Saya sedang menunggu. Seseorang yang nggak pasti kapan datangnya. Mungkin saja dia bahkan tidak akan datang.
Ini tidak seperti menunggu biasanya. Tidak seperti ketika saya menunggu jeputan abang saya sepulang sekolah atau dari tempat les. Tidak seperti menunggu teman-teman saya datang karena kami telah berjanji untuk nongkrong di sebuah tempat. Tidak seperti menunggu untuk bertemu dosen pembimbing saya. Tidak. Menunggu kali ini penuh ketidakpastian karena dia tidak pernah berjanji pada saya akan datang. Namun, saya tetap menunggunya.
Saat abang saya tidak datang untuk menjeput saya sepulang sekolah, saya masih bisa mengadukannya ke Ibu saya lalu dia akan dimarahi habis-habisan hingga esok-esoknya dia tidak lagi berani untuk lupa menjemput saya. Saya punya kartu AS untuk membuat abang saya datang.

Tapi dia? Apa yang harus saya lakukan saat ia akhirnya tidak datang? Karena ia tidak pernah berjanji pada saya untuk datang di suatu masa. Saya punya jurus jitu apa untuk menyalahkannya jika ia tidak datang? Sedangkan sayalah yang membuang dia dari hidup saya.
Bukan karena dia tidak berarti. Saya hanya terlalu malu. Saat itu. Untuk luka yang saya torehkan. Untuk kekejaman yang saya lakukan. Maka, saya mengusir dia pergi.
Dan sekarang, saat saya merasa semua telah membaik. Saya mengharapkan dia kembali.
Walau saya tahu, menunggu dia kembali, sama seperti menunggu hujan berlian. Useless and disappointed. Tapi mungkin inilah yang seharusnya saya lakukan.
0 komentar:
Posting Komentar