Wiken dan Keabsurdannya


Well, it’s end of the week already. Udah sabtu aja. Udah wiken aja. Hari itu memang gak seharusnya ditunggu dalam resah juga cemas yang berlipat-lipat. Persiapkan diri, tapi jangan sampe gak enak ngapa-ngapai, nanti yang ada pas tiba harinya malah keteteran semuanya. Ini saya bahas apaan sebenernya? Pikiran saya lagi jalan-jalan ke adegan orang yang mau nikahan. Deg-degannya pasti gak terkira yak? Itu ngomong-ngomong si Anang sama Ashanti bener gak sih berantemannya di tv? Kok saya nangkepnya berlebihan gitu yak? Masa urusan katering aja bisa sampe segitu hebohnya sih? Yah, mari kita skip aja bagian itu. Ibu saya pagi-pagi bukan kasih semangat pagi, malah curcol urusan si Anang-Ashanti yang mau merit tapi gak merit-merit dan mesti berantemnya direkam trus ditayangin di layar tv. Aneh menurut saya. Yah, tapi tetep yang lebih aneh yang doyan konsumsi berita itu. Lah, berarti Ibu saya aneh dong?


onion-emoticons-set-6-82
Errr….saya udah ogah bahas itu ah~onion-emoticons-set-6-40
*takut durhaka


Pertemuan. Ya, pertemuan dua manusia untuk bisa saling mengenal hati masing-masing menurut saya proses yang menakjubkan. Dari tiada menjadi ada. Dari tidak merasa menjadi terasa. Dari tidak butuh menjadi tergantung. Dari tidak biasa menjadi terbiasa. Jangan tanya bagaimana Tuhan bisa menyengajakan ketidaksengajaan itu sehingga semua berjalan indah, walau kadang harus tertatih untuk bisa menuju bahagia itu. Jangan liat susahnya, tapi liat tujuannya, untuk apa kita mau repot-repot dan susah-susah meraih bahagia itu dan hanya terpaku sama satu orang saja? Ya itu karena kita yakin cuma dia yang bisa, mampu, dan pantas bikin kita bahagia. Bukan begitu?

Maaf. Kalau hari ini diksi saya kacau dan rangkaian kata saya juga amburadul, kesana-sini larinya. Ini saya sedang mencoba menikmati wiken yang terasa sama saja seperti hari-hari lainnya. Mencoba gaya orang kantoran yang bermalas-malasan di hari wiken, padahal tiap hari saya juga males-malesan. Ah, berat badan, kenapa kamu harus terus naik? *ngelirik timbangan*

Sudah bertemu dengan orang yang dikirim Tuhan untuk menjanjikan bahagia bagimu? Jika belum, bersabarlah. Jika sudah, berbahagialah.

Selamat wiken deh buat yang sangat sumringah nyambut wiken. Saya? Saya juga sumringah, soalnya tadi baru nyambut duit jajan. onion-emoticons-set-5-22





Memeluk Mentari


Memang salahku sedari awal memberimu mentari. Membolehkanmu menyentuhnya, mengecup mesra setiap kali ia akan pergi ketika malam sudah menanti.

“Mentari ini milikku.”

Ucapmu suatu waktu, memeluknya erat, seakan ia akan meledak tak bersisa membaur bersama udara. Setidak rela itu kamu untuknya. Aku mengerti.

Namun, ada kalanya mentarimu tidak bisa kamu peluk, dekap erat tak mau lepas. Ada kalanya ia tidak mau, hanya mau sendiri, hanya ingin begitu. Ada kalanya ia ingin berjarak darimu, berbagi cerita-tawa-suka-bahagia bersama. Ada kalanya seperti itu.

Mentarimu memang hanya milikmu. Sudah kuniatkan seperti itu. Sudah kuikrarkan untuk utuh menjadi milikmu. Namun, terkadang, ia pun ingin sendirian menikmati hangatnya.


Mengimani Tulisan


Jumat pertama di bulan Mei. Hujan sedari pagi. Saya selalu menyukai Jumat yang hujan. Karena bagi saya, Jumat adalah hari yang paling cocok untuk berdiam diri di rumah dan menikmati setiap lekuk kemalasan yang semakin merajai tubuh saya.

Kemarin saya absen nulis. Ini menyalahi peraturan dengan diri sendiri sebenernya.  Tapi hari ini saya nulis kok. Dan saya mau share apa yang sedari kemarin menguasai pikiran saya hingga semua camilan di kamar abis gak bersisa.




Dilahirkan mahir ngerangkai kata itu gak melulu baik. Percaya saya.

