Stagnansi Ini Membunuh Saya

"Dan saya merasa ingin bunuh diri saja saat saya membuka blog ini dan jumlah tulisan saya masih saja sama seperti kemarin-kemarin." 



Saya merasa kerdil belakangan ini. Saat saya tidak bisa menulis karena jemari saya mogok kerja, saya merasa saya bukanlah apa. Hanya seonggok daging yang berisikan tulang-belulang. Otak hanya sebagai aksesoris pemanis agar dapat disebut manusia. Itulah yang saya rasakan beberapa hari ini.

Saya merasa begitu menyedihkan ketika membuka folder khusus berisikan tulisan saya dan tidak ada file terbaru yang saya simpan. Itu berarti tidak ada tulisan baru yang saya bikin. Saya pengen teriak rasanya. Sumpah. Saya enggak melebih-lebihkannya. Menulis adalah satu-satunya hal terbaik di hidup saya yang bisa saya lakukan. Walaupun tulisan saya kacau-balau, enggak keruan, enggak begitu enak buat dibaca. But overall, saya cinta mati dengan menulis. Ini yang namanya passion.

Saya merasa begitu tidak berharga saat ide saya stuck hanya sampai di otak. Saya berjuang keras untuk menahan otak saya berimaji, sedangkan jari-jari saya tidak mau berkompromi. Mereka tetap saja ogah untuk diajak bekerja sama. Ini merupakan kiamat kecil buat saya. Saya enggak sedang melebih-lebihkannya agar terkesan betapa menyedihkannya saya saat saya tidak mampu menulis. Ini dunia saya. Dunia kecil saya yang berharga.

Saya merasa begitu teramat bodoh saat saya melewatkan begitu banyak peristiwa di hidup yang bisa saya tuliskan. Saya menyesalinya. Padahal banyak hal terjadi belakangan ini. Namun saat saya membuka laptop saya dan siap-siap akan menulis, rasanya semua menguap begitu saja. Lalu pikiran saya blank. Saya mati.

Tuhan, dua-tiga kata saja. Saya mohon…

Patah Hati (Part II)

"Lebih baik sakit di gigi, daripada sakit di hatiiiii…i…i…"

Tapi menurut saya lebih baik sakit akibat jempol kaki yang cantengan ketimbang sakit hati.
Apa itu cantengan? Cemekam.
Sakit gigi dan sakit hati hanya beda tipis.
Sakit gigi membuat nafsu makan hilang. Begitu juga sakit hati.
Sakit gigi membuat tidak bisa tidur. Begitu juga sakit hati.
Sakit gigi membuat kita uring-uringan. Begitu juga sakit hati.
Maka percayalah sejatinya sakit gigi itu sama tidak enaknya seperti sakit hati.


Apa yang tersisa ketika kau patah hati?
Tidak ada. Selain logika.
Tidak mungkin juga untuk terus-menerus mengikuti kata hati. Karena yang ada malah mood yang tidak menentu, juga semangat hidup yang menurun. Meratapi nasib.
Untuk saat-saat kritis seperti ini, hanya logika yang bisa kau andalkan.
Berpikir logis untuk semua yang telah terjadi. Ambil sisi positifnya. Mulai tutup mata dan telinga. Jangan hiraukan lagi apapun yang berhubungan dengannya. Kau hebat. Kau kuat. Dan kau hanya kelebihan pantas untuknya.


Maka, saat kau mengetahui bahwa pacar barunya adalah seorang janda dengan usia lebih tua 7 tahun darinya, kelihatan jelas melakukan operasi plastik di bagian hidung dan dagu, juga senang berpakaian terbuka, kau hanya perlu berkata dalam hati: “Ternyata hanya segitu seleramu.” Dan lanjutkan hidupmu.


Senang sekali dapat menuliskannya!
Ngahahahaaa…

 And my life must go on

Patah Hati (Part I)

Apa itu patah hati?

Patah hati merupakan kata kiasan yang terdiri dari dua kata yang masing-masing memiliki arti sendiri, yaitu: Patah dan Hati.

