Bola. Perempuan. di antaranya_

EURO udah mulai. Yang punya pacar dan pacarnya gila bola udah bisa siap-siap dianggurin selama sebulan. Apalagi yang baru-baru jadian dan masih anget-angetnya pelukan, tiba-tiba harus dilepas dan didinginin. Hiiiiy….horor. Tapi yang lebih horor yang masih di-pedekate-in terus dan gak dijadi-jadiin, mau cemburu gak bisa, gak cemburu, bisa-bisa kena lever. Hiiiiiyy….

Bola dan perempuan memang selalu jadi momok yang menakutkan. Dimana bola bisa nyingkirin prioritas perempuan di hati laki-laki. Hiiiiy…horor bagi perempuan, biasa aja bagi laki-laki. Tapi bisa jadi gak biasa buat laki-laki saat perempuan mulai berdemo meminta persamaan strata dengan bola di hati mereka (laki-laki). Ini yang mulai bikin pusing, sering memicu pertengkaran, dan bisa-bisa ujung-ujungnya putus.

Saat perempuan meminta perhatian laki-laki tetap konstan bahkan di saat ada pertandingan bola, bagi perempuan itu adalah pembuktian. Namun, saat laki-laki harus membagi perhatiannya saat sedang fokus menyaksikan jalannya pertandingan, bagi laki-laki itu adalah derita tiada akhir.

Solusinya? Pinter-pinter gimana ber-deal aja. Tawar-menawar itu penting. Jadikan bumi ini lebih go green.

You may say that’s a curse. But for me, it’s a sacrifice.


–kita


Keadaan yang meniadakanmu dalam hujan bergemuruh angin semalam. Ada ranting-ranting harap yang patah terpaksa saat doa-doaku tidak terpanjat sempurna. Ada bias air terselip dingin beku saat tempiasnya menghantam ruangku. Ada kamu dalam kesunyian yang begitu lama dan mengendap. Bahkan di malam sesunyi ini mimpi-mimpiku tetap saja merangkak nyata.

Ketakutan. Kedinginan. Lara tak berkesudahan. Aku baru saja tahu apa makna bahagia tatkala sepasang matamu menghempas semua ragu ke ujung sana. Aku baru saja tahu bahwa hujan tidak serta-merta mengantarmu padaku dalam kalut. Aku baru tahu, Tuhan menyisakan cinta untuk kunikmati bersamamu.

Namun jalannya renta, rapuh disana-sini. Kadang tidak tahu harus berpegang dimana, hingga hanya bisa berdiri diam mematung menyeimbangkan diri agar tidak terperosok. Kadang harus berpegang pada ranting kecil rentan goyangan dan hentakan, tidak bisa bergantung menumpu setengah beban diri –takut putus lalu tergelincir ke dalam jurang. Kadang juga, harus rela memasrahkan diri pada takdir saat tidak ada yang bisa diandalkan, menekatkan diri terus melaju menerka potongan kayu mana yang masih cukup kuat untuk dipijaki. Kadang angin menggoyangkan semua yang ada, menggoyahkan keyakinan juga asa yang masih terpahat basah.

Ada bahagia di ujung sana. Tanah terjal ini bukanlah apa. Gunung curam ini bukanlah penghalang kita. Genggam tanganku, yakin kubawa dirimu bersama. Kesana.
–kita

Udah Saatnya


Nggak terasa rambut saya udah sepunggung. Pertama kenal kamu rambut saya masih cepak. Masih hobi-hobinya ngegembel, make kaos oblong, jins belel, dan sandal jepit. Masih gunain dompet laki-laki buat ngisiin duit dan beberapa kartu penting. Masih hobi juga flirting-flirting sama perempuan. Intinya saya masih begitu ganteng saat itu.

Kenal kamu, ngelewatin banyak hari, kebersamaan, juga kesempatan. Dan saya berubah. Bukan seperti kstarian baja hitam. Saya mulai ninggalin kets kesayangan, diganti sama flat shoes yang modelnya banyak yang unyu-unyu gitu onion-emoticons-set-6-88 
Saya juga mulai ogah dikatain ganteng, dipanggil Oom sama ponakan. Intinya saya mulai balik ke kodrat.

