Jika Saya Liburan



Jika ada yang bertanya saya ingin berlibur kemana, akan saya jawab dengan tegas, Antartika. Pembagian hari dan malam disana menarik. Enam bulan siang dan enam bulan malam. Ini dikarenakan letak Antartika yang di kutub bumi sehingga sinar matahari menyapu daratan itu selama enam bulan secara terus-menerus. Begitu juga dengan malam. Pretty cool, huh? Mungkin saja saya bisa belajar dari beruang kutub bagaimana caranya berhibernasi selama enam bulan 6. Lalu beraktivitas selama enam bulan siang. Setidaknya saya hanya harus merasakan hidup selama 6 bulan di satu tahun kalender Masehi. Atau saya buat saja kalender sendiri yang setahunnya hanya terdiri dari 6 bulan? Saya pasti lebih cepat tua dari penduduk bumi lainnya. Dalam setahun kalender Masehi, saya berulang tahun 2 kali di kalender made in saya sendiri.

Saya mungkin dapat memelihar serigala sebagai pengganti kucing. Mengingat kucing pasti tidak tahan hidup disana. It will be so cool, I guess. Ketika ada teman saya dari Aceh bertanya peliharaan saya apa, saya akan menjawab dengan ke-cool-an yang tidak bisa dibayangkan, “Serigala putih.”, dengan sedikit menaikkan alis kanan dan segaris tipis sunggingan senyum. Lalu memajang foto-foto saya bersama perliharaan di akun jejaring sosial. 100% cool!  Atau beruang saja? Beruang putih juga bagus. Ukurannya yang besar cocok dijadikan selimut di saat saya harus berhibernasi selama enam bulan. Menjaga saya tetap hangat.

Lalu saya membayangkan akan seperti apa rasanya lebaran disana. Ya, disini kan lebarannya 2 kali setahun, Idul Fitri dan Idul Adha. Dan penganan yang khas di saat lebaran itu pasti lontong atau ketupat. Direbus, pastinya. Bagaimana kalo nanti saya disana, saya buat lontong beku? Caranya cukup dicelup-celup ke dalam air es. Saya ambil sebongkas es untuk alas duduk, saya lubangi lantai dapur rumah saya lalu saya celup-celup saja lontongnya.

Oke. Absurd.
 crazy monkey 191

Tapi, yang jadi permasalahannya adalah, dimana saya bisa mendapatkan daun pisang disana jika spesies sejenis pisang-pisangan hanya tumbuh di daerah tropis? Mungkin bisa saya ganti dengan daun-daun lain yang tumbuh disana. Lalu dengan kuah lontongnya? Dimana saya bisa dapatkan kelapa? Apa pohon kelapa tumbuh disana? Oh, pastilah mereka punya santan kemasan yang dijual di supermarket. Akan keren sekali pastinya pergi ke supermarket naik kereta salju dengan jaket-jaket tebal itu juga sepatu bot. Woohoo! I can feel the awesomeness!



Tunggu, di Antartika ada pohon gak sih?
 crazy monkey 100

The OLD Time





Seperti gulungan benang pancing. Jika hidup bisa ditarik dan diulur sesuka pemancingnya, pastilah tidak akan ada yang namanya penyesalan. Pepatah "sesal selalu datang terlambat" sudah tidak asing ditelinga siapapun. Terlebih yang sudah acap kali menyesal. Mengecap sesal bukan perkara gampang. Imaji tentangnya memperburuk kenyataan yang akan terjadi. Juga harapan yang masih tersisa melukis sketsa-sketsa semu, biasanya berselimut fatamorgana.

Saya pernah bangun di suatu pagi –pagi menjelang siang sebenarnya- dan mendapati diri saya merindukan masa lalu. Ya. Masa lalu yang sangat ingin saya singkirkan, tiba-tiba saya ingin menyuruh sesiapapun penyihir untuk mengirim saya kesana.

Saya rindu kets, fanatisme pada Linkin Park, juga pulpen dan kertas bekas yang dijepit ke papan ujian. Tahu kan papan ujian? Papan persegi panjang yang dipakai menggantikan kursi yang tidak memiliki meja untuk mengisi kertas jawaban.

Tetiba saya rindu pada dunia sederhana saya itu. Di kala hidup hanya ada lagu Linkin Park yang mengalir dari earphone masuk ke gendang telinga dan kertas bekas print-an yang dibalik sehingga bagian kosongnya bisa saya isi dengan coretan.

Saya rindu duduk di bawah pohon di belakang aula, bermain imajinasi hanya dengan 3 warna –merah, hijau, hitam. Tenggelam dalam dunia dimana hanya saya yang mengerti, juga mengalami. Menarik garis demi garis tak lurus yang saya paksakan membentuk sesuatu yang bisa diterima otak menyerupai salah satu benda di kehidupan nyata.