Patah: Putus (biasanya tidak sampai tercerai-berai atau lepas sama sekali)

Hati:
1. Alat organ badan yg berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dl darah dan menghasilkan empedu
2. sesuatu yg ada di dl tubuh manusia yg dianggap sbg tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian (perasaan dsb)
(Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Tidak jelas sampai sekarang kenapa saat menyebutkan hati, kita menunjuk ke dada. Padahal jelas-jelas hati terletak di bagian bawah perut. Mungkin hati ditunjuk sebagai wakil pengganti perasaan. Mungkin saja.

Patah hati sering disinonimkan dengan sakit hati. Namun patah hati atau sakit hati disini bukan dalam artian harfiah. Saat seseorang mengalami patah hati, bukan berarti hatinya benar-benar patah. Atau saat seseorang mengalami sakit hati, bukan berarti ia menderita lever.
Tapi, patah hati disini merujuk pada perasaan seseorang yang sedang amat-sangat terluka.

Patah hati biasanya menyebabkan penderita mengalami penurunan semangat dan gangguan mood yang mengkhawatirkan. Penderita juga mungkin mengalami peningkatan nafsu makan drastis, terutama untuk makanan-makanan manis. Intensitas untuk bengong dan tiba-tiba menangis juga meningkat cukup tragis. Dan perlu diingat bahwa patah hati dapat menyebabkan gangguan jiwa dan kematian.

Penderita dapat ditolong dengan menyediakan berkotak-kotak tisu dan letakkan di tempat yang mudah dijangkau olehnya. Ditambah dengan kesabaran untuk mendengarkan keluh-kesahnya. Disini, juga dibutuhkan ketrampilan khusus, yaitu: dapat membaca gerakan bibir penderita saat ia berbicara tentang hatinya yang patah yang biasanya dicampur dengan isak tangis yang berujung pada ketidakjelasan artikulasi setiap pengucapan kata. Atau dapat menggunakan keahlian lain, yaitu kemampuan menebak kata saat pendengar hanya mampu menangkap suku kata awal saja.

Penderita patah hati harus dihindarkan dari tontonan sinetron ataupun film yang ber-genre romantic atau romantic-comedy. Juga lagu-lagu yang bertemakan cinta. Ajaklah ia menonton pertandingan tinju dan mintalah ia berkhayal bahwa yang ada di dalam pertandingan itu adalah dirinya dan individu yang sudah mematahkan hatinya. Insya Allah, biasanya ini manjur. Apalagi jika lawannya itu K.O.

Namun, jika penderita mengalami patah hati akut, atau biasa disebut dengan patah hati stadium akhir yang tinggal menunggu hari untuk mati, jangan gegabah dalam bertindak. Pastikan dulu di sekitarnya tidak terdapat benda-benda tajam yang dapat mengancam keselamatan nyawanya. Benda-benda tajam ini juga berlaku untuk cairan yang mengandung zat-zat beracun/keras. Lalu pastikan juga disekitar tempat tinggalnya tidak ada kios yang menjual tali rafia atau yang biasa kita kenal sebagai tali plastik. Jika sudah, bawalah ke pondok pesantren terdekat untuk dirukiyah dan diberi siraman rohani.

Banyak hal yang dapat memicu terjadinya patah hati.
Di antara hal-hal tersebut, yaitu:
- Melihat individu yang disuka ternyata telah memiliki kekasih.
- Dikhianati oleh individu yang telah berjanji seiya-sekata.
- Didepak padahal hati masih memerah-jambu.
- Mendapati kenyataan bahwa cinta hanya bertepuk sebelah tangan.
- Digantung tidak jelas lalu ditinggalkan.
- Dibohongi mentah-mentah.

Dan ini yang mungkin paling menyakitkan secara tidak langsung:
- Membuka akun facebook-nya dan membaca info: In A Relationship with…
Sungguh tragis…

Dan sepertinya sekarang saya juga membutuhkan pondok pesantren terdekat.