Dulu saya pernah janji sama sepupu kalo saya gak bakal berubah. Saya mau tetep kayak gitu. Rambut cepak, jins usang, kaos kedodoran. Saya mau konsisten, ogah dikatain mencla-mencle. Ya kalo ada yang suka sama saya, terima saya apa adanya dong. Cetakan udah macho begini, mau diapain? Jangan nyuruh saya berubah, saya ogah berkorban demi cinta. Cinta yang harus berkorban demi saya. *halah*

Tapi kok makin kesini makin sulit konsisten yak?

Makin tergoda aja liat itu sepatu-sepatu cantik yang dipajang di etalase toko, baju-baju unyu yang dipakein di manekin-manekin. Majang foto-foto yang manis-manis di jejaring social. Saya mendapati diri saya makin…

Aneh.

Eh, feminim maksud saya onion-emoticons-set-4-15

Mungkin ini udah saatnya…
onion-emoticons-set-6-39



Ratapan Jomblo


Gini deh, oke, saya suka situ. Trus, ngapa? Kenapa malah saya yang mesti nangis? Kan saya yang punya cinta, situ nggak. Kenapa musti saya yang terisak di sudut kamar saban liat kamu gandengan tangan sama gunduruwo yang rambutnya di-rebonding itu? Atau liat kamu cipokan di ujung koridor mentok sama dinding pustaka sama Sundel Bolong yang bodinya bohay-asoy-geboy itu.

Saya itu kesel. Yah kamu nggak emoh-emoh gitu sama perasaan saya. Saya udah kadung cinta sama kamu. Udah ngesot-ngesot buat dapetin satu aja lirikan mata kamu. Susahnya setengah mampus…

Belon lagi musti saingan dateng paling cepet tiap pagi sama si Kuntilanak yang hobi pake gaun mini itu cuman supaya bisa duduknya deket-deket kamu. Yaelah, gempor juga ni kaki saban pagi musti lari-lari ngejerin angkot yang penumpangnya udah pada penuh sesak sama anak sekolahan. Kepagian soalnya.

Saya itu yah heran sebenernya sama kamu. Lah kok malah nggak pernah gitu ngerasa ces-krenyes-krenyes pas saya flirt. Saya malah udah pake jurus kedip-kedip mata loh supaya situ kesengsem sama saya. Udah pake jurus kejedot dinding trus pura-pura pingsan. Udah sengaja jatuh-jatuhin buku supaya kamunya ngutip trus balikin ke saya. Tapi lah kooooook……?

 Saya abis akal ngadepin kamu. Apa saya jampi-jampi aja ya?


Percakapan Pagi


| Kamu hendak kemana? tanya guling saat dihempaskan ke sudut tempat tidur.

“Mengambil hp. Siapa tau…”, Farah melangkah gontai menuju meja tak jauh dari tempat tidurnya, tempat ia meletakkan ponselnya.

| Siapa tahu apa? Mana mungkin, Farah…. ditertawakan oleh bantal, Farah memilih cuek.

Ia lalu menekan tombol pembuka kunci, menatap layar ponselnya. Kosong.

| Tidak ada kan? selimut terkekeh. Pastilah ia telah lupa pada pagimu. Pastilah ia kini lebih memilih terbuai mimpi daripada menyambut pagi bersamamu.  

Farah masih saja menatap layar hingga lampunya redup sendiri dan pengunci otomatis bekerja.

| Sudah, kembali saja kesini, kita sambung lagi mimpimu yang terputus karena resah menunggu. kasur mengajak sembari tersenyum.

Farah menghela nafas, meletakkan kembali ponselnya dengan gamang, menuju tempat tidur.

