Hujan Dan Senja

"Akan selalu ada aku di senjamu. Walaupun kamu tidak akan pernah bisa ada di hujanku."

Ketika hujan reda. Hanya tersisa sepotong cerita. Ya, sepotong cerita sebelum hari menjelang senja. Hujan reda saat senja menyapa. Selalu seperti itu adanya. Tidak pernah bersama. Hujan tidak pernah sempat mengenal senja. Dan senja tidak pernah sudi datang lebih awal untuk sekedar tahu, bahwa hujan kesepian.

Di dalam rintiknya dimana senja belum tiba, aku selalu menerka seperti apa dirimu. Hanya ada aksara mengisi imaji kadang terasa semu. Dan sepenggal suara untuk meyakinkan segalanya. Bahwa kau nyata. Bukan hanya sederet huruf berbaris rapi terangkai sempurna. Kau ada. Bukan hanya beragam intonasi suara menjelma di seberang sana. Terdengar menyenangkan, namun tetap saja…..secuil hampa selalu terselip di antaranya.

Sepotong cerita untuk dua cangkir teh berjarak seperti tak nyata. Akhirnya hujan reda dan kini senja telah tiba. Mengisi hari dimana semuanya akan berbeda. Obrolan kita mungkin tidak lagi hanya sepotong cerita. Sudah beda. Menjelma menjadi sepotong cerita baru, yang di dalamnya hanya ada aku. Dan kamu.

Kita.  

Ketika hujan reda dan akhirnya ada senja, aku tahu kamu menunggu. Untuk jeda yang terlalu lama hari ini, kamu menunggu. Masih disitu. Tanpa dua cangkir teh berjarak tak nyata. Karena ini bukanlah hujan. Namun senja. Senjamu menungguku untuk ada. 


Hening

Untukmu yang baru seperlima waktu menemaniku. Ada kala dimana aku hanya menginginkan hening di antara kita. Memang masih begitu banyak penggalan cerita tersisa. Masih begitu banyak tawa yang belum terurai sempurna. Dan juga luapan emosi yang mungkin berwarna jingga.  Namun, kali ini, aku hanya menginginkan hening. Ada, menelusup di antara kamu. Juga aku. Mengisi jarak sepersekian senti di antara kita.

Dunia sudah terlalu bingar. Manusia semakin banyak berujar. Maka, mari kita diam dan biarkan hening berkuasa. Bukan. Bukan karena aku sedang marah. Hanya saja hening menghadirkan rasa ketika pertama kalinya kamu ada. Juga cerita-cerita itu, dimana kamu ikut mewarnainya. Dan di dalam hening ini senyumku mengembang. Mengingatnya.

Untukmu yang baru seperlima waktu menemaniku.  Ada hening yang coba kuhadirkan. Mungkin akan terasa sedikit datar. Untukmu. Memang tidak akan semenyenangkan saat kita mengobrol soal rasa, juga cita-cita. Namun, kumohon biarkan hening ini menyapa. Sekejap. Merayap perlahan mengisi cerita-cerita kita yang tertahan. Membiarkan kita berdialog dalam diam.

Hening bukan berarti kita telah kehabisan cerita. Bukan berarti ada bosan yang melanda. Atau jenuh karena kebersamaan kita yang semakin lama. Namun, hening ini sengaja kubiarkan ada. Untuk kunikmati berdua saja. Denganmu.

Lima menit saja...



Membunuhmu

“Semoga nanti kamu bisa bunuh aku langsung.”

Melukakan hati, memapah perih. Itulah yang sedang kau lakukan. Jika bersamaku bisa sesakit ini, kenapa masih juga bertahan? Berkilah bahwa nyaman itu tidak tergantikan. Jika hanya perkara nyaman, logislah, haruskah berkorban sampai sejauh ini?

Aku sudah tidak lagi tahu untuk setiap luka yang kusematkan padamu. Sudah tidak kuat lagi menghitung karena kau yang selalu bersimpuh. Nerimo. Begitu sifatmu. Dan aku yang selalu berteriak. Memaki.

Memanggil duka, menyeringai tangis. Di setiap amarahmu yang tertahan, aku bernyanyi. Bukan lagu sendu. Hanya rintihan sesal untuk berkali-kali tusukan itu kuhujam ke tempat yang sama. Kenapa harus menggerogoti luka sendiri? Jika perihnya sama saja terasa. Biarkan saja aku yang melakukannya, menabur garam memercik cuka.