Saya ingin mengulang hal-hal itu, menjerumuskan diri lebih dalam agar chaos di permukaan teredam ketidakpedulian.  Lalu hingar perlahan mengendap di pijakan-pijakan kets saya. Bingar pun meresap di antara udara yang saya sesap dan saya hempas seketika.

Saya melihat ke sekeliling kamar. Jelas banyak yang berubah. Saya yang sengaja mengubah atau memang sudah saatnya saya berubah. Yang jelas tidak ada lagi ransel yang dipakai kesana-kemari, berganti dengan bermacam tas dengan warna-warni yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Lalu kets…sudah dengan rapi masuk kembali ke kotak-kotaknya yang sengaja saya simpan. Saya tahu suatu saat saya hanya akan bisa melihatnya dengan kenangan. Kemeja-kemeja juga berganti dengan yang lebih bisa diterima Ibu saya sebagai ibu seorang anak perempuan.

Well, that’s life, I guess.

Bukan indah sekali masa lalu saya sehingga saya ingin kembali kesana. Banyak yang saya sesali. Tapi prosesnya telah saya lewati hingga sesaknya seperti apa sudah tidak saya rasakan lagi. Sekarang yang ada hanya nafas lega dan hal-hal baik di masa lalu tiba-tiba menjadi sangat berharga untuk diingat.

We will truly know what we had until it’s gone.

Saya rasa pepatah itu benar adanya.




Tentang Mimpi. Juga Nyata.




Saya gak tau apa ada yang juga ngalamin apa yang saya alamin saat bermimpi. Saya gak bisa kategorikan ini mimpi indah, mimpi buruk, atau mungkin mimpi basah? (yang terakhir berlabel 18+) Karena jelas-jelas rasanya bukan seperti mimpi. Tapi terasa nyata.

Mimpi kayak apa yang saya maksud?

Let me explain it…

Belakangan ini rilis film Hollywood yang berjudul Inception yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio. Pernah nonton kan?

Yup. Inception ini menceritakan tentang metode mimpi yang dipakai untuk menanamkan cikal-bakal ide di kepala seseorang, artinya ada yang mengendalikan mimpi orang lain untuk mempengaruhi pikiran demi sebuah kepentingan sebuah pihak. But, that’s not the point.

The point is…

Di saat pertengahan menuju akhir film sebelum tulisan the end diceritakan bahwa mimpi itu bisa bertingkat. Iya, mimpi di dalam mimpi. Maksudnya adalah, kita yang sedang tidur bermimpi, di dalam mimpi itu kita juga sedang tertidur dan juga sedang bermimpi. Ini disebut mimpi level 2 –bermimpi di dalam mimpi.

Semakin tinggi level mimpi seseorang, maka semakin susah ia untuk bisa terbangun atau dibangunkan. Karena prosedur yang diperlukan untuk bisa benar-benar bangun adalah si pemimpi harus bisa sadar atau terbangun di setiap mimpinya secara berurutan. Jika di salah satu mimpi ia belum bisa terbangun, maka ia belum bisa terbangun di dunia nyata.

Seems pretty scare, huh?

Itu yang saya alami di malam hari. Seringnya. Dan itu belum seberapa parah.

Mimpi tapi sadar, pernah mengalaminya?

Kamu tidur, bermimpi, sangat mengerikan, kamu ketakutan, lalu kamu terbangun. Ya! Kamu terbangun! Kamu telah sadar! Kamu tahu kamu sedang di kamar, di atas tempat tidur, memeluk guling, tetapi anehnya kamu tidak mampu membuka mata bahkan menggerakkan organ tubuhmu sendiri. Kamu berusaha sekuat tenaga untuk bisa membuka matamu, menggerakkan lenganmu sementara mimpi masih terus berlanjut dalam keadaan kamu yang sadar. Dan berhasil! Lenganmu bergerak, kamu menarik bantal lalu melemparnya jatuh ke lantai. Tapi… Kamu hanya berhasil membuka sedikit matamu, lalu…  Seperti ada kekuatan lain yang memaksamu untuk menutup matamu kembali agar kamu bisa kembali ‘menikmati’ visualisasi mimpimu.

Tidak ada mimpi sejenis itu yang punya cerita indah, seenggaknya dari pengalaman saya. Seindah dan senormal apapun jalan ceritanya kamu akan tetap ketakutan dan panik. Karena apa? Karena kamu gak bisa terbangun dari mimpimu sendiri dan kamu sudah dalam keadaan sadar.