Tidak ada selamat pagi, sudah berhari-hari. Farah membenamkan kepalanya ke bantal.

| “Semoga kali ini aku mendapatkan pagiku bersamamu.”, ujarnya dalam doa sebelum ia kembali terlelap. |


Terbiasa_


Sebuah lagi penghantar tidur yang sudah berulang kali diputar seharusnya sudah dapat melelapkanku. Sudah setengah 1 dini hari, namun mataku masih sehat wal afiat tidak kurang suatu apapun. Mungkin sebentar lagi aku akan bermetamorfosa menjadi siluman kalong. Mungkin.

Sebatang coklat bisa jadi teman yang sangat efektif di saat malam-malam kelaparan. Cukuplah makan dua potong untuk mengganjal perut, tidak perlu takut akan gemuk, dua potong kecil coklat itu akan segera berubah menjadi bakaran lemak saat otakku berusaha mengolah aksara menjadi makna. Sebenarnya coklat ini agak terlalu….manis.

Ini coklat yang berbeda dari yang biasanya kumakan. Niatnya sih ingin mencoba sesuatu yang baru, siapa tahu pilihan kali ini juga tepat, siapa tahu lidahku bisa fleksibel akan beberapa rasa berbeda, siapa tahu…

Tapi yang tahunya, aku merasa kemanisan, manisnya nyelekit hingga membuatku mengernyitkan kening ketika berusaha menelannya. Yang kusukai hanyalah saat sisa-sisa almon di mulut telah luruh dari gumpalan coklat, lalu dapat kukunyah dengan tenang, menelan dengan nyaman. Namun tetap saja, almon ini tidak seenak almon di coklatku biasanya.

Terbiasa. Ya. Apa-apa yang telah terbiasa memang susah dilupa. Sudah melekat hingga sulit dilekang. Manusia, begitulah caranya mereka hidup. Ada dua-tiga yang menyukai dinamika, namun kebutuhan dasar tetap saja sebuah keterbiasaan.

Cinta bisa saja menjadi kebutuhan dasar –terbiasa- atau kebutuhan pelengkap –tidak terbiasa. Cinta bisa menjadi sesuatu yang diwajibkan ada di hidup seseorang –karena terbiasa- dan ada yang menganggapnya tidak penting –karena tidak terbiasa.

Semua hal yang terbiasa, maka akan menyisakan hampa saat itu tidak lagi bisa menjadi sebuah keterbiasaan.  Semua hal yang tidak-terbiasa, maka akan terus tersingkir tidak digubris keberadaannya.

Putus dari pacar, patah hati, lalu merasa sepi. Terbiasa ada seseorang, terbiasa mencintai seseorang, lalu menjadi tidak-terbiasa tidak ada seseorang, tidak-terbiasa tidak mencintai seseorang. Terbiasa tanpa hampa, lalu menjadi tidak-terbiasa bersama hampa.

Hey, bukankah hidup ini pilihan? Dengan apa kamu ingin hidup. Terbiasakan atau tidak-terbiasakan. Pilihlah salah satu dengan bijak, juga sesuai waktu dan kondisi. Hidup pasti akan menunjukkan jalannya.

Don’t try to find love. Let love find you –sebuah pepatah.


Berani Gak Sih?


Mari berbicara mengenai tinggi badan dan cinta. Bukan bau badan dan cemekam. Tolong dibedakan.

Cinta itu sulit ditebak kapan hadirnya, seringnya nggak bisa milih mau hinggap di siapa. Bisa sih mikir dan nimbang dulu ini-itu sampe akhirnya mutusin dia pantes dikasih cinta dan juga usaha, tapi tetep aja cinta itu gak bertuan, terserah ia mau kemana.

Kadang cinta datang di antara dua orang yang sebenarnya kalau disandingkan berdampingan akan terlihat agak sedikit…..rancu. Jika si Laki-laki lebih tinggi dari si Perempuan, maka itu hal yang lumrah. Namun, jika sebaliknya?

Saya selalu nanya ke setiap laki-laki yang saya temui. Soal momok ini.

Berani gak sih deketin perempuan yang tingginya sangat jauh dari kamu?

Dan semua menjawab, “Berani!”