Everything's Changed

Baru aja saya ngobrol dengan seorang temen lama via facebook. Well, padahal kami masih tinggal di satu kota dan kuliah di kampus yang sama, namun enggak tahu gimana bisa kami sudah lama enggak bertemu. Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir kali kami bertemu.
Singkat cerita, temen saya itu ngajak reunian. Tapi hanya bertiga, yaitu dia, saya, dan temen sebangku saya dulu. Dia meminta saya yang mengatur jadwal ketemuannya.

Lalu dia berceloteh: “Nanti suruh Givo jeput aku yak?”

Saya balas: “Aku aja yang jeput kamu. Sekalian nostalgia.”

Ya. Jaman SMU dulu saya sering antar-jeput dia. Kemana aja. Kalau tujuan kami sama. It’s not a big deal buat saya. Dan it’s not a big deal juga buat dia. Disangkain pacaran itu cuma bonus obrolan untuk orang-orang.

“Jangan. Nanti orang bergosip. Maklum, aku kan udah ada yang punya.”

Oke. Sekarang it’s a big deal buat dia.

Ternyata punya pacar mengubah dia menjadi sesosok pribadi berbeda. Menjadikan seseorang yang lebih bijak dalam melakukan sesuatu. Ada perasaan seseorang yang harus dia jaga dengan hati-hati sekarang. Ada ketakutan baru yang harus diantisipasi sebelum kejadian.


Well, detik itu juga saya merasa kasian sama dia.


Padahal niat saya murni cuma pengen ngulang rutinitas waktu SMU.

Tapi tahu apa saya soal itu? Saya masih belum ngerti hal-hal kecil semacam itu karena saya enggak punya pacar. Saya masih saja egois sendiri. Suka-suka saya sendiri. Tanpa ada satu orang yang mesti khusus saya jagain perasaannya.






"Life has changed. And so did people." 




Tapi saya enggak pengen ada yang berubah antara saya dan temen saya ini. So, saya paksa aja dia untuk mau saya jeput. Dan akhirnya dia setuju.

Lagian hanya perempuan berpikiran dangkal yang mau cemburu sama saya. Dan saya yakin pacar temen saya ini adalah seorang perempuan cerdas yang mampu berpikir logis.

Menghatikan Logika

"When I woke up this morning, I know, I can't hold it any longer."


Saya rasa sudah saatnya saya berhenti. Ini semakin di luar kendali. Sebenarnya apa yang saya cari? Saya juga enggak tahu pasti. Saya hanya ingin menghatikan logika saya sedikit saja. Belajar untuk lebih peka dengan orang-orang di sekeliling saya. Mereduksi sifat apatis. Kecenderungan autis ini semakin menjad-jadi.

Namun, mencoba menghatikan logika dengan orang yang tidak berhati sama saja bunuh diri dengan cara yang paling mengenaskan. Well, dalam pikiran saya, cara yang paling mengenaskan untuk bunuh diri adalah gantung diri saat kamu benar-benar sesak boker stadium akhir.

Dan orang-orang tidak berhati di sekeliling saya ini malah berharap hal yang lain pada saya. Mereka berharap saya bisa menjadi panutan untuk melogikakan hati mereka. Sarap kan? Hah, saya enggak ngerti jadinya. Kenapa di saat saya butuh sedikit sentuhan hati di setiap pikiran logis saya, orang-orang ini malah datang dan mengagungkan kegilaan logika saya yang egois ini. Berharap bisa segila saya, senekat saya, sesadis saya, membunuh hati dan menaikkan logika di tahta abadi. Abadi, itu berarti selama-lamanya.

Saya pikir saya sudah harus mengakhiri. Segala yang pernah saya mulai. Saya akan berhenti mencari. Jawaban itu sudah saya temukan. Walaupun bukan jawaban yang saya inginkan. Walaupun akhirnya hati saya bisa menang, hanya untuk 3 hari saja. Pathetic, isn’t it? Saya enggak bisa terus gini. Saya enggak bisa membiarkan otak, ide, dan jemari saya mengalami stagnansi. Karena hati dan otak berperang hebat. Saya perlu diri saya yang biasanya. Yang mengegokan logika. Yang menjagokan logika. Walaupun dengan segala konsekuensi yang ada. Saya tahu, ada beberapa hal yang terpaksa saya singkirkan. Dari hidup saya. Untuk itu, saya minta maaf untuk hati saya. Untuk itu, saya sangat menyesal untuk hati saya. Untuk itu, saya merasa amat bersalah untuk hati saya. Mungkin lain waktu saya akan coba kembali. Untuk saat ini, silahkan kamu hibernasi. Lagi.


