengunyah perih, membuai sakit.

Dan jikalah dia memang yang untuk saat ini ingin kamu miliki, kenapa terus menggantungkan kesempatan di pintu hatiku?

Tidakkah kamu bisa merasa bahwa itu cukup menyakitkan?

Tidakkah?