Saya kagum sama jawaban mereka semua, alasan-alasan yang diberikan pun keren-keren. Tak ayal saya pengen memacari mereka semua. *nah lho?* *lospokus*

Tapi kenapa kenyataannya gak kayak gitu?

Bukan gak ada sih, ada dan gak banyak pasangan yang terbalik seperti itu.

Karena apa? Karena dibutuhin keberanian dan keikhlasan yang besar. Yang laki-laki harus berani dengan tinggi badan seadanya ngedeketin perempuan yang dia taksir, dia harus berkorban harga diri. Harga diri laki-laki adalah aset paling gak ternilai harganya bagi mereka. Kalo gak bulat tekad? Pasti langsung berpaling ke yang sejajar atau lebih pendek, ketimbang diketawain melulu sama temen. Dikatain menggapai harapan palsu.

Sedangkan yang perempuan, ya itu, harus siap dikata-katain oleh orang-orang sekitar mengenai pilihannya yang jatuh pada laki-laki yang jauh lebih pendek darinya. Imbasnya? Kalo gak kuat-kuat iman, bakal goyah, ujung-ujungnya nyerah deh. Lebih milih bunuh perasaan ketimbang mati gengsi diledekin terus.

Kalo ternyata berhasil jadian? Siap-siap aja terus menerus dihujani tatapan aneh oleh orang-orang dan siap-siap aja banyak adegan di film-film romantis yang gak bakal bisa kalian praktekin onion-emoticons-set-6-159

Oh ya, untuk yang perempuan, siap-siap melambai selamat tinggal pada high-heels. Karena teplek adalah sahabatmu kini.


Perempuan Hebat; Aku


Aku tidak pernah bisa berharap dapat memakaikan sepatumu suatu saat, tidak pernah berani berharap dapat membenarkan lipatan kerah kemeja kantormu suatu hari. Aku bahkan tidak berani mengkhayal bahwa suatu saat, akulah yang kau hujani kecupan selamat pagi di pinggir tempat tidur, bergelut di pelukmu. Sekali pun aku tidak pernah berani. Dulunya.

Tapi kau membisakanku, membiasakanku untuk melihat hari itu. Hari dimana ada hangat di sekujur tubuh karena dekapmu, ada geli menjalari syaraf karena kecupmu, juga yang teramat –ada cintamu yang tidak pernah habis menutupi cacatku.

Kau membuatku berani berekspektasi akan ada sebuah keluarga kecil nantinya dimana para malaikat-malaikat kecil itu memanggilku “Ibu”. Kau membuatku berani terang-terangan berimaji tentang suatu hari itu, juga pembagian tugas siapa yang menyuci, memasak, menyetrika, membereskan rumah dan siapa yang mencari uang juga mengantar-jemput peri-peri kecil itu dari sekolah.

“Ngedapetin perempuan hebat itu memang berat. Nggak boleh pernah ngarep dia bakal peduli keadaan kita gimana. Sedang akan mati atau lagi nonton drama.”

Sudah tidak terhitung berapa kali kau lemparkan serapah itu ke mukaku. Seperti sampah yang enggan kau buang tidak pada tempatnya agar tidak terlihat olehku. Bahkan sekarang semakin sering kau menyadarkanku betapa busuknya aku.

Kau tahu apa? Akan kukatakan sekarang.

Aku bukan perempuan hebat. Tidak pantas diagungkan sejajar Tuhan –tidak dapat dipersalahkan dan mutlak. Aku bukan perempuan yang patut kau ukir mukamu dengan sebilah belati bermata ganda, terlihat olehku seolah senyum namun nyatanya darah mengucur dari sudut kedip matamu. Begitu mengenaskannya kah keadaanmu hanya untuk bisa bersanding dengan perempuan sepertiku? Siapa aku? Bidadari dari surga? Atau titisan dewi dari khayangan?

Bukan. Aku adalah perempuan tidak tahu diri yang masih saja terus bergantung pada cintamu. Menuntut ini-itu. Tanpa pernah mau tahu apa kau sedang sekarat dibuai maut atau sedang merintih manja bersama ajal.

Kau tahu kenapa?