Saya pernah bermimpi sedang bermimpi. Lalu terbangun di dalam mimpi setelah berjuang keras membuka mata dan menggerakkan organ tubuh. Saya ketakutan, berkeringat hebat, langsung melompat dari tempat tidur dan berlari tergesa menuju dapur. Di situ, di dalam mimpi itu, kakak ipar saya sedang menyuci piring. Saya menghampirinya, mencengkram kencang tangannya, dan berteriak,

“Jangan biarkan saya tertidur lagi!”

Lalu entah bagaimana, saya sudah kembali melihat tubuh saya berbaring di tempat tidur. Di sebelah saya ada abang dan satu orang teman saya. Mereka sedang bercakap-cakap. Dan disitu saya juga sedang berjuang untuk terbangun. Saya tahu, saya sadar ada abang saya dan seorang temen disitu.

Saya cengkram tangan abang saya setelah melalui perjuangan keras untuk dapat bergerak. Namun mata saya masih tertutup rapat. Abang saya kaget, ia lalu mendapati nafas saya yang naik-turun dengan cepat dengan mata masih tertutup. Ia mengguncang-guncang tubuh saya, mencoba membangunkan saya, memanggil-manggil nama saya.

Tidak lama semuanya berubah gelap total…

Ya. Saya berhasil bangun dari mimpi saya dan sekarang saya tinggal menghadapi satu tingkat mimpi lagi untuk bisa sepenuhnya terbangun. Dan perjuangan yang saya butuhkan untuk bisa benar-benar sadar di tiap mimpi sama. Maka, setelah benar-benar sadar nanti saya akan merasa sangat kelelahan, ketakutan, tapi sangat mengantuk dan mengundang saya untuk kembali tertidur. Bukan tidak mungkin saat saya jatuh tertidur lagi, saya akan terperangkap lagi.

Saya mencoba mencari tahu masalah ini dan dari hasil search di google saya mendapatkan nama untuk kejadian yang saya alami, yaitu REM atau Rapid-Eye Movement. Sila dicek jika berkenan. Saya teramat malas menjelaskannya disini.  dizzy crazy rabbit

Kelumpuhan tidur
Kelumpuhan Tidur adalah kondisi yang mempengaruhi banyak orang di dunia. Hal ini berhubungan langsung dengan keadaan tidur REM dan mimpi. Kelumpuhan tidur berhubungan dengan atonia REM, yaitu keadaan kelumpuhan yang terjadi selama tidur REM. Seseorang mengalami kelumpuhan tidur ketika otak bangun dari siklus tidur REM, tapi keadaan lumpuh tetap terjadi. Orang tersebut sadar, tapi tak dapat bergerak. Mereka terus bermimpi dan dalam banyak kasus, mereka dapat mengalami secara visual mimpi mereka di dalam kamar mereka. Seseorang yang mengalami kelumpuhan tidur tidak sadar sepenuhnya, tapi tahu apa yang sedang terjadi. Pengalaman ini disebut sebagai gangguan pandangan terowongan. Keadaan lumpuh dapat diikuti oleh halusinasi ekstrem dan perasaan takut.

Saya lega saat mengetahui ada penjelasan ilmiah untuk yang saya alami. Saya selama ini berpikir, seperti yang dikatakan orang tua, you know…some kind of evil stuff. Istilah orang tua dulu, ditindih. Iya, penjelasannya itu jadi ada semacam setan atau iblis yang menindih kita ketika kita sedang tidur maka kita kesulitan untuk bangun.

Belum diketahui apa penyebabnya. Jadi gak ada cara untuk bisa mencegah atau menghindarinya.

Saya berharap ada yang pernah mengalaminya juga agar bisa berbagi pengalaman jump pink mouse

Anyway, saya sudah sampai mimpi level 3. Kamu?

gambar diambil disini: http://fc03.deviantart.net/fs70/i/2012/194/9/f/wake_me_up_from_this_bad_dream_by_paatkaa-d57246v.jpg

Skill yang Harus Dimiliki Penjual Jilbab



Menyambung postingan Intan Khuratul Aini soal apa yang seharusnya ada di sebuah toko baju, saya kira juga perlu dimiliki toko yang menjajakan jilbab. Mengingat beragam-macamnya bentuk jilbab belakangan ini, atau hijab buat kata gaulnya, saya merasa wajiblah pekerjanya dibekali dengan skill memakai jilbab berbagai kreasi. Ini dikarenakan selera dan gaya seseorang berbeda-beda. Mungkin si A pengen model jilbab yang melintir-melintir hingga kita yakin pastilah kain meteran yang dipakainya sebagai jilbab dan si B gak suka yang begitu meilntir-melintir, lebih suka yang simpel cara pakainya tapi tetap keliatannya njelimet.