Aku tidak ingin menikammu dengan belati lalu kau mati seketika. Jika aku harus membunuhmu, biarkan aku melakukannya dengan perlahan namun terasa sangat menyakitkan. Aku ingin sangat begitu menikmatinya. Hingga akhir, saat kau sekarat, aku tahu semua sudah sangat terlambat. Aku membunuhmu. Kau mati.

Lalu yang tersisa hanya lukamu. Dan aku. Menanti belati ini menancap sendiri tepat ke jantung. Dengan dua tanganku menggenggamnya.  


Teruntuk Mantan



Tulisan ini ada atas permintaan seorang mantan saya yang sekarang hanya berstatuskan teman namun kadang-kadang kita mesra. Dia menge-wall saya di facebook beberapa waktu lalu, menanyakan kenapa blog saya kosong-melompong alias nggak ada tulisan terbaru satu biji pun. Dia kangen sama tulisan saya, katanya.

Well, here it is, Mantan…

Saya khusus membuatnya untukmu.

Ya. Mungkin aku sudah tidak lagi sama saat dulu aku masih bersamamu. Dulu, kamu dapat memonopoli waktuku hanya untukmu. Tapi sekarang semua berbeda. Tempatmu telah tergantikan, aku tidak mengatakan ia lebih pantas menduduki posisi itu sekarang, hanya saja dia yang memang ada sekarang. Apa hendak dikata?

Aku tahu kamu cemburu. Untuk semua perih yang terbersit di hatimu saat ini, aku tahu pasti kamu cemburu. Juga khawatir, bahwa nantinya aku benar-benar tidak bisa lagi ada untukmu. Tenangkan pikiranmu, Mantan. Itu hanyalah ketakutan semata. Kamu masih mantan terindahku yang kubuang di tempat yang tepat. Setengah hatiku masihlah untukmu. Tidak perlu kamu ragu. Bahwa dia ada sekarang. Bahwa dia adalah sekarang. Tidak akan mengubah apapun. Kecuali status kita.

Soreku masihlah milikmu dan cerita-ceritamu masihlah milikku. Kamu dan aku. Walaupun bermantanan, namun tetap satu. Yakinlah. Aku tidak akan begitu saja meninggalkanmu tanpa pertengkaran hebat. Ya. Hanya pertengkaran hebat yang dapat memisahkan kita. Jadi, buanglah rasa cemburumu itu. Sama sekali tidak beralasan.

Jika waktu itu kita berpisah dan menyebabkan kita bermantanan, yakinlah itu yang terbaik untuk kita berdua. Mimpi kita masihlah menjadi prioritas utama. Kamu ingat? Belanda. Ya, kesana kita akan hidup bersama. Lalu apa yang harus kamu takutkan? Dia yang bersamaku sekarang? Ah, sudahlah. Tidak mungkin juga kugandeng dia sampai ke negeri kincir angin itu. Tidak. Mimpi itu masih digenggamanmu, Mantan. Bersabarlah.

Jika kuberikan sesuatu milikku yang paling berharga untuknya, percaya saja. Bukan berarti aku telah berubah atau dia lebih indah darimu. Bukan. Seandainya saat kita masih bersama dulu kamu juga memintanya, sudah barang tentu akan kuberikan untukmu terlebih dulu. Jangan salahkan aku karena dulu kamu tidak memintanya dan sekarang dia yang mendapatkannya. Ah, Mantan. Ini hanyalah masalah keberuntungan. Itu saja. Jangan dipusingkan ya? Tidak perlulah pisau belati itu kamu bawa sampai ke kamar mandi. Dan tidak perlulah shower itu kamu biarkan airnya mengalir berjam-jam. Walaupun sekarang milikku yang paling berharga ada di genggamannya, tetap saja kamu mantan terindahku. Dan tetaplah Belanda itu destinasi akhirku. Bersamamu, pastinya.