Karena memang seperti itulah aku. Di matamu.


Satria, Move On lah :)


Di antara kemumetan pikiran soal proposal tesis yang musti jadi sebelum Agustus ini, harga tes TOEFL yang ajib-gila-mahalnya, kegiatan karokean yang baru aja kelar, juga ketiadaan duit, saya masih harus memusingkan gimana caranya membedakan lumba-lumba jantan dan betina -kalo mereka nggak sedang kawin.

Tadi siang, di sebuah resto di bilangan Peunayong, saya ketemu temen SMU. Dia udah kerja di PP….PT…ah, sudahlah, saya lupa. Dia satu kantor sama temen semasa SMP saya. Dia yang temen SMU saya ini seorang perempuan, sebut saja namanya Mira. Sedangkan dia yang temen SMP saya ini seorang lelaki, sebuat saja namanya Satria. Itu dua-duanya bukan nama asli looooh…

Begitu ngeliat saya dia langsung nyerocos gimana si Satria ini selalu menceritakan kisah lama yang itu-itu melulu padanya. Kisahnya?

Kurang-lebih seperti ini.

“Mir, apa kabar si Leni? Eh, tau gak, dia dulunya naksir aku looooh…bla…bla…bla…Padahal dulu dia tuh yang mau nyomblangin aku sama temen sebangkunya….bla…bla…bla…”

Saya gak tau udah berapa ember si Mira ini muntah gegara mual dengerin lagu lama berulang kali yang kasetnya aja mungkin udah keplintir-plintir gak jelas suaranya.

Setelah bercerita berkoar-koar berapi-rapi sama saya, si Mira pamit mau balik ke mejanya.

Saya sih mesem-mesem aja. Sedangkan temen-temen saya udah mulai kasak-kusuk pengen tau siapakah sosok si Satria ini.

Tapi sempet berasa aneh juga sih, saya sampe kepikiran, segitu kerennya kah saya hingga sesuatu yang udah berpuluh taun terjadi masih terus-terusan diungkit? Just…come on…people change, their physics, feelings, behavior, everything. Jadi apa masih pantas membanggakan cerita-cerita yang dulu? Ini orang gak kenal kata move on mungkin ya? Hidupnya stuck di masa lalu terus. Kasian.

Dan saat saya hendak pulang, saya berpapasan lagi sama Mira. Dia udah kenyang, jadi udah punya energi buat ngelanjutin sisa cerita.

“Tau gak sih, Len? Tiap ketemu aku dia selalu nanya, ‘Rumah si Leni masih disana? Udah feminim dia sekarang ya?’ Hedeuh, itu-ituuuuu aja yang ditanya, Len…”

Saya, yang mau menuju parkiran, tersenyum kepada Mira sembari berkata.

“Aku rasa kamu udah tau kebenaran ceritanya, Mir. Kalo dia minta nomor hp, bilang aja, ‘Sori, si Leni udah punya pacar.’ “

Mira tertawa disertai berkali-kali kata 'muak' untuk cerita teman sekantornya itu, lalu kami pun berpisah.

Saya sudah tidak ingin mengkonfirmasi kebenaran cerita itu. Seandainya pun cerita itu bener adanya, saya pernah naksir padanya, ya biarlah. Itu sudah cerita 10 tahun lalu. Mau diapain pun umurnya sudah begitu renta.

Saya berubah, tapi mungkin Satria tidak.

Jadi, saya membiarkannya terus bangga dengan kenyataan yang diyakininya, kalo saya memang pernah naksir padanya.

Ah, saya memang teramat keren.onion-emoticons-set-6-63
Hingga ke-keren-an saya sangat sulit untuk dilupakan.

Satria, move on lah. Biarkan cerita usang itu tertinggal di belakang. Di belakang langkah kita. Bukan diseret terus-menerus seiring lamanya usiamu. 