Saya dulu nganggepnya juga anugerah, ini bakat yang luar biasa. Bisa dengan gampang milih dua-tiga di antara ribuan kata menjadi satu rangkaian kalimat yang logis dan bisa dingertiin banyak orang adalah bahagia yang gak ternilai harganya. Sejaman SD dulu, saya masih sering pusing baca karangan temen sekelas. Padahal inti cerita yang ingin dia sampaikan cukup sederhana, tapi karena campuran kata-katanya amburadul, jadi sulit untuk bisa dimengerti. Lalu saya sadar, saya dikasih suatu kelebihan dan tiba-tiba saja saya merasa keren. *abaikan kalimat terakhir*

Punya bakat nulis bisa bikin yang punya kadang dicap aneh (freak) bahkan bisa dianggap gila. Orang dengan bakat nulis, imajinasinya cenderung liar, satu kalimat ia baca, imajinasinya bisa kemana-mana. Inilah yang dinamakan ide. Lalu imaji itu dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Yang sering disalah-kaprahi oleh pembaca tulisan tersebut, sebagai sesuatu yang riil.

Tulisan seorang penulis memang merepresentasikan dirinya, namun tidak melulu tulisan itu nyata terjadi di hidupnya. Ini soal imajinasi, soal penulis bisa dapetin ide luar biasa dari hal-hal sederhana yang terjadi di sekelilingnya, ini soal taste. *halah*

Jangan melulu ngambil kesimpulan sepihak tanpa adanya klarifikasi dan investigasi lebih mendalam mengenai kehidupan penulis yang tulisannya kamu baca. Ini kayak pepatah,

“Liat kardus dari gambar luarnya, lalu bercerita ke orang menerka isi di dalamnya.”

Jadi, maksud saya nulis gini apaan?

Cuman satu.

Jangan mengimani isi tulisan saya seperti mengimani Tuhan. Mutlak dan tidak terbantahkan.


1 Cerita Cinta 2 Wanita


Dan aku disini, menggapai asa yg tak mungkin.
Sedangkan kamu disana, menggapai jemarinya.


Kamu tau, pagi ini kuhabiskan waktu seorang diri melawan lajunya waktu dengan tergesa. Sedangkan kamu disana, menghabiskan pagi bermesraan dengannya.


Kita tau kita sama-sama terluka. Tapi mengapa masih saja berlomba menyayatnya?


Kenapa kamu malah tega memulai suatu hal yang enggan kita akhiri dengan tangisan?


Karena hatimu yg enggan tetap berpegang padaku.
Aku galau~


Sejatinya kamulah yang ingin kembali pada kisah lamamu.
Aku nelangsa~


Seandainya kamu memilih untuk tetap disini, terluka tidak akan senyelekit ini.
Kamu bukan Rangga. Dan kita tidak sedang di dalam film Ada Apa Dengan Cinta.


Dan jarak jangan pernah kamu jadikan alasan. Kita tidak akan mati hanya karena jarak. Bahkan Romeo dan Juliet mati bukan perihal jarak.


Dan jika sekarang aku memilih memilin harap bersamanya, itu karena dia yg meyakinkanku untuk berpegang padanya. Bukan padamu.
Kita sedang terluka. Bahkan drama Korea tidak mengisahkannya.


Dan aku mungkin akhirnya harus menahan perih menusuk jantung melihat kenyataan takdir mengikatmu dengannya. Aku bisa apa? menari di bawah hujan laksana adegan film India?


Tidak perlu menari di bawah hujan.
Cukup lepaskan genggaman jemarinya. Dan kembali gapai aku bersama ikrarmu.


Kamu, apakah kamu yakin memutuskan takdir yang telah terpatri antara dirimu dan dirinya?


Takdirku bukan satu jalan buntu. Ia bersimpang. Dan aku berhak berbalik arah.
Dan kamu, apakah kamu sudi melepas jemarinya dan menghampiriku?


Jemariku terdiri dari dua tangan. Aku pernah menggenggamnya dengan tangan sebelah kiriku. Izinkan kali ini aku genggam jemarimu dengan tangan kananku dan melepaskan yang lainnya.


Jika begitu, mengapa foto itu masih saja kulihat setiap kali sadarku menyapa?
Foto jemarimu dan jemarinya terkait erat.


Lihatlah dengan mata hatimu yang penuh cinta atas nama kita. Maka hal lain yang kau lihat itu hanyalah fatamorgana. Lihat hati kita saja. Itu yang nyata.


Dengan segala cinta nyata yang kupunya untukmu, aku akan melihatnya. Tapi, ah…dimana kemarin kutitipkan hatiku sementara? Apa kamu melihatnya?