Mantan, jangan pesimis, jangan apatis, jangan juga menjadi autis hanya karena saat ini aku bersamanya. Bagaimanapun, aku hanyalah manusia biasa yang ingin dipandang normal walaupun sebenarnya aku tidak, kamu mengetahuinya kan? Jadi, beri aku kesempatan untuk memperbaiki hidupku dan menormalkan kembali pandangan orang-orang terhadapku. Agar, saat kita ke Belanda kelak untuk melegalkan segalanya, tidak ada penyesalan lagi di hatiku.

Tunggu aku…

Salam sayang,
Mantanmu


Sistem Kerja Cinta Untuk Saya



"Love is easy. But…I’M NOT EASY."

Saya percaya cinta itu ada. Cinta bisa hadir di berbagai kesempatan dan kesempitan. Di kesusahan dan kebahagian. Di kesengajaan dan kecelakaan. Cinta bisa ada dengan cara yang masuk akal sampai di luar logika. Sederhana sampai njelimet.

Asal tidak ada saya di dalamnya.

Cinta itu gampang saja. Bisa hadir dari pandangan yang saling bertemu secara tidak sengaja, dari rentangan waktu yang panjang sebagai seorang sahabat, dari perkenalan tidak sengaja di jejaring sosial, dari perjodohan dua keluarga, dari antrian panjang di sebuah bank, bahkan dari sebuah permusuhan berdendam kesumat.

Cinta itu gampang saja.

Saya bisa saja jatuh cinta. Dari berbagi kursi di Damri, pulsa yang nyasar masuk lalu diminta kembali, perkenalan dari teman ke teman, bahkan dari sebuah tulisan di blog lalu saling bertukar info. Cinta itu seharusnya gampang saja. Tapi nyatanya tidak seperti itu.

Hal yang saya tuliskan di atas hanyalah sebagai awal untuk cinta itu ada. Masih ada tahap-tahap selanjutnya untuk memastikan cinta itu benar ada. Proses, sebut saja begitu. Setelah berbagi kursi di Damri, bertukar info diri termasuk nomor yang dapat dihubungi, lalu mulai menjalin komunikasi, mempelajari sifat satu sama lain -percikan yang ada saat awal dulu dapat hilang atau berganti menjadi sesuatu yang lebih besar. Lalu di akhir, konklusi tentang cinta itu baru bisa disimpulkan.

Cinta itu gampang. Prosesnya yang nggak gampang. Setidaknya buat saya.

Saya tidak suka proses untuk bisa mengkonklusikan saya cinta atau tidak. Sesimpel apapun itu.
Lalu seperti apa?

Sistem kerja cinta untuk saya itu seharusnya hanya ada satu, yaitu seperti ini: terbiasa.
Jika cinta, katakan saja di awal. Lalu buatlah saya terbiasa. Tidak perlu melalui begitu banyak proses hanya untuk bisa mengkonklusikan cinta. Tidak perlu tarik-ulur. Tidak perlu menerka-nerka. Tidak perlu trik-trik khusus. Tidak perlu tetek-bengek rayuan. Tidak perlu menjadi most-mysterious-man in the universe sehingga saya penasaran. Biasakan saya. Cukup seperti itu.

Sistem kerja cinta untuk saya. Seharusnya seperti itu. Seharusnya.

But who knows?


Read This

Saya minta maaf atas keenggaknyamanan kalian saat berkunjung ke blog ini. Dan saya akan hiatus untuk beberapa saat.
Soon, I'll fix this.
Salam Cekat-Cekot!
^^

Aksara. Muara. Retorika.

“Kamu. Aksara tanpa muara. Retorika tak ada jeda. Dan aku tergila-gila.”

Ini hanya tulisan iseng karena kreativitas saya sedang ngadat. Saya nemuin kutipan itu di sebuah search engine. Satu yang terlintas di kepala saya. Keren.
Ternyata cinta bisa dilisankan dengan begitu banyak kiasan. Bahkan dengan kata-kata intelek. Aksara, muara, retorika. Goddamn. Saya nyerah untuk bisa mendefiniskannya. Saya nyerah. Sumpah.
Saya terbius oleh kutipan tersebut. Dan sekarang sedang tidak sadarkan diri.

