Ketika "Ngopi" Kehilangan Esensinya

Yak. Seminggu yang berantakan. Seminggu ini hidup saya enggak keruan. Seminggu enggak sepedaan. Bangun pagi jam 9. Dan selalu telat untuk penuhin janji jam 10. Yak. Seminggu yang enggak beraturan.

Jangan tanya kenapa Ibu saya enggak komplain. Beliau sudah habis akal sama saya. Jadi, saya dibiarkan saja. Jangan tanya kenapa Bapak saya enggak menasehati saya. Beliau memang irit ngomong dan lebih suka membiarkan saya menemukan semua hal sendiri, dengan cara saya. Jadi, saya dibiarkan saja.

Yak. Seminggu yang penuh dengan luntang-lantung dari satu warung kopi ke warung kopi lainnya. Saya seperti seorang pengembara tanpa tujuan. Ngopi dengan siapa aja. Siapa aja yang sudi ngajak saya ngopi. Dan siapa-siapa itu adalah orang-orang yang sudah lama tidak saya temui. Orang-orang yang dulunya sering menemani saya berlama-lama di warung kopi.

Saya sudah cukup lama enggak ngopi, enggak nangkring di warung kopi. Karena saya pikir waktu saya sudah lewat. Kesibukan saya sudah berbeda. Tidak lagi bisa saya habiskan di warung kopi. Lagi pula, makna “ngopi” di otak saya sudah tercemar sejak warung kopi menjadi tempat perhelatan akbar untuk tebar pesona dan ajang pencarian jodoh bagi kaum hawa. Saya bagian kaum hawa. Tapi saya tidak menggunakan ritual “ngopi” seperti itu. Maka, saya mundur teratur. Tidak ingin dilabelkan secara random dan general seperti itu.

Saat saya “ngopi”, saya bener-bener duduk dan ngobrol dengan teman saya. Atau sebelum abang saya dengan kemurahan hatinya memasang jaringan internet di rumah, kata “ngopi” juga bisa berarti internetan gratis. Tapi tidak pernah merambah ke tebar pesona atau pencarian jodoh.
Dan sejak penafsiran “ngopi” bergeser dan saya kehilangan dua definisi di atas, saya berhenti ngopi. Ada sesekali. Sebulan paling dua kali. Itupun dengan soulmate saya.

Teman lama saya pernah nanya, “Kasih saya satu alasan saja kenapa ngopi itu enak? Setelah itu baru saya ngajak kamu ngopi.”
Saya diam.  Mikir juga sih untuk ngasih satu jawaban berbobot nan logis. Pasalnya saya kangen banget dengan itu orang. Sudah lama saya enggak ngedengerin pemikirannya yang sangat idealis tentang hidupnya.
Tapi saya nyerah dan akhirnya saya bilang aja alasan saya sebenarnya.
“Saya enggak tahu apa enaknya ngopi. Dulu saya sering ngopi karena saya stres dengan judul saya yang enggak kunjung diterima dan saya mesti berkali-kali ganti judul hanya karena saya dimain-mainin oleh dosen yang berhak meloloskan judul mahasiswa.”

Ya. Itu alasan saya kenapa dulu ngopi menjadi ritual sehari-hari saya.
Saya hanya butuh teman ngobrol yang bisa membuat pikiran saya keluar dari kemumetan tetek-bengek kuliah saat itu. Saya butuh ada orang yang bisa mengalihkan pikiran saya dan membuyarkan fokus saya, bahwa saya pada saat itu tengah menghadapi monster yang berwujud seorang dosen. Sesederhana itu motif saya untuk ngopi.

Tapi lihatlah sekarang? Kenapa ngopi menjadi ajang unjuk diri? Saya juga heran mendapati segerombol gadis berpakaian aduhai seronok dan bermake-up kinclong duduk di warung kopi yang pengap dan penuh asap rokok. Apakah sebegitu desperate-nya perempuan-perempuan sekarang hingga merasa harus turun tangan langsung masalah jodoh ini? Apakah sebegitu pathetic-nya tidak punya pacar sehingga rela bahkan ikhlas duduk di tempat pengap nan tidak sehat itu?

Mata perih. Muka berminyak. Keringetan. Bau badan. Empat hal itu yang saya dapat setiap kali saya ngopi. Maka, setelah judul saya diterima dan saya mulai memiliki secercah harapan untuk masa depan saya, saya menyudahi ritual itu. Menguranginya sedikit demi sedikit hingga kebiasaan itu menghilang.

Dan kenapa seminggu ini ritual itu kembali lagi?
Jawabannya hanya dua.

Pertama, orang-orang lama di hidup saya rupanya mulai mengangeni saya, maka mereka mengajak saya ngopi.
*ge-er sekali saya yak? Biarlah. Dan semoga mereka enggak baca.

Kedua, dosen pembimbing saya berpesan untuk menghubunginya dua minggu kemudian. Dua minggu looooh… beliau ngasih saya cuti dari skripsi selama 2 minggu. Mau apa saya selama itu? Mata kuliah juga udah enggak ada. Mau liburan, enggak punya duit. Maka, saat orang-orang lama ini mengajak saya ngopi. Saya iyakan saja. Hitung-hitung merekatkan silaturrahmi yang sudah renggang. Dan masih tetap bukan untuk ajang cari jodoh. Enggak percaya? Kalau kalian ketemu saya di salah satu warung kopi yang tersebar di Banda Aceh, sila melihat alas kaki saya. Dan kalian akan tahu, saya bukan mau mejeng.


0 komentar:

Posting Komentar