(Water)Melon Juice


Sore tadi saya sama seorang temen mengunjungi pameran buku di The Only One Mall in Banda Aceh. You know where I mean, right? *naek-naekin alis*

Muter-muter di keramaian pengunjung lain, saya ngeliat sana-sini. Oh iya, FYI: mau masuk aja kudu bayar serebu per orang. Ini panitia emang gak mau banget rugi yeeee. Ada satu buku yang menarik buat saya, judulnya Rain Affair. Gak tau itu buku keluaran taun berapa, pengarangnya siapa. Saya suka covernya trus sinopsis di belakangnya. Terkesan smart aja kayaknya ini cerita. *gaya*

Tapi urung saya beli. Kenapa? Karena harganya sama aja kayak di toko buku. Ngapain repot-repot beli disindang, boooow? *ini ngapa tetiba jadi banci?* Pameran buku ini sesuai namanya. Pameran buku. Buku dipamerin. Jadi, dari rak di toko, dipindahin kesana, dipajang dengan price tag yang sama aja kayak di rak di toko. Ngapain coba ngadain pameran buku? Eh, tapi bener juga spanduknya. Ditulisnya Pameran Buku Terbesar dan Terlengkap di Banda Aceh, gak ada kata Termurah. Jadi bener juga kalo harganya gak pake kortingan. Ada sih kortingan, tapi bukan buku yang saya pengen.

Akhirnya ketimbang absurd ngeliatin anak-anak yang datang dari sudut-sudut kecamatan yang gak berani naik eskalator yang pada tolak-tolakan siapa yang musti duluan, saya dan si temen mutusin muter-muterin mall yang kepleset di ujung sini bakal nyampe ke ujung sana dan berakhir di food court.

Ceileeehhh…baru kali ini duduk di food court di mall sini. *ngerasa keren*

Nggak ada pelayan yang nyamperin. *gagal keren* onion-emoticons-set-3-56

Kita pindah tempat, ke lapak yang ada jual bakso-baksoan. Ramenya nau’udzubillah. Dapet meja juga yang belum diberesin. Ah, abusrd. Ngeliatin menu yang bermacam-ragam makanannya dipakein bahasa Inggris. Terus manggil si Mbak-nya.

“Saya mau jus semangka.”, pake nunjuk ke gambar gelas yang ada jus semangkanya, lengkap dengan tulisannya dalam bahasa Inggris.

“Oh, watermelon juice ya, Mbak?”, katanya fasih sambil nulis di kertas pesanan.

“Oke, thank you.”, katanya lagi setelah pesanan selesai dicatet. Saya dan temen cuman liat-liatan bego, antara mau ketawa tapi kok berasa garing yak?

Anggap aja 15 menit kemudian minuman pesenan saya dan si temen dateng. Orange float dan…

Jus melon.

*hening sekejap*


 onion-emoticons-set-5-49


“Lah, saya kan pesennya jus semangka.”

“Ah, oh, bukan melon, Mbak?”

“Bukan. S-E-M-A-N-G-K-A.”

“Oh, watermelon juice ya?”

Saya gebrak meja, saya minta dipanggilin manajernya, saya maki-maki manajernya yang tampangnya unyu-unyu gitu, saya komplain soal kinerja karyawannya yang sembrono dan gak terlatih, saya minta ganti rugi, saya mau tuntut restonya lewat pengacara saya.

Dan akhirnya saya dan si manajer yang unyu-unyu kayak artis korea itu jadian. Aaaahhh…drama Korea sekali yak?

Nggak. Kejadiannya nggak gitu. Saya dan temen liat-liatan, trus ngakak-ngakakan, trus ngata-ngatain, trus curhat-curhatan. Bahagia itu sederhana sebenernya :)

Nggak berapa lama pesenan jus semangka saya nyampe dan nggak berapa lama juga gelas itu sudah kosong. Saya panggil pelayannya, saya minta bill-nya, saya kasih uangnya, saya nunggu lama buat kembaliannya, saya samperin dianya, dianya nyuruh saya ngambil sendiri kembaliannya ke kasir.

Inilah 17 Mei 2012 saya, yang diwarnai merah di kalender, yang gak berarti spesial buat saya. Karena apa? Karena everyday is holiday buat saya.