Balada Pengendara Motor

“Ngobrol sih ngobrol, tapi enggak di tikungan juga kaleeeee….”
Nggak ada yang ngelarang kamu untuk PDKT dengan pujaan hatimu. Pun sekalipun di jalan. Yak. Di jalan raya. Jalanan beraspal yang kerap dilalui kendaraan bermotor. Nggak salah sama sekali.  Selama jalan itu punya nenek moyang kamu.
Ngobrol di tengah jalan, sudah biasa saya jumpai di jalan seputaran Banda Aceh ini. Saya pun sudah enggak ngambil pusing lagi. Bunyiin klakson untuk orang yang sedang berada di awang-awang seperti itu hanya akan membuat mood saya tambah kacau. Jadi saya diamkan saja. Saya lebih milih melaju dan menyalip jalan mereka.
Itu kalau di jalan rata dan lurus. Tapi kalau di tikungan? Tikungannya nanjak lagi!
Pengen saya tendang. Kali-kali aja nyungsep ke sungai.

“Nelpon sih nelpon, tapi jangan nyiput gini juga kaleeee….”
Nyetir mobil sambil nelpon lalu mengambil jalur kiri jalan dengan kecepatan nggak lebih dari siput ngesot bikin kamu jengah gak sebagai pengendara motor? Mau nyalip ngambil kanan, banyak mobil-mobil lain yang berlaga dengan kecepatan tinggi. Jam kuliah sudah lewat dari jadwal. Diklakson? Bah. Berharap aja dia bakal ngerti. Kalau udah gini? Doain aja dia masuk surga setelah kamu.
Punya mobil. Punya bensin. Punya hape. Punya pulsa. Tapi jalan bukan punya kamu.

“Dikit lagi sih dikit lagi, tapi enggak seheboh itu juga kaleeeee….”
Kamu ngetem di lampu merah. Kenapa kamu ngetem? Ya karena lampunya sedang merah. Kamu ada di garis depan. Artinya orang-orang di belakang baru bisa jalan kalau kamu sudah jalan. Nggak sabaran atau mulai menghargai waktu, saya juga belum jelas soal ini. Ketika lampu merah tinggal 5 detik lagi, mulailah orang-orang di belakang kamu membunyikan klakson seperti kesurupan. Membabi-buta. Kenapa enggak ngepet aja sekalian? Lumayan, dapet duit. Semuanya pada nglaksonin kamu. Maksudnya sih nyuruh kamu siap-siap, jangan bengong karena lampu sebentar lagi hijau. Kamu malah murka. “Memangnya saya buta warna?!”, menghujat dalam hati.
Lalu lampu berganti hijau dan lenguhan klakson semakin panjang.

“Bengong sih bengong, tapi jangan nyangak gitu juga kaleeeee…”
Ini kebalikan dari case di atas. Kali ini kamu berada di baris yang bukan pertama pokoknya.  Di depan kamu ada nangkring seorang ibu-ibu berseragam Visit Aceh 2011 itu. Dia ngetem dengan jumawanya. Asik aja sendiri. Ketika lampu merah berganti menjadi hijau, dia masih juga ngetem dengan segala kenikmatan dunia. Sudah berlalu 5 detik, masih juga ngetem dengan innocent-nya. Mau kamu klakson, emak-emak. Nggak kamu klakson, ikutan keliatan bodoh.
Dilema.
Akhirnya kamu klakson juga. Emak-emak juga manusia. Sama kayak kamu. Pukul rata aja.

“Belok sih belok, tapi enggak dadakan gitu juga kaleeee….”
Kamu lagi santai-santainya menikmati perjalanan singkat kamu, ngambil jalur sebelah kiri lagi. Memang bermaksud berleha-leha. Tapi tiba-tiba ada yang nyalip jalan kamu, tanpa aba-aba, tanpa lampu sen, dia main belok aja, menukik lagi beloknya. Persis Valentino Rossi nyalip. Bujug buset daaaaah…. Ngerem dadakan + makian dengan suara yang enggak gede-gede amat. Kamu melengos. Dan ngelanjutin perjalanan kamu yang udah kehilangan esensinya.
Nasib.