Women!  crazy monkey 069

Maka dari itu, perlu sekali yang jualan di toko jilbab itu menguasai teknik-teknik memuter-muter jilbab dikarenakan begitu banyaknya jenis dan rupa jilbab belakangan ini. Contohnya, ada yang namanya pashmina, katun jepang, atau entah apa lagi itu namanya. Dan gak boleh diskriminasi gender. Mau laki mau perempuan yang jualan tetep-kudu-harus bisa. Karena pembeli pasti ingin kepuasan kan?

Nah, di suatu siang yang gak begitu siang, bertamasyalah saya bersama dua orang teman saya ke pasar Aceh yang ada AC-nya. Saya sih modal ngences doang, yang belanja itu dua temen saya ini. Si temen, sebuat aja namanya Eva, ternyata punya tempat jilbab langganannya. Jangan nanya nama toko, tapi letaknya itu di lantai 2 agak kebelakangan dikit dua deret dari sudut 45 derajat dengan ketimpangan 67 derajat. Yang jualnya sih laki-laki, masih abang-abang. Cakep. Kalo jilbaban.

Eva mulai menjelaskan model jilbab yang ingin dikenakan dan menanyakan harus seperti apakah pilihan jilbab di antara begitu banyaknya jilbab yang dipajang di toko tersebut. Si Abang terdiam, melihat ke sekeliling toko, lalu menarik nafas panjang dengan tatapan menerawang. Ketika tarikan nafas itu dilepaskan, si Abang menatap Eva lirih…

Dengan sigap si Abang mengambil sehelai jilbab. Cap…cep…cap…cep…

Dan voila!

Si Abang sudah jilbaban dengan anggunnya.

crazy monkey 014

Sayah takjub, Sodarah-sodarah!

Mau nangis rasanya. Saya aja gak pinter pake gituan. Tapi si Abang itu….Abang itu…  

Sungguh melukai harga diri saya!  crazy monkey 013

“Tapi gak suka yang model gitu, Bang. Yang lain bisa?”, mulut mungil Eva sungguh terkutuk. Saya merutuk. Saya was-was apa yang akan saya liat selanjutnya.

Si Abang nyengir, lalu seperti ditantang duel , ia langsung membuka jilbab tadi dan membuat model baru. Masih di kepalanya sendiri   crazy monkey 122

Saya masih melotot, terperangah tak berdaya. Abang….lihat apa yang kau lakukan pada harga diriku?! Berserakan di lantai tokomu!   crazy monkey 090

Singkat cerita, saya akhirnya pulang, setelah selesai memungut kepingan harga diri.

Tapi kalo saya pikir-pikir, perlu juga kan yak skill semacam itu di zaman bersaing seperti ini? Seenggaknya dapat memikat calon konsumen yang merasa tertolong di tumpukan kebingungan karena banyaknya pilihan jilbab. Atau untuk perempuan-perempuan kayak saya, cukuplah untuk hiburan.

Kayak situ? Yang kayak apa emangnya, Neng? crazy monkey 010

Umm…yang kayak gini. Udah deh yak, jangan bahas gituan. Panjang neh nanti   crazy monkey 091



Postingan Absurd 2013


Boo!

Kaget?

Kok nggak?

Rindukah pada saya? Yang jawab nggak saya sumpahin pantatnya gede sebelah.

Hah, rasanya seperti sudah sewindu lamanya tidak bercengkrama dengan tuts dan imaji. Kata sinergi masih terlalu ilmiah buat saya yang kosa katanya pas-pasan ini.

Apa saja yang terjadi?

Banyak.

Kemana semangat saya pergi?

Bertamasya keliling dunia.

Cukup sulit ternyata untuk konsisten menulis satu tulisan di setiap harinya. Bukan terkendala kesibukan. Bukan juga himpitan waktu. Tapi kemalasan.

Saya teringat salah satu monolog seorang pelatih tinju di film Jepang yang saya lupa judulnya apa tapi pastinya berkisah tentang tinju mengatakan kira-kira seperti ini:

“Orang yang diberkahi dengan talenta itu biasanya cepat menyerah. Berbeda dengan yang memang ingin belajar, semangatnya lebih besar.”

Lalu saya merenung. Lama sekali. Sambil berusaha ngeden.

Saya tidak merasa berbakat di bidang ini, tapi saya akui, di saat teman-teman saya dulunya selalu mengerutkan dahi ketika mendapat tugas mengarang di pelajaran Bahasa Indonesia, saya malah tersenyum senang. Bagi mereka, mengarang itu susah. Bagi saya, surga.

Sudah tidak berbakat, cepat patah semangat pula. Sebenarnya saya ini apa? Hahahahahaseeeemahahaha…

Yak! Mari mulai mengumpulkan semangat lagi! Sembari mengumpulkan recehan yang berserakan di dompet Ibu saya. Muahahahaaa….