Membunuhmu

“Semoga nanti kamu bisa bunuh aku langsung.”

Melukakan hati, memapah perih. Itulah yang sedang kau lakukan. Jika bersamaku bisa sesakit ini, kenapa masih juga bertahan? Berkilah bahwa nyaman itu tidak tergantikan. Jika hanya perkara nyaman, logislah, haruskah berkorban sampai sejauh ini?

Aku sudah tidak lagi tahu untuk setiap luka yang kusematkan padamu. Sudah tidak kuat lagi menghitung karena kau yang selalu bersimpuh. Nerimo. Begitu sifatmu. Dan aku yang selalu berteriak. Memaki.

Memanggil duka, menyeringai tangis. Di setiap amarahmu yang tertahan, aku bernyanyi. Bukan lagu sendu. Hanya rintihan sesal untuk berkali-kali tusukan itu kuhujam ke tempat yang sama. Kenapa harus menggerogoti luka sendiri? Jika perihnya sama saja terasa. Biarkan saja aku yang melakukannya, menabur garam memercik cuka.

Aku tidak ingin menikammu dengan belati lalu kau mati seketika. Jika aku harus membunuhmu, biarkan aku melakukannya dengan perlahan namun terasa sangat menyakitkan. Aku ingin sangat begitu menikmatinya. Hingga akhir, saat kau sekarat, aku tahu semua sudah sangat terlambat. Aku membunuhmu. Kau mati.

Lalu yang tersisa hanya lukamu. Dan aku. Menanti belati ini menancap sendiri tepat ke jantung. Dengan dua tanganku menggenggamnya.  


4 komentar:

  1. da lama ya gak posting lagi,, selalu ditunggu postingan postingan nya..

    BalasHapus
  2. iya, it's been long time.
    makasih :)

    BalasHapus
  3. wew....

    kali ini saya yang ketinggalan,, da lama gak buka2, ternyata udah 6 newest post....

    BalasHapus
  4. dirapel aja bacanya :)

    BalasHapus