“Ngeludah sih ngeludah, tapi liat tempat juga kaleeee…”
Ngeeeeeng….kamu ngebut ni ceritanya. Ngeeeeeeng….di depan kamu ada seorang bapak yang melaju dengan kecepatan standar. Ngeeeeeeeng…dikit lagi kamu mau lewatin dia. Ngeeeeeng…pas ngelewatin dia, ngeeeeeng….cuih! Kamu diludahin. Bapak itu ngeludah sembarangan. Nyangkut di tangan kamu. Bah. Merinding jijay kamu. Geli. Tapi yang lebih nelangsanya lagi, si Bapak ngelirik sebentar ke kamu. Dan….you know what? Dia melengos pergi. Feeling no guilty at all. Ouwemjeeeeeh….ludahnya masih nangkring di tangan kamu.
Ngenes.

“Ngebut sih ngebut, tapi liat jatah siapa juga kaleeeee…..”
Sudah 92 detik kamu menunggu lampu berganti hijau. Matahari teriknya na’udzubillah. Laper juga karena sudah waktunya makan siang. Haus juga karena panas yang membara. Tapi kamu tetap sabar menunggu lampu hingga berganti hijau. Akhirnya detik-detik itu datang juga. Kamu bernafas lega. Dengan semangat berkobar-kobar dan rasa syukur yang tumpah-ruah, kamu melajukan motor kamu. Namun, tiba-tiba, apa? Sebuah kendaraan dari jalur lain yang jatah lampu hijaunya baru saja habis memotong jalan kamu sehingga kamu mengerem mendadak. Kaget. Jantung kamu cekat-cekot nyaris copot. Rasa-rasanya tadi kamu udah nggak selamat lagi. Tarikan gas selanjutnya, tangan kamu gemetaran.

“Buru-buru sih buru-buru, tapi jangan egois juga kaleeee….”
Wah, tinggal 6 detik lagi! Kamu liat dari kejauhan. Kamu tancap gas. Berharap sempet ketiban lampu ijo yang bentar lagi berganti jadi kuning terus jadi merah. Namun apa hendak dikata, saat sedikiiiiit lagi mau berhasil, lampu sudah berganti menjadi merah. Mendadak kamu ngerem. Soalnya kamu tahu itu sudah bukan hak kamu lagi untuk jalan. Tapi sepertinya cuma kamu yang ngerti tentang hak dan kewajiban demi terciptanya perdamaian dan keselarasan antarumat manusia. Nyatanya, pria bermobil sedan di belakang kamu membunyikan klaksonnya segede sirine buka puasa. Dia kesel karena kamu berhenti. Seharusnya kamu masih melaju dan mempertaruhkan nyawa kamu demi dia bisa lewat juga. Dia mah enak di dalam mobil, palingan kalo nabrak, mobilnya yang bocel-bocel. Nah, ane? Naik motor. Dihantam dari sono, berceceran ane kemana-mana.
Di lain situasi, kamu direpetin sama seorang ibu atau bapak karena ngetem tepat waktu. WDF kan?
Atau pas kamu ngetem, kamu ditabrak dari belakang oleh seorang gadis yang ngebut karena ngejer lampu hijau yang mau abis. Ciiiit….dug! Spakbor belakangan kamu patah. Iyalah, WDF aja. Lain bisa apa?



Itulah balada saya sebagai pengendaran motor dan pemakai jalan di Banda Aceh selama ini. Gimana dengan kamu?  

P.S: Keinget balado...jadi laper.

Jodohkan Aku, Tapi

Silahkan jodohkan aku, tapi jangan memakai trik-trik jaman baheula seperti mengenalkanku saat Hari Raya tiba atau di acara sunatan seorang sepupu. Alih-alih silaturrahmi, malah menyodorkan sebuah wajah asing sambil berkata: “Kenalkan, ini Saipul, anaknya Wawak yang tinggal di sebelah rumah Bibi. Sudah mapan lho…PNS lagi.”
JANGAN

Silahkan jodohkan aku, tapi jangan menggunakan cara-cara licik seperti menyuruh membuat minuman untuk tamu yang sedang bersilaturrahmi. Harus aku yang menyuguhkan. Alih-alih supaya tahu cara membuat teh dan bertata krama, sebelum aku minta undur diri setelah meletakkan gelas-gelas di atas meja, malah berkata: “Duduk sini dulu, ini sahabatnya Tante lho, namanya Tante Margareth. Ini anak laki-lakinya, semata wayang, namanya Jamal. Shaleh, kalem, trus berbakti pada orang tua. Juga penyayang binatang.”
JANGAN