Tulisan kolaborasi: Intan Khuratul Aini dan Desrian Harleni

Selamat Datang Mei :)


Walaupun hari pertama di bulan Mei ditandai dengan May Day alias hari buruh sedunia yang artinya semua buruh berdemo menuntuk hak-haknya sebagai seorang manusia, bagi saya hari ini tetaplah Selasa yang membawa sejuta senyum. Pengangguran kayak saya bukan gak bisa bahagia dengan hal-hal sederhana. Kadang, punya uang 10 ribu di kantong udah bisa bikin saya bayangin banyak makanan yang bisa dipilih untuk dijajanin. Saya suka makan. Suka jajan. Suka makan gak teratur. Namun saya nggak suka…..nasi. Bukan berarti saya gak makan nasi. Nasi masih tetep harus dimakan, walau seringnya umpet-umpetan ngehindar dari Ibu saya.

Makanan lain yang saya hindari adalah…sayur.

Ini musuh paling bebuyutan.

Tapi zaman berubah kok seiring selera saya yang juga mulai mau kompromi sama keadaan. Yah, sayur udah nggak semengerikan dulu tampangnya di imajinasi saya. Dulunya saya bayangin kayak monster. onion-emoticons-set-5-79 
Eerrrr….seriusan. onion-emoticons-set-5-5Kayak monster mau nerkam gitu tiap mereka udah tersaji di piring dan tertata apik di atas meja. Jangan bilang saya berlebihan. Imajinasi saya emang gak karuan.

Tapi sekarang ada beberapa jenis dan macam masakan sayur yang udah mau saya makan. Terutama yang berbumbu kental, semacam gado-gado atau pecel. Yang rasa sayurnya bisa tersamar. Jangan ngasih saya sayur bening yang kuahnya aja hanya berasa garem dan inti-sari-pati sayurnya *halah. Terlebih ngasih saya lalapan sayur mentah.

Yah, ini tulisan apa sih sebenernya?

Sudahlah. Semakin panjang tulisan ini akan semakin absurd rasanya.

Pokoknya selamat datang Mei beserta keajaiban-keajaibannya di hidup saya. onion-emoticons-set-6-48



Mencintai Seorang Lesbian


Kamu laki-laki? Punya hati? Ada baiknya sebelum jatuh cinta kenali dulu baik-baik perempuan yang akan kamu jatuhi dirinya dengan cintamu. Karena apa? Karena mungkin saja perempuan itu seorang…lesbi.

Atau sudah jadi mantan…lesbi.

Sebenernya jatuh cinta sama lesbi itu gak buruk-buruk amat. Malah gede baiknya. Kamu gak perlu repot-repot cemburu sama laki-laki yang selalu komen statusnya di jejaring sosial atau teman laki-lakinya yang kerap mengajaknya ngopi. Dia gak akan tertarik. Seganteng apapun laki-laki itu, dia tetap gak akan tertarik. Seasik apapun laki-laki itu, dia gak akan bergeming. Sekaya apapun laki-laki itu, dia gak akan…errr…mungkin ini pengecualian, temen yang bisa traktirin kapan aja itu langka. Tapi tetep dia bakal nganggep temen. Gak lebih.

Tapi waspadalah pada teman-teman perempuannya. Apalagi jika ternyata dia mempunyai seorang mantan pacar perempuan. Seorang perempuan lesbi punya perasaan yang lebih sensitif dari perempuan-perempuan normal lainnya. Jika mereka sudah pernah berkomitmen dalam sebuah hubungan dan memakai rasa, mereka pasti benar-benar serius menjalaninya. Maka, cemburulah pada perempuan yang pernah, sedang, dan akan dekat dengannya.

Seorang perempuan lesbi bukan berarti tidak bisa mencintai lawan jenis. Hanya saja sangat sulit. Laki-laki yang jatuh hati pada seorang lesbi harus sangat sabar dan benar-benar serius mencintainya. Jika hanya perkara sebatas suka, lebih baik tinggalkan segera. Perempuan lesbi tahu dengan baik siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang hanya sekedar penasaran. Lagi pula, perempuan lesbi ogah main-main perasaan. Terlebih dengan lawan jenis.

Cukup bermodal sabar, juga tulus. Perempuan lesbi itu juga manusia. Pun mengakui tidak punya hati untuk laki-laki, tapi dia masih punya sisa nurani. Sentuhlah dengan kesungguhan. Lambat-laun pasti luluh juga kok.
Mencintai perempuan lesbi? Jangan gusar. Dunia belum kiamat kok onion-emoticons-set-6-117



Penghujung April


Ini April, sudah tiba di penghujung. Dan saya merasakan bulan ini sangat membahagiakan.