Dan suara Ryan Tedder terngiang-ngiang di kuping saya. 
Stop and stare
I think I'm moving, but I go nowhere
Oh, I know that everyone get scared
But I've become what I can't be
Stop and stare
You start to wonder why you're here not there
And you'd give anything to get what's fair
But fair ain't what you really need
Oh, can you see what I see?
Rasanya menohok, tertohok, ditohok.

Nggak ngerti dengan yang saya tulis? Nggak apa-apa. Karena memang itu tujuan saya.

Selamat menikmati malam minggu yang kelabu untuk saya. Malam ini akan terasa sangat panjang dan amat menyiksa. Bukan karena enggak punya pacar. Namun karena lagi dan lagi harus menggigit lidah sendiri.

Well, that's pretty suck...



My Wishes List #1

Someday, saya harap saya bisa pake sepatu itu di momen spesial di hidup saya.

Nikahkan Saja Aku, Mak

Untuk Mamakku tercinta,

Sepucuk surat ini kutulis untuk mewakilkan gemuruh perasaanku sebagai seorang anak bungsumu. Putri semata wayangmu.

Aku tahu zaman tidak lagi seperti dulu. Keadaan ekonomi tidak lagi sekondusif dulu. Hidup semakin dihimpit oleh keadaan yang sulit. Jikalau memang Engkau mulai merasa kesulitan untuk mengurusiku, membiayai hidupku, aku ajukan diriku untuk dinikahkan. Tidak mengapa, Mak. Aku rela. Pasrah. Asalkan beban hidupmu sedikit terangkat, sedikit meringan.

Aku tahu uang saat ini tidaklah seperti dulu. Dua-tiga lembar seratus ribu dapat habis hanya dengan sekali menghempaskan pantat di sebuah tempat makan mahal. Mungkin Engkau sudah mulai kewalahan menuruti nafsu makanku yang semakin tidak terkontrol. Tidak mengapa, Mak. Nikahkan saja aku. Tapi tolong jangan meminta calon dariku. Karena aku tidak punya sesiapapun untuk dicalonkan.

Maka, dengan sampainya surat ini, aku ingin meminta kebijaksanaan dan kemurahan hatimu untuk mencarikan calon yang pantas untukku. Calon yang menurutmu dapat mengikuti nafsu makanku yang membabi-buta. Siapa saja. Bahkan yang sekampung denganmu pun aku bersedia. Tak mengapa, Mak. Aku benar-benar ikhlas. Jikalau nantinya anak bungsumu ini harus mengikuti suaminya pindah ke pucuk gunung dan bekerja di ladang. Asalkan Engkau bahagia dan kesehatanmu bisa lebih terjaga. Tidak lagi syok melihat deret angka di buku saldomu yang semakin berkurang.

Mak, aku tahu, mempunyai seorang anak perempuan tidaklah semudah membesarkan dua orang anak laki-laki sekaligus. Jika anak lelaki, di umur 17 tahun mereka telah bisa Engkau bebaskan untuk mencari uang sendiri. Sedangkan anak perempuan tidak, Engkau menjaganya dengan sangat hati-hati. Terlebih jikalau anak perempuan itu seperti diriku. Aku memang tidak butuh emas bermayam-mayam, tapi aku perlu banyak makan setiap harinya. Dan itu menghabiskan uang lebih banyak daripada membelikanku sebatang-dua batang emas. Maka, nikahkan saja aku, Mak.