Silahkan jodohkan aku, tapi jangan ngejeg alias ngebet alias maksa dengan menelpon sehari entah berapa kali hanya untuk meyakinkan bahwa calon yang dicalonkan untuk menjadi calon adalah pria terbaik hasil seleksi ketat dan pria final yang paling pantas untuk dicalonkan sebagai calon yang layak menghabiskan sisa hidupku bersamanya. Alih-alih tertarik, aku malah semakin muak dan bosan mendengar hal yang itu-itu saja. Jangan salahkan aku jika besok nomorku sudah tidak aktif karena ponsel sudah kujual.
JANGAN

Silahkan jodohkan aku, tapi jangan memakai cara-cara kuno seperti langsung memperlihatkan fotoku kepadanya dan Ibundanya. Lalu melakukan hal sebaliknya, memperlihatkan fotonya kepadaku dengan maksud aku akan tertarik karena ya, dia memang rupawan. Tinggi, putih, ganteng, dan mapan. Alih-alih berharap aku mengucapkan “Ya, aku mau.”, yang ada malah aku semakin memproteksi diri agar tidak lagi mendengar apapun tentangnya.
JANGAN

Silahkan jodohkan aku, tapi jangan memakai trik-trik licik seperti menghubungkan segala macam obrolan ke arah sana. Bermaksud agar tuli kuping ini mendengarnya sehingga aku pasrah. “Belajar masak dari sekarang. Taun depan sudah jadi istri orang.” Alih-alih aku menurut, yang ada malah semakin ketakutan dan mati rasa.
JANGAN

Silahkan jodohkan aku, tapi kumohon gunakan cara-cara pintar nan keren seperti mengatur ketidaksengajaan yang sebenarnya disengajakan. Tabrakan kecil itu bukanlah apa selain awal pertemuan yang tidak diduga, perkenalan itu bukanlah apa selain hanya sekedar bertegur sapa walau mulai ada sedikit asa, dan obrolan yang mulai seru dan sering itu bukanlah apa selain ketertarikan antara aku dan dia, dan percikan-percikan kecil itu bukanlah apa selain sadar bahwa telah ada rasa di dada. Lalu secara disengaja namun seperti tidak disengaja, terbongkarlah bahwa ternyata dia anaknya tetangga tante yang sudah mapan nan rupawan. Alih-alih mengatakan bahwa ini sebenarnya telah diatur, ucapan syukur pasti akan terlantun dari banyak mulut bijak para orang-orang tua.
Kalau sudah begini, maka, silahkan jodohkan aku.
SEGERA


Alone Is A Choice

Malam yang larut. Saya sedang mengobrol via facebook chat dengan salah seorang teman. Awal obrolan kami adalah saya yang ingin menyampaikan bahwa sore kemarin saya bermimpi teman saya itu akhirnya punya pacar lagi. Pacarnya cantik. Ya. Saya tahu ketidakpentingan mimpi saya itu untuk diceritakan. Hanya ingin membuka obrolan dengan orang lama yang sudah sangat-amat lama tidak saya dengar kabarnya langsung, kecuali dari status-statusnya.

Well, tanpa disadari, obrolan kami berlanjut ke topik yang lebih serius. Yaitu tentang kesendirian. Teman saya itu sudah lumayan lama menjomblo. Dia berkata hidupnya jauh lebih mudah sekarang saat ia sendirian. Setidaknya dia tidak perlu memikirkan pihak lain jika ingin mengambil sebuah keputusan. Cukup melibatkan dirinya saja. Dan dia menikmati itu.

Namun, setiap orang butuh partner. Dia berujar. Tidak menampik bahwa sebenarnya ia ingin punya seseorang. Hanya saja waktu belum memungkinkan dan Tuhan belum mengizinkan. Saya masih ingat saat kuliah dulu, sebelum ia bekerja, tidak pernah sekalipun ia membahas mengenai rencana dan masa depannya. Just let the life flows to where it has to. Tapi sekarang ia punya rencana, punya keinginan untuk hidupnya di masa depan. Maka, ia butuh seseorang yang bisa mengikuti jalannya, menyejajarkan langkahnya.

Hanya saja, sosok itu belum ia temukan. Maka, ia mencoba bertahan dalam kesendirian. Sembari terus berharap, somewhere, somewhen sosok itu akan muncul dan kesendirian itu akan segera berakhir.