Dua sahabat saya berulang tahun di bulan ini, seiring usia mereka bertambah, kebersamaan kami juga semakin usang, tidak lagi bisa dikatakan sahabatan yang abegeh-abegehan, banyakan berantem karena sensi atau nangis-nangisan karena akhirnya ngerasain patah hati pertama. Kebersamaan ini sudah jauh berkembang seiring dengan tahun-tahun yang terbuang. Banyak suka, duka, tawa, air mata. Bukannya tanpa pertengkaran atau sekali-dua kali terselip rasa benci, tetapi nyaman menyatukan kita kembali.

Selamat ulang tahun, Sahabat-sahabatku. Semoga akan selalu ada kita di setiap tahun yang dilalui sendiri-sendiri dengan jalan kita sendiri :)


Seorang sahabat saya, akhirnya menjalani juga sebuah hubungan yang benar-benar disebut hubungan serius antara seorang laki-laki dan perempuan. Bukan hubungan yang timpang sebelah. Bukan juga hubungan ecek-ecek yang gak jelas ujungnya kemana. Semoga langgeng dan berjodoh.

Selamat berbahagia, Sahabat.  Foto gandengannya bagus, mesra banget :)


Dan di penghujung April ini, yang paling membahagiakan adalah...

Saya akhirnya…punya hati. Bukan hasil sewaan, atau rajahan. Ini murni hati saya.

Aah…April yang bahagia :)

Selamat menuju Mei onion-emoticons-set-2-128



Gandengan Tangan


Kata seseorang yang baru saya kenal, pacaran gak gandengan tangan itu gak ada indah-indahnya.

Enak lho kalo gandengan tangan. Gitu katanya.

Cobain deh. Apa? Di Aceh susah yah mau gandengan tangan? Kasian.

Ah, saya sih cuman senyum-senyum sendiri nanggepinnya.

Bagi saya, buat apa gandengan tangan kalo yang digandeng nggak ngerasain hal yang sama? Coba deh tanyain ke pasangan kamu, dia ngerasain apa pas digandeng sama kamu? Kalo ngerasa lempeng aja, ngapain coba jauh-jauh ke Jakarta cuman buat gandengan?


Ngeludah Sembarangan


Saya kok rasanya makin kesel pengen nampol orang yang berkendara di tengah jalan raya trus tiba-tiba ngeludah gitu. Iyak, dia buang ludah, yang lebih parahnya lagi ke sebelah kanan, yang artinya ke jalur cepet kendaraan. Saya kok gak abis-abisnya heran sama orang-orang yang kayak gini jumlahnya makin banyak aja. Apa ngeludah sembarangan pas lagi berkendaran itu keren yak? Trus dikagumin perempuan-perempuan yak? Trus diajakin nikah rame-rame yak? Trus perempuan-perempuan rela gitu dipoligami yak? Ini apaan sih? Makin absurd tulisan saya karena emosi. 

Tau ngapa? Untuk kesekian kalinya, saya nyaris kena getah kelenjar saliva seorang laki-laki gendut yang bahkan ngarahin motornya aja nggak jelas kemana. Tiba-tiba aja, cruuut, dia ngeludah, ke sebelah kanan. Semeter lagi saya nyaris kena. Ini laki-laki kok ada yang mau yak yang jenis ginian? Jorok. Apa mungkin karena jumlah perempuan sekarang lebih banyak ketimbang laki, jadi ya ketimbang keduluan abis, si perempuan ya mau aja.

Ah, absurd. Sudahlah.


Pelangi Setelah Hujan


Hujan…

Kali ini dingin yang kurasa. Tidak biasa. Menggigil. Mencoba mendekap tubuh sendiri. Nihil. Dingin terlalu menusuk, seperti sembilu menyayat setiap inci pori. Menangis? Ah, sudahlah. Sudah terlalu cengeng dan merasa begitu bodoh. Bertahan saja. Sampai batas mampuku untuk berdiri, menegapkan badan, menyunggingkan senyuman.

Aku merindukanmu, Pelangi. Kadang sampai nyeri menodai hati. Tetapi hujan sedang menari. Sabar sekejap ya? Ia tidak akan lama. Aku berjanji. Saat ia pergi nanti, aku akan kesana, menyusulmu yang sedang mengigit perih, mencoba tegar pada semua yang terjadi. Bersabarlah, akan ada pelukan nantinya. Seperti pelangi setelah hujan. Bersabarlah…

 Foto: Rudi Nurdiansyah