Jikalau Engkau merasa kesusahan mencarikan jodoh yang tepat untukku. Jodoh yang berasal dari kampung yang sama denganmu, cobalah berkoalisi dengan Mak Wo. Aku tahu dia mempunyai cukup stok untuk dipilih. Cobalah, Mak. Pakai saja hapeku untuk menelpon Mak Wo. Tapi pulsanya tinggal 10 ribu. Jikalau sekiranya di tengah-tengah percakapan terputus, sudilah kiranya Engkau mengisi sendiri pulsanya. Tapi jika Engkau tidak bersedia, cukuplah dengan menulis sepucuk surat kepada Mak Wo, lalu belilah merpati pos di toko hewan di seputaran Setui. Niscaya suratmu akan segera sampai ke Darussalam dalam hitungan hari. 

Namun, ingatkan Mak Wo untuk tidak membalasnya karena aku yakin burung malang itu langsung mati terkapar saat ia tiba. Perjalanan dari rumah kita ke Darussalam memang tidak jauh, tapi kawat listrik yang bersangkutan berantakan aku yakin ada dua-tiga yang karet pembungkusnya sudah gundul. Jika saat pergi ia masih selamat, pasti saat perjalanan balik nasib baik tidak akan lagi memihaknya.

Mak, sudah nyaris habis kata-kata yang ada di sanubariku untuk kutuangkan di surat ini. Aku terlalu galau. Maka, aku akan menutup surat ini sampai disini saja. Semoga Engkau dapat segera menemukan jodoh yang memenuhi kriteriamu untuk dijadikan menantu sekaligus suamiku. Jangan menantu berbeda, suami juga berbeda. Anak perempuanmu hanya satu, Mak.
Sekian surat ini kutulis dengan jiwa yang gelisah dan raga yang lelah.


Salam sayang selalu dan kecup manis-manja-grup hanya untukmu

Putri semata wayangmu


Anggap Saja

Anggap saja aku tidak ada hari ini. Atau mungkin juga esok hari. Lupakan aku sejenak agar aku dapat bernafas seorang diri. Hilang dari jenuhnya dunia ini.

Anggap saja aku sedang pergi ke suatu tempat yang jauh dan terpencil hari ini. Dimana sinyal ponsel gak bisa masuk. Dan esok mungkin aku masih akan disitu. Karena ternyata aku terlupa jalan pulang.

Anggap saja aku diculik teroris untuk dijadikan pengantin mereka hari ini. Mungkin esok sudah dilepas lagi. Karena mereka sadar, otakku terlalu kusut untuk diluruskan lagi.

Anggap saja aku bukan siapa-siapa hari ini. Hanyalah figuran yang sama sekali tidak penting untuk dikenal dalam hidupmu, bahkan diingat. Mungkin sampai esok juga akan seperti itu.

Anggap saja aku angin lalu yang berhembus sekali dan hilang. Mungkin esok masih akan berhembus, tapi tetap sekali dan hilang. Dilupakan.

Anggap saja aku mati suri hari ini. Mungkin sampe besok juga.

Anggap saja masa lalu hari ini. Dan besok juga begitu.

Anggap saja aku amnesia dan terlupa tentangmu. Bahkan sampai besok.

Dan anggap saja waktuku untuk kembali masih ada. Walau nantinya, tidak lagi ada yang mengingat.


Mengeluh

Ketika hujan datang,
Kau akan mengeluh dan mencari tempat berteduh.

Ketika terik datang,
Kau masih juga mengeluh dan tetap juga mencari tempat berteduh.

Sampai batas mana di hidupmu kau akan terus mengeluh dan tidak pernah merasa puas?
Sampai batas mana di usiamu kau terus menyalahkan keadaan untuk sesuatu yang tidak menyenangkanmu?


Anggap Saja Akhirnya

Mengakhiri sesuatu tidak harus benar-benar mengalami akhirnya.
Mengakhiri sesuatu tidak harus selalu menyaksikan akhirnya.
Kadang, mengakhiri sesuatu cukup dengan hanya mengimajinasikannya saja.
Setelah itu, lupakanlah.
Dan anggaplah seperti kau benar-benar menyaksikan dan mengalami akhirnya.
Maka, semua akan lebih mudah disingkirkan.