“Hanya itu alasan yang kupunya untuk bertahan seperti ini.”

Saya tersenyum membaca sederet pernyataannya itu. Senyum simpul. Hanya saja dia tidak mungkin bisa melihat.

“Kamu?”

Saat ia bertanya itu, saya tahu sudah waktunya pembahasan mengenai kesendirian ini ditujukan ke saya.

Saya tersenyum. Sekali lagi.

Motif untuk tetap mempertahankan kesendirian berbeda-beda bagi setiap orang. Namun lupakan soal motif yang beragam itu. Toh, konklusi akhirnya tetaplah sebuah kesendirian. Mau beralibi sedemikian rupapun tetap saja sendirian. Itu nyata. Memangnya siapa yang peduli dengan alasan kenapa kesendirian menjadi sebuah pilihan saat melihat kamu sendirian saja di tengah keramaian? Tidak ada. Mereka cenderung tidak peduli dan melempar pandangan kasihan penuh keibaan. Seakan orang yang sendirian saja itu memang tidak punya pilihan lain di hidupnya. Seakan kamu memang dikutuk untuk selalu sendirian. Seakan  mereka sudah hebat karena selalu berkoloni.

Alasan saya sendirian? Cukup simple saja sebenarnya. This loneliness makes me addicted. Percaya atau tidak, itu terserah kalian. Tapi kesendirian itu memang candu. Dan saya belum bisa lepas.

Saya selalu makan bakso di warung bakso yang sama dan di setiap saya datang, si Abang bakso selalu menanyakan satu pertanyaan yang sama:
“Temennya mana?”

For God sake, segitu hinanyakah menikmati semangkuk bakso sendirian? Saya punya uang, punya waktu, punya kesempatan untuk makan bakso. Maka, saya makan. Ada atau tanpa teman, semangkuk bakso itu tetaplah terasa bakso. Hanya saja minus obrolan. Hanya itu. Mungkin orang-orang di sekitar akan menatap heran dan nanar melihat seorang perempuan makan bakso sendirian saja. Namun, jika untuk hal sesepele makan bakso pun harus bersama teman, sedangkan waktu yang ia punya belum tentu sama dengan yang saya punya, apa iya harus mengorbankan keinginan saya untuk makan bakso lantaran tidak ada teman yang bisa menemani saya?

Manusia memang diciptakan untuk berpasang-pasangan. Saya tidak sedang mencoba mematahkan teori itu. Saya belum butuh, mungkin itu alasan bodohnya. Memang nyata hidup saya baik-baik saja tidak bisa saya pungkiri menjadi salah satu alasan kuat kenapa kesendirian ini belum siap untuk saya akhiri. Dan keinginan untuk punya seseorang? Saya tidak munafik, kadang rasa itu memang muncul. Namun, saya berpikir logis. Butuh seseorang, hanya di saat-saat tertentu, sangatlah tidak bijak untuk mulai menjalin hubungan dengan orang lain. Menurut saya.

Bukannya saya tidak pernah mencoba untuk lepas dari candu ini. Pernah. Namun dalam hitungan hari saya sudah bosan dan menginginkan kesendirian saya kembali. Nyata bahwa saya hanya belum rela melepaskan apa yang saya miliki sekarang. Yaitu kebebasan.
Itu alasan saya. Terkesan naif? Silahkan berpikir demikian. Namun yang jelas, saya memilih kesendirian bukan karena tidak tersedia pilihan lain.

Belum menemukan sosok yang bisa menjadikan alasan untuk mengakhiri kesendirian membuat teman saya terus mempertahankan kesendiriannya. Itu pilihan hidupnya.

Belum merasa perlu untuk mengakhiri kesendirian ini membuat saya terus mempertahankan kesendirian saya. Ini pilihan hidup saya.

Somewhere and somewhen, saya yakin saya akan membutuhkan, menemukan, orang yang bisa membuat saya merasa bahwa kesendirian adalah sebuah aib. Nanti. Bukan sekarang. Untuk sekarang biarlah saya menikmati kesendirian ini sendirian saja.
"Deciding to be alone is a choice that you have to choose among so many options in your life. Not